Kesalahan-kesalahan
Utama dalam Memandang Marx dan Marxisme
Kritik
terhadap Kritik terhadap Marxisme
Pendahuluan
Satu ketidakadilan utama yang sering dibuat orang Indonesia terhadap
Marx dan pemikiran-pemikirannnya adalah bahwa orang Indonesia amat gemar
mengritik Marx tanpa membaca sendiri
karya-karya Marx secara langsung.
Ini merupakan ketidakadilan yang luar biasa karena karya-karya Marx
menuntut tiga hal untuk dapat dipahami: (1) Penelaahan terhadap literaturnya
yang ekstensif, artinya membaca sendiri minimal sebagian besar karya-karyanya;
(2) Pemahaman akan situasi kesejarahan yang menjadi latar belakang penulisan
karya-karya itu, yang berarti pemahaman akan sejarah revolusi-revolusi Eropa
dan sejarah gerakan sosialis itu sendiri; (3) Praktek langsung di lapangan, di
mana konsepsi-konsepsi Marx diletakkan pada dimensi kemasyarakatannya seperti
yang diinginkannya – pada praksisnya. Tanpa ketiga komponen ini dilakukan
secara berimbang, mustahil seseorang
akan mampu memahami Marxisme secara utuh.
Hal yang sama berlaku pula bagi pemikir-pemikir Marxis yang menyusul
Marx pada masa-masa selanjutnya.
Maka, kita harus heran kalau seseorang mengritik Marx (atau Trotsky,
seperti yang termuat dalam Driyarkara
Thn. XXIV no. 4) dengan mengandalkan karya Kolakowsky sebagai sumber – bahkan
tanpa membaca cukup lengkap karya-karya asli dari penulis yang dikritiknya.
Tentu, penulis semacam itu akan memahami Kolakowsky, bukan memahami Marx (atau
Trotsky).
Tulisan ini berusaha melihat bagaimana para teoritisi (yang harus sekaligus
berarti praktisi) Marxis abad keduapuluh menempatkan Marxisme pada
praktek-praktek mereka.
Kesalahan pertama: distorsi terhadap perkembangan pemikiran Karl Marx secara umum
Setiap
orang berkembang, baik secara fisik maupun mental. Ini adalah fakta yang
empirik kita dapati sehari-hari di sekitar kita. Demikian pula Marx.
Setiap
perkembangan yang kita alami, sekali-kali, tidaklah mungkin datang dari langit.
Semua hal yang kita alami merupakan kelanjutan dan perkembangan dari
peristiwa-peristiwa yang telah kita alami di masa lalu. Pada saat ini kita
sedang merasakan akibat dari keputusan-keputusan kita di masa lalu, dan
keputusan-keputusan kita di masa ini akan berpengaruh besar (kalau bukan
menentukan) untuk keadaan kita di masa datang. Kita membuat
kesalahan-kesalahan, kita mengalami keterdesakan untuk mengambil keputusan
padahal kita belum siap, atau kita merasa siap padahal kita belum tahu apa yang
sebenarnya dibutuhkan untuk menjadi siap. Semua itu dialami oleh Marx.
Satu
kesalahan utama yang dibuat (hampir) semua orang yang menjatuhkan vonis
'bersalah' terhadap Marx adalah memandang Marx secara sepotong-sepotong. Ada
orang yang membaca filsafatnya saja, dengan mengabaikan kesimpulan-kesimpulan
yang dituliskannya berdasarkan pengalaman praktek politiknya. Ada orang yang
mengambil hanya satu bagian dari perjalanan sejarah hidup dan perjuangan Marx,
lalu menarik kesimpulan dari sepotong data itu – membuat kasus menjadi
kebenaran umum. Ada pula orang yang, karena meniru mentah-mentah taktik-taktik
Marx tanpa mempelajari bangunan filsafat di belakangnya, kemudian kecewa dan
menyalahkan seluruh bangunan teoritik dan filsafat Marx.
Sepanjang
hidupnya, Marx membuat banyak kesalahan. Salah satunya yang paling terkenal
(dan satu-satunya yang diakuinya secara terbuka) adalah kesalahannya dalam
memandang peran negara dalam kediktatoran proletariat yang akan datang. Apa
yang diuraikannya dalam Manifesto Komunis (1848) kemudian dibantahnya sendiri
setelah pengalaman Komune Paris (1871) – seperti yang akan kita lihat di bawah.
Selain itu, walaupun ia tidak mengakuinya secara eksplisit, ia menulis satu
kritik-diri yang tajam terhadap taktik-taktik yang diambilnya bersama Engels
dalam Revolusi Jerman 1848, yaitu dalam Addresses
to Central Committee of Communist League di bulan Maret dan Juni 1850.
Apa
yang dituliskan Marx, Anda boleh mengambil tulisan mana saja, bukanlah kata
mati. Semua dapat diperdebatkan dan diuji dalam praktek. Bahkan, satu-satunya
buah pemikirannya yang sampai saat ini masih tak tergoyahkan, pandangan
materialis terhadap dunia (die
materialistisch Weltanschauung), Materialisme yang Dialektik dan Historis,
masih akan mengalami guncangan hebat ketika kelak The Grand Unifying Theory – teori yang menyatukan teori gravitasi, weak force, strong force dan elektromagnetik – telah ditemukan orang, yang
berarti orang akan memahami hakikat dari konsep kurvatur ruang-waktu.
Sekalipun
demikian, walau The Grand Unifying Theory
itu sendiri telah ditemukan, kemungkinan besar teori itu hanya akan dapat dipraktekkan
dalam keadaan pemadatan yang luar biasa, yang menyatukan seluruh energi dan
materi alam semesta ini menjadi sebesar bola golf saja. Itu bukanlah hal yang
terjadi sehari-hari. Maka, sama seperti teori Newton masih cukup untuk
menjelaskan kejadian sehari-hari, MDH masih akan berlaku sebagai kebenaran umum
untuk menjelaskan kejadian-kejadian sosial – termasuk Marx dan perkembangan
pemikirannya.
Tak
ada jalan lain untuk memahami Marxisme kecuali dengan menerapkan MDH itu
sendiri untuk menelaahnya. Segala keputusan yang diambil seorang Marx (atau,
dalam pengertian ini, setiap penganut Marxisme) harus dibedah dengan melihat
latar belakang sejarah yang mendasari pengambilan keputusan-keputusan tertentu
di saat-saat tertentu.
Tulisan-tulisan
dalam Driyarkara edisi no. 4 Thn.
XXIV, terutama yang mencoba mendeskripsikan Trotsky dan Bloch, terjebak dalam
kesalahan mendasar ini. Walaupun kesalahan ini masih mengandung kesalahan
tingkat dua, yaitu tidak mempelajari karya-karya asli dari penulis yang hendak
dikritik. Kritik yang dituliskan di sana hanyalah merupakan ringkasan (summary) dari kesalahan-kesalahan
Kolakowsky dalam melihat pemikiran-pemikiran Marxis. Akibatnya, kita tidak
dapat menangkap konteks dari penulisan teori-teori itu. Bahkan, tidak satupun
kita melihat perbandingan antara pemikiran tokoh-tokoh itu dengan apa yang
dipikirkan oleh Marx dalam konteksnya sendiri. Kesalahan ini masih diperbesar
lagi, walau ini juga kesalahan turunan dari Kolakowsky, dengan
manipulasi-manipulasi data secara terang-terangan – karena setiap orang yang
cukup kritis akan segera dapat mengajukan uji silang terhadap data-data
Kolakowsky. Contohnya adalah perujukan terhadap karya Trotsky, In Defense of Terrorism. Trotsky ada
menulis pamflet tebal, In Defense of
October, yang berisi telaahnya tentang hakikat Negara Uni Sovyet pasca
naiknya Stalinisme, dan Why Marxists
Oppose Individual Terrorism?, di mana ia membantai teori kaum Narodnik yang
mengandalkan unit elit bersenjata sebagai garda depan revolusi. Tapi saya tidak
berhasil menemukan buku berjudul termaksud oleh penulis.[1]
Mungkinkah ada teks Trotsky yang selama ini tersembunyi dan hanya Kolakowsky
yang mengetahuinya sampai sekarang?
Kesalahan kedua: distorsi pandangan tentang negara
Apa yang paling ditakuti orang dari konsepsi-konsepsi Marx? Mungkin
jawabannya tercermin dalam Driyarkara
No. 4 Thn. XXIV yang telah disinggung di atas: kediktatoran proletariat. Karena
konsepsi tegas tentang kediktatoran ini, Marx kemudian dicap
"otoriter" (oleh Foucault) dan para pemikir Marxis utama (seperti
Lenin dan Trotsky) dicap "membenci demokrasi", lalu pandangan para
pemikir pembaharu Marxis dicap sebagai "berhadapan dengan konsep-konsep
Marx".
Tidak sesederhana itu. Karena, di antara banyak konsepsi Marx, konsepsi
tentang "kediktatoran kelas" merupakan konsepsi yang paling jarang
dipahami tuntas.
Sebelum kita melihat konsepsi "kediktatoran proletariat" itu,
kita harus terlebih dahulu melihat konsepsi Marx tentang negara.
Pandangan Marx yang matang tentang negara dapat dilihat dalam karyanya Civil War in France.[2]
Walaupun ia telah memiliki satu konsepsi awal tentang negara, seperti yang
dikemukakannya dalam The German Ideology,
Melalui
emansipasi kepemilikan pribadi dari komunitas, Negara telah menjadi suatu badan
yang terpisah, berdiri di samping dan di luar masyarakat sipil; tapi ia
tidaklah lebih sebagai bentuk organisasi yang perlu diadopsi oleh kaum borjuasi
baik untuk keperluan internal maupun eksternal; untuk bersama-sama menjamin
kepemilikan dan kepentingan mereka.
…
Karena Negara adalah bentuk di mana
individu-individu kelas penguasa menyatakan kepentingan bersama mereka, dan di
mana seluruh masyarakat sipil dalam satu epos tertentu disatukan, selanjutnya
bahwa Negara menjadi perantara dalam pembentukan semua lembaga bersama dan bahwa
lembaga-lembaga itu menerima satu platform politik. Dari sanalah timbul ilusi
bahwa hukum didasarkan pada kehendak, bahkan pada kehendak yang dipisahkan dari
basis riilnya – pada kehendak bebas. Mirip dengan itu, keadilanpun direduksi
pada hukum-hukum yang diberlakukan.[3]
dan juga dalam
Manifesto Komunis,
Kita
telah melihat di atas bahwa langkah pertama dalam revolusi oleh kelas pekerja
adalah untuk menaikkan kaum proletariat ke kedudukan kelas berkuasa untuk
memenangkan pertempuran demi demokrasi.
Kaum proletariat akan menggunakan supremasi
politiknya untuk merebut, tahap demi tahap, semua kapital dari tangan borjuasi,
untuk memusatkan semua alat produksi di tangan negara, yaitu, proletariat yang
terorganisir sebagai kelas berkuasa; dan untuk meningkatkan kekuatan-kekuatan
produktif total secepat yang dimungkinkan.[4]
namun konsepsi itu masih agak mengambang. Satu-satunya rujukan mengenai
negara adalah bahwa negara adalah pengorganisiran satu kelas untuk berkuasa.
Konsepsi Marx tentang negara baru terbentuk secara utuh setelah ia terlibat
dalam revolusi-revolusi di tahun 1848 (Revolusi Februari di Perancis dan
Revolusi Juni di Jerman). Dan pemahaman itu menjadi matang dan bulat setelah
Komune Paris 1871.[5]
Bandingkanlah rumusan yang dituliskan dalam Manifesto itu dengan yang ini:
Dekrit
pertama dari Komune, dengan demikian, adalah penindasan terhadap tentara
reguler, dan menggantikannya dengan rakyat yang dipersenjatai.
Setelah menyingkirkan tentara reguler dan polisi –
unsur kekuatan fisik dari pemerintah lama – Komune dengan segera mematahkan
kekuatan represi spiritual, "kekuatan para pendeta", dengan
pembubaran dan pelucutan gereja dari keeksklusifan lembaganya. Para pendeta
dikirim kembali pada perenungan kehidupan pribadi, untuk menyantap kebijaksanaan
dari orang-orang kudus dalam upaya mereka meniru para pendahulu mereka, para
rasul. Seluruh lembaga pendidikan dibuka secara bebas untuk semua orang, dan
sekaligus dibersihkan dari semua campur tangan gereja dan negara. Dengan
demikian, bukan hanya pendidikan dibuat agar dapat dimasuki semua orang, tapi
ilmu pengetahuan itu sendiri dibebaskan dari belenggu yang telah diikatkan
kepadanya oleh prasangka kelas dan kekuatan pemerintah.[6]
Pelajaran dari Komune
Paris ini menyempurnakan konsepsi Marx tentang negara dan, dengan demikian,
menyempurnakan juga konsepsinya tentang revolusi dan kediktatoran proletariat.
Maka, negara dalam pandangan Marx
adalah tentara (kekuatan fisik), hukum dan birokrasi (kekuatan kelembagaan) dan
agama (kekuatan spiritual) yang berdiri terpisah
dari massa, menguasai massa dan bukannya sebagai perwujudan dari
kepentingan massa.[7]
Secara konsepsional (walau
sesungguhnya bukti-bukti empirik tentang hal ini sangatlah berlimpah),
keberadaan hal semacam ini hanya dapat terjadi jika masyarakat terbelah menjadi
bagian-bagian yang kepentingannya saling bertentangan satu sama lain. Dan,
pertentangan itu harus sangat mendasar sehingga diperlukan badan-badan permanen
untuk mencegah pertentangan itu meledak dan menghancurkan seluruh tatanan yang
ada. Pertentangan tak terdamaikan macam itu hanya ada dalam pertentangan kelas:
antara mereka yang dieksploitasi dengan mereka yang mengeksploitasi. Negara,
sebagai badan yang berdiri terpisah dari masyarakat, hanya dapat mempertahankan
keberadaannya jika ia melayani kelas yang berkuasa –apakah itu kelas yang
menghisap atau kelas yang dihisap. Dan, selama ini, bukti-bukti empirik
menunjukkan bahwa negara melayani kepentingan kaum yang menghisap. Sayang
sekali, bukan jatah tulisan ini untuk mengajukan bukti-bukti tersebut, yang
dapat menjadi satu buku tersendiri jika diajukan secara lengkap.
Dengan demikian, Negara akan
melenyap jika senjata, hukum dan birokrasi dan agama kembali ke tengah massa
dan menjadi perwakilan dan pembela sejati dari kepentingan rakyat pekerja.
Kesalahan ketiga: distorsi terhadap konsepsi kediktatoran proletariat
Melanjutkan telaah kita tentang
negara, kita harus melihat pula konsepsi kedikatoran proletariat.
Maka, revolusi, yang merupakan
perebutan terhadap negara, berarti perebutan penguasaan terhadap tentara,
terhadap hukum dan birokrasi dan terhadap agama. Revolusi proletar memiliki
satu dimensi lain, yang lebih tinggi daripada revolusi-revolusi sebelumnya,
yaitu pengembalian kendali atas senjata, atas hukum dan birokrasi dan atas agama
ke tangan massa rakyat. Kalau tadinya senjata, hukum dan birokrasi dan agama
dikendalikan oleh segelintir orang yang memang khusus bertugas (secara
eksklusif) untuk itu, setelah revolusi proletariat massa rakyatlah yang
mengendalikannya. Apa yang disebut "demokrasi partisipatoris" yang
sejati sesungguhnya tidak lain daripada "kediktatoran proletariat":
Belakangan ini, kaum sosial-demokratik yang
terbelakang kembali dipenuhi rasa takut pada istilah: Kediktatoran Proletariat.
Baik, tuan-tuan, apakah kalian ingin tahu seperti apa kediktatoran ini
macamnya? Lihatlah pada Komune Paris. Seperti itulah Kediktatoran Proletariat.[8]
Baiklah, tuan-tuan, seperti apa
macamnya Komune Paris itu?
Ini ada kutipan kecil sekedar untuk appetizer, sebelum Anda membaca sendiri Civil War in France. Sungguh, sebelum
membaca sendiri karya itu, Anda tidak akan pernah mendapatkan gambaran yang
lumayan utuh mengenai konsepsi Marx tentang negara.
Komune
dibentuk dari utusan-utusan dewan distrik yang dipilih melalui hak pilih umum
di segala tingkatan kota, memangku jabatan dan dapat dicabut mandatnya dalam
jangka yang pendek. Mayoritas anggotanya secara alami adalah kaum pekerja, atau
wakil yang diakui oleh kaum pekerja. Komune dijadikan satu badan pekerja,
bukannya badan parlementer, sekaligus merupakan badan eksekutif dan legislatif.
Bukannya terus menjadi agen dari Pemerintahan Sentral, polisi langsung dilucuti
dari atribut politiknya, dan diubah menjadi agen yang bertanggung jawab pada,
dan mandatnya dapat dicabut sewaktu-waktu oleh, Komune. Demikian pula dengan
semua pejabat dari cabang-cabang administratif lain. Dari mulai anggota Komune
ke bawah, pelayanan masyarakat harus dilakukan dengan penggajian yang setara
dengan upah seorang pekerja. Kelompok kepentingan dan tunjangan perwakilan dari
para pejabat tinggi negara hilang bersamaan dengan hilangnya para pejabat
tinggi negara itu. Fungsi-fungsi publik berhenti menjadi milik pribadi dari
alat-alat Pemerintahan Pusat. Bukan hanya administrasi daerah, tapi seluruh
inisiatif yang sampai saat ini berada di tangan negara dipindahkan ke tangan
Komune.[9]
Dalam satu sketsa organisasi nasional, yang Komune
tidak memiliki waktu untuk mengembangkannya, mereka menyatakan dengan tegas
bahwa Komune akan dijadikan bentuk politik dari unit desa yang terkecil, dan
bahwa di daerah pedesaan tentara reguler akan digantikan oleh milisia nasional,
dengan satu masa jabatan yang amat, sangat pendek. Komunitas-komunitas pedesaan
di setiap distrik akan menangani persoalan-persoalan bersama mereka dengan sebuah
dewan yang terdiri atas utusan-utusan yang dikirim ke satu kota sentral, dan
dewan distrik ini kemudian akan mengirim utusan-utusan ke Delegasi Nasional di
Paris, tiap utusan dapat digantikan sewaktu-waktu dan terikat pada mandat
imperatif (instruksi formal) dari para pemilihnya. Beberapa fungsi penting yang
tersisa dari pemerintahan pusat tidak akan diambil alih, seperti yang semula
keliru diniatkan, tapi akan dibubarkan oleh Komune dan agen-agen lainnya yang
bertanggung jawab kepadanya.[10]
Uraian yang sederhana
ini mengandung prinsip-prinsip dasar yang rumit dari bentuk kediktatoran
proletariat, seperti yang disarikan Marx dari Komune Paris:
1.
Struktur
dasar dari kediktatoran proletariat ini adalah Dewan Pekerja yang
anggota-anggotanya dipilih oleh kelas pekerja itu sendiri di berbagai tingkatan
pengorganisiran. Mirip dengan RT/RW di sini, yang dibebaskan dari kendali
pemerintah pusat, diperluas dan dinaikkan tingkatannya ke tingkatan nasional
sebagai penguasa sejati negara itu sendiri. Anggota dewan di tingkatan terbawah
ini, tentu saja, adalah seluruh rakyat di wilayah yang menjadi unit
administrasi terkecil di negeri tersebut. Praktisnya: dewan RT memilih utusan
untuk dikirim ke dewan RW, dewan RW memutuskan siapa yang akan dikirim ke dewan
kelurahan, dewan kelurahan memutuskan siapa yang akan menjadi anggota dewan
kecamatan, dari kecamatan ke kabupaten, dari kabupaten ke propinsi, dan dari
propinsi ke tingkatan nasional. Pemilu sepanjang tahun di tingkatan RT.
2.
Tiap
utusan tidak memiliki hak politik atau ekonomi yang istimewa dari anggota kelas
pekerja yang lain. Ia hanya boneka dari dewan yang mengutusnya. Gajinya pun
setara dengan pekerja pabrik. Dan karena ia hanya boneka maka, selain masa
jabatannya sangat pendek, ia dapat ditarik sewaktu-waktu oleh dewan yang
mengutusnya.
3.
Sebagai
konsekuensi dari point (1) dan (2), dewan di tingkat terbawah harus rutin
bertemu, dalam interval yang sangat pendek, untuk terus memasok
keputusan-keputusan yang akan diperjuangkan oleh utusan-utusan mereka di
tingkatan yang lebih tinggi. Dewan di tingkatan terbawah memiliki tugas yang
terberat karena mereka harus mengambil keputusan sendiri mengenai persoalan
lokalnya tapi juga membicarakan tentang persoalan distrik dan nasional karena
harus memberi instruksi pada utusan-utusan yang mereka kirim ke tingkatan yang
lebih tinggi.
4.
Keputusan
dari dewan yang lebih tinggi tingkatannya, dengan demikian, akan diambil secara
demokratis karena keanggotaan dewan itu diambil dari utusan dewan-dewan di
bawahnya. Karena keputusan diambil secara demokratis, pelaksanaannya secara
sentral akan jauh lebih mudah dan tidak membutuhkan kekuatan pemaksa. Inilah
sentralisme-demokratik, satu sistem kenegaraan yang revolusioner, yang
membutuhkan penghancuran cara pandang lama terhadap demokrasi liberal yang
hanya menguntungkan kelas penindas yang minoritas.
5.
Karena
keputusan-keputusan yang diambil oleh dewan akan dijalankan sendiri oleh mereka
maka badan-badan reguler, seperti pekerja administrasi tetap atau tentara
reguler, tidak diperlukan lagi. Orang-orang yang ditunjuk oleh dewan untuk
mengerjakan tugas administrasi dan keamanan dikenai aturan yang sama dengan
utusan-utusan dewan yang lain: masa kerjanya sangat pendek dan mandatnya dapat
dicabut sewaktu-waktu.
Lalu, di mana
kediktatorannya? Kediktatorannya terletak pada keharusan dewan ini untuk
menangkal semua kemungkinan bangkitnya reaksi dari kaum borjuasi. Selama
kepemilikan pribadi belum terhapuskan oleh proses sejarah yang dipicu melalui
dewan-dewan komune ini, kemungkinan reaksi kaum borjuasi selalu masih ada. Dan
reaksi kaum borjuasi selalu mengambil bentuk yang berdarah.[11]
Karena, sekalipun merupakan upaya mempertahankan diri, hal itu melibatkan
penindasan, yaitu pelarangan terhadap "hak hidup" kapitalisme, maka
jelaslah bahwa komune itu menyusun sebuah kediktatoran. Dalam hal ini Marx
jelas lebih jujur dari semua apologi borjuasi yang menepuk dada bahwa
"demokrasi"-nya adalah demokrasi sejati, padahal suara rakyat hanya
didengar lima tahun sekali.
Jadi, bentuk
Kediktatoran Proletariat adalah dasar bagi proses untuk melenyapnya negara itu
sendiri. Ia mengembalikan alat-alat represi ke tangan rakyat, untuk digunakan
bersama-sama secara demokratis menangkal semua bentuk kontra-revolusi kaum
borjuasi. Setelah kelas borjuasi dapat dihancurkan, yaitu, anggota-anggotanya
dikembalikan menjadi orang-orang yang bekerja, kediktatoran proletariat itu
tidak diperlukan lagi.
Kesalahan keempat: distorsi terhadap konsepsi keniscayaan kemenangan Proletariat
Para
kritikus Marx melihat bahwa kemenangan kaum proletariat dan sosialisme yang
menyusulnya adalah satu utopia –mimpi indah tentang negeri antah-berantah.
Bahkan, lebih jauh lagi, menurut saya terlalu jauh, Franz-Magnis Suseno
menyamakan imaji yang dibangun Marx dengan imaji yang dibangun oleh tradisi
Injil.[12]
Persoalannya
sesungguhnya tidak sesederhana itu. Sekali lagi, kita harus melihat Marx dan
poertumbuhan yang dialaminya sejalan dengan praktek-praktek revolusioner yang
dilancarkannya. Setiap orang yang pernah turun ke jalan, apalagi mereka yang
membangun keseluruhan gerakan demokrasi di Indonesia sejak "jaman
susah" dahulu, tentu memahami bahwa setiap unsur dari gerakan selalu
mengalami perubahan. Perubahan baik dari cara pandang, cara bertindak;
perubahan-perubahan dalam memandang idealisme dan perjuangan, perubahan dalam
memandang dunia. Mereka yang hanya berfilsafat sambil duduk di kursi empuk
tentu tidak akan memahami hal ini; mereka yang membawa filsafatnya ke lapangan
dan mempraktekkannya akan melihat bagaimana kawan menjadi lawan, lawan menjadi
sekutu, aliansi terbentuk dan pecah, kekecewaan dan disilusi menggantung di
cakrawala sementara fajar kemenangan yang diharapkan tak kunjung tiba…. Semua
ini adalah dinamika pergerakan sosial itu sendiri.
Marx
pun mengalaminya. Dan sangatlah naif bagi kita untuk memukul rata
tulisan-tulisan yang dibuat Marx di kala mudanya, ketika semangat membara dari
seorang revolusioner muda masih membakar tulisan-tulisannya, dengan apa yang
dituliskannya setelah ia ditempa dalam tungku api revolusi itu sendiri. Sekali
lagi, untuk memahami Marx, kita tidak dapat mengambil pemikirannya secara
sepotong-sepotong, apalagi jika kemudian dilepaskan dari konteksnya.
Manifesto memang memuat ramalan yang
gagah-berani,
Kejatuhan kaum borjuasi dan kemenangan kaum proletar
adalah sama-sama tak terhindarkan.[13]
Namun
demikian, berbeda dengan banyak filsuf lain yang berpuas diri setelah merasa
menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan kehidupan yang diajukakannya
sendiri, Marx turun langsung ke lapangan untuk mewujudkan apa yang diajarkannya.
Practice what you preach, demikian
sering kita dengar balasan sarkastik dari orang-orang lapangan terhadap para
pengkotbah yang berkotbah sambil berdiri di posisi aman di luar lingkaran
pergolakan.
Marx kemudian
mengalami serangkaian kegagalan yang memaksanya untuk mengadakan kritik diri.
Sama seperti yang dialami kaum budak dan kaum tani-hamba, kaum proletariat juga
menghadapi persoalan pengorganisiran yang buruk, pengkhianatan para pemimpin
yang terbeli oleh bujukan dan uang suap dari para penindasnya,
kesalahan-kesalahan taktik dan strategi di lapangan, dan lain-lain kesulitan
terutama karena mereka tidak memiliki sumberdaya yang cukup untuk membiayai
perjuangan jangka panjang kecuali militansi mereka. Marx pun bukan seorang yang
naif, karena itulah, tulisan-tulisannya pada masa-masa pergolakan revolusioner
juga mencerminkan semangat jamannnya: dipenuhi dengan perdebatan tentang taktik
dan strategi. Ini bukan berarti ia meninggalkan filsafat, seperti yang sering
dituduhkan orang.[14]
Khususnya,
Marx mengalami kesulitan karena ternyata perkembangan kapitalisme tidak
berlangsung merata seperti yang ia bayangkan semula. Baru saja Manifesto ditulis, Marx sudah harus
berhadapan dengan kenyataan bahwa perkembangan kapitalisme di Jerman tidak
berlangsung mulus dan, sebagai akibat dari terbelakangnya kapitalisme Jerman
itu, kaum borjuasinya juga penakut dan terbelakang. Kaum borjuasi Jerman lebih
suka berkongkalikong dengan kaum feudal daripada bekerja sama dengan kaum
proletar untuk menyapu bersih sisa-sisa feudalisme dan absolutisme dari bumi
Jerman.[15]
Ini adalah dasar dari teori "revolusi permanen" dan apa yang kemudian
disebut oleh Lenin sebagai , dan revolutionary
democratic-dictatorship of the proletariat and peasantry.[16]
Tindakan
politik terakhir yang ditempuh Marx adalah upaya mati-matian untuk memahami
kapitalisme itu sendiri. Marx merasa bahwa kegagalannya disebabkan oleh
kekurangpahaman dirinya, dan juga seluruh gerakan buruh, terhadap musuh yang
mereka hadapi. Dari situlah Marx kemudian sadar akan kemampuan kapitalisme
untuk melenting keluar dari krisis. Ia sadar bahwa krisis 1847 bukanlah krisis
umum, melainkan krisis khusus.[17]
Sehingga revolusi 1848 belumlah dapat diharapkan untuk menggulingkan
kapitalisme secara tuntas.
Demikian pula
dengan krisis 1920-an, yang benar-benar nyaris menghancurkan seluruh tatanan
kapitalisme. Kelirulah kalau orang mengira bahwa krisis ini adalah krisis umum
yang akan membawa keniscayaan kemenangan proletariat termaksud. Krisis umum ini
baru akan terjadi ketika kapitalisme mencapai kematangannya, seperti yang telah
dijabarkan dalam Manifesto,
Kaum borjuasi terus-menerus menyingkirkan keadaan
populasi, alat-alat produksi dan kepemilikan yang terpencar-pencar. Ia telah
mengikat seluruh populasi, memusatkan alat-alat produksi, dan
mengkonsentrasikan kepemilikan di tangan segelintir orang. Sebagai akibat
langsungnya adalah pemusatan kekuatan politik. Propinsi-propinsi yang mandiri,
atau setidaknya hanya terhubung secara longgar, dengan kepentingan,
undang-undang, pemerintahan dan sistem pajak yang berbeda-beda, telah ditumpuk
menjadi satu bangsa, dengan satu pemerintahan, satu kitab hukum, satu
kepentingan kelas secara nasional, satu batas negara, dan satu sistem cukai.[18]
Kesalahan
yang dibuat Marx masa itu adalah bahwa, ternyata, bukan di tingkat nasional
konsentrasi itu akan mematangkan kapitalisme, melainkan di tingkat
internasional: Imperialisme.[19]
Dan
saat ini imperialisme sedang berusaha mematangkan dirinya, dengan mendobrak
batas-batas nasional dan mengubah pemerintahan-pemerintahan nasional menjadi
pelayan modal internasional. Bahkan, lebih jauh lagi, modal internasional telah
berusaha untuk melebur negera-negara nasional itu ke dalam satu super-state, blok perdagangan yang
dikendalikan satu pemerintahan pusat, semacam Uni Eropa.[20]
Belum,
tuan-tuan, kita belum mengetahui apakah ramalan Marx meleset atau tidak. Uni
Sovyet dan banyak negara sosialis lainnya gagal. Hal yang biasa dalam
pergulatan hidup di dunia. Revolusi Perancis, setelah berhasil menggulingkan
negara feudalnya, terpaksa mengalami masa-masa berat di bawah Napoleon
Bonaparte, dan kemudian dinasti Bourbon pun berhasil direstorasi oleh
kekuatan-kekuatan monarkis. Demikian pula halnya yang terjadi dengan revolusi
1848, di mana kaum borjuasi gagal menggulingkan negara feudal Jerman. Malah,
penyatuan Jerman sebagai satu negara-bangsa terjadi di bawah Kekaisaran Prusia,
bukan di bawah sebuah republik. Kita toh melihat bahwa kapitalisme tidak
terhindarkan. Eposnya sudah tiba.
Demikian
pula dengan sosialisme. Uni Sovyet memang gagal, kegagalan yang sangat
disayangkan tapi memberi kita semua kesempatan untuk memulai dari nol. Mencari
sebab-sebab kegagalannya dan belajar dari situ. Kita kini tahu bahwa revolusi
proletar adalah hal yang mungkin, kita kini tahu bahwa negara proletar adalah
sesuatu yang mungkin. Pada siklus dialektika yang berikutnya, kita harus
menggali semua pelajaran yang kita dapat dari pengalaman Uni Sovyet dan
menggunakannya demi pembangunan sebuah negeri sosialis yang sejati.
Persoalan
yang sebenarnya lebih mendasar adalah kapitalisme itu sendiri telah membawa
begitu banyak korban dan kesengsaraan di muka bumi ini. Kita melihat banyak
penyelewengan di Uni Sovyet, tapi lihatlah kekejaman yang dilakukan lebih
banyak lagi rejim kapitalis di dunia. Amerika Serikat sendiri memiliki sejarah
yang amat gelap berkaitan dengan hak asasi manusia. Sampai tahun 1960-an kaum
kulit hitam di sana masih secara resmi didiskriminasi, begitu banyak perang
yang disponsori Amerika Serikat, begitu banyak rejim otoriter yang didukung
oleh Amerika Serikat.
Kapitalisme
bukanlah akhir dari sejarah. Tapi, seperti yang dikatakan Marx, manusia
sendirilah yang membuat sejarah itu bergulir. Kaum budak Romawi, karena mereka
tidak mampu mematahkan tiang-tiang negaranya, gagal membawa masyarakat Romawi
bebas dari perbudakan, malah peradaban tinggi Romawi hilang ditelan
barbarianisme dari bangsa-bangsa penjarah Eropa Tengah. Kalau kaum buruh tidak
mampu mematahkan belenggu-belenggunya secara revolusioner, barbarianisme itu
akan kembali dengan kualitas yang jauh lebih tinggi. Revolusi proletar akan
memangkas jalur penderitaan yang harus dilalui oleh seluruh rakyat pekerja.
Dengan kendali negara berada di tangan kaum pekerja itu sendiri, proses
industrialisasi akan berlangsung manusiawi dan demokratis.
***
Adalah
tugas, beban sejarah, yang kini dipanggul kaum sosialis di seluruh dunia untuk
menjamin bahwa proses revolusioner ini tidak akan mengulang kesalahan-kesalahan
yang pernah terjadi di Uni Sovyet dan negara-negara sosialis yang pernah ada di
muka bumi ini.
[1] Sumber utama saya untuk tulisan-tulisan Trotsky adalah In Defense of Marxism, http://www.marxist.com/, yang dikendalikan
oleh Socialist Appeal, koran
beraliran Trotkyst dari Inggris; juga Marxist
Internet Archives, http://www.marxist.org/
yang cukup lengkap menyimpan karya-karya Marxist klasik.
Pandangan-pandangan Trotsky sendiri
banyak dikritik oleh Lenin, tidak terhitung banyaknya tulisan Lenin yang berpolemik
melawan Trotsky. Beberapa hal yang paling dikritik oleh Lenin adalah
kecenderungan ekonomisme dan determinisme dalam pandangan Trotsky, dan, terutama, trade-unionism-nya [lihat: V.I. Lenin, The Trade Unions, Present Situation and Trotsky's Mistakes).
Trotsky berkeras bahwa satu-satunya kelas yang berhak berkuasa dalam
kediktatoran proletariat adalah kelas buruh itu sendiri. Pasca Kediktatoran
Proletariat, kekuatan produktif akan didorong maju dengan kecepatan tinggi,
yang artinya kelas tani (yang merupakan sisa dari masyarakat feudal) akan
terkikis dan terserap ke dalam kelas buruh. Betul, tapi … kelas buruh di Rusia
belum cukup kuat untuk berkuasa sendirian karena perkembangan tak-merata (uneven development) dari
kekuatan-kekuatan produktifnya. Maka kemudian Lenin mengembangkan teori Marx
tentang uneven development itu,
menggabungkannya dengan konsepsi kediktatoran proletariat dan konsep permanent revolution, dan melahirkan
konsepsi the revolutionary
democratic-dictatoship of workers and peasants (mengenai hal ini, lihat
uraian dalam teks dan ref. no. 16). Polemik antara Lenin dan Trotsky ini
berlangsung bertahun-tahun dan baru menemukan beberapa titik pandang taktis
menjelang Revolusi Oktober, saat pertama Trotsky
bergabung dengan RSDRP (Rosskaya Sotsial-Demokratitscheskaya
Rabochaya Partia)-Bolsheviks. Kolakowsky kembali mengadakan manipulasi data
yang kurang
ajar di sini.
Pandangan Trotsky ini lebih jauh
melahirkan sikap kurang sabar dan sektarian dalam berpolitik. Setelah Revolusi
Oktober 1917, Lenin berkali-kali menegur Trotsky karena bertindak menyalahi
instruksi Lenin untuk "bertindak dengan persuasi dan propaganda, dan
mengandalkan contoh-contoh" (untuk persoalan ini, kita dapat merujuk
jawaban Lenin mengenai persoalan kolektivisasi tanah pasca Revolusi dalam On Unathorized Seizure of Land). Trotsky
(dan, selanjutnya, juga Stalin) mengabaikan begitu saja pertimbangan Lenin
dengan mengirim Tentara Merah untuk menghabisi para petani yang membangkang
karena baginya hanya buruh yang boleh berkuasa.
Pandangan Trotsky yang cukup berharga
untuk diperhatikan adalah teorinya tentang permanent
revolution, yang merupakan adaptasi yang berhasil untuk kondisi Rusia atas
teori revolusi yang dikembangkan Marx pasca revolusi 1848 di Jerman, yang
kemudian diberi substansi oleh Phlekanov, dan teorinya tentang world revolution. Terutama di Indonesia,
di mana terdapat perkembangan tak-merata, akibat terhentinya perkembangan
mandiri masyarakat Indonesia di tahap feudalisme karena ditimpa oleh
kolonialisme yang dipaksakan melalui senjata, dan yang posisinya berada di
silang lintas-dunia, posisi yang akan sangat menyulitkan secara ekonomi dan
militer untuk mempertahankan sebuah revolusi jika revolusi itu terisolasi dari
revolusi lain di dunia. Marx menegaskan bahaya revolusi yang terisolasi ini
dalam edisi terakhir Neue Rheinische
Zeitung yang dicetak dengan tinta merah. Lenin juga, dalam pidatonya di
depan Kongres Luar Biasa Sovyet Seluruh Rusia IV, yang diadakan terburu-buru
sehubungan kekalahan insureksi di Jerman 1918, mengatakan ”Russian Revolution is doomed" karena kekalahan itu berarti
Rusia yang terbelakang tidak akan dapat berhubungan dengan satu negeri sosialis
yang maju. Lenin sudah tahun sejak 1918 bahwa Revolusi Rusia akan runtuh,
persoalannya adalah berapa lama mereka dapat bertahan. Dan, setelah bertahan
sekian puluh tahun, sekalipun secara cacat, hal ini adalah pencapaian luar
biasa yang tak tertandingi oleh negeri manapun.
[2] Dalam tulisan ini, sering saya tidak dapat menyajikan nomor halaman
dari mana saya mengambil kutipan-kutipan saya karena teks yang saya kutip
berasal dari internet dan konsepsi halaman web tidak mengenal nomor halaman.
Dalam beberapa format, di mana disediakan transkrip verbatim dari buku-buku,
nomor halaman itu tersedia.
[3] The German Ideology. http://www.marxist.org/archive/marx/works/1845-gi/index.html.
Bagian III. "Masyarakat sipil" adalah terjemahan dari "civil society". Kita lihat di sini
bahwa konsep "masyarakat sipil" sudah dikemukakan Marx jauh sebelum Gramsci mengangkatnya
kembali di pertengahan abad berikutnya.
Gramsci jelas sama sekali tidak
menyalahi garis Marx mengenai "masyarakat sipil". Bahkan Gramsci
tidak menyalahi teori Marx (bukan Lenin!
–kadang saya pikir Kolakowsky itu sedang mabuk ketika menulis bukunya, atau
memang sengaja memutar-balik fakta…) bahwa negara adalah alat kelas berkuasa
untuk menindas kelas yang lain. Dalam hal ini, kita harus menempatkan pemikiran
Gramsci pada konteksnya, yaitu ketika perimbangan kekuatan antar-kelas di Eropa
sudah mencapai tahap stalemate
(meminjam istilah Castro), berdiri berhadapan tanpa ada yang memiliki kekuatan
pemukul decisive. Di pihak lain,
Partai Komunis Uni Sovyet, yang waktu itu dikendalikan oleh birokrasi Stalinis,
sangat membenci pemikiran independen yang dapat saja bertentangan dengan garis
politiknya sendiri. Dalam hal ini, kita dapat membenarkan posisi Gramsci bahwa
intelektualitas dalam partai harus dikembangkan seluas mungkin (intelektual organ-ik) untuk lebih memahami bagaimana
relasi-relasi produksi tercermin dalam relasi-relasi politik, ideologi dan
budaya. Pemahaman ini penting karena pemahaman tentang struktur negara sudah
kurang-lebih tuntas, namun sekedar penggulingan kekuasaan, tanpa pemahaman
tentang relasi-relasi tadi, hanya akan membawa apa yang disebut Marx sebagai
"terpaksa melakukan langkah-langkah borjuis kecil", yaitu surut dari
keharusan melakukan pembaruan radikal terhadap sistem politik, pembaharuan
radikal yang hanya akan dapat dilakukan
bila terdapat pemahaman yang dalam mengenai hakikat dan bentuk-bentuk relasi produksi dalam berbagai
cerminannya.
Lagipula, Gramsci menuliskan teorinya di dalam sel di sebuah penjara fasis tanpa
dibantu satu rujukanpun tulisan-tulisan Marx. Mustahillah baginya untuk
menuliskan (apalagi dengan kutipan) satu buku yang secara eksplisit Marxis.
[4] Manifesto of the Communist
Party, http://www.marxist.org/archive/marx/manifesto/index.html.
Bagian II. Semua karya yang tidak disebutkan penulisnya ditulis oleh Marx.
[5]Dorn, Paul. The
Month of Red Splendor. The Paris Commune and Marx' Theory of Revolution.
San Fransisco State University. http://userwww.sfsu.edu./~pdorn/Marx.html.
[6] The Civil War in France: The Paris Commune. New York:
International Publishers, 1984. p. 57.
[7] Bandingkanlah ini dengan konsepsi Gramsci tentang negara "yang
memiliki otonomi relatif dari kelas penguasa". Tentu saja negara (baca:
tentara, hukum dan birokrasi – termasuk birokrasi agama) memiliki otonomi
relatif dari kelas penguasa. Tapi, secara
umum, kepentingan kelas penguasalah yang diwakili oleh negara, termasuk
ketika berhadapan dengan oposisi kelas, termasuk ketika memberikan
konsesi-konsesi, termasuk ketika menindas demokrasi itu sendiri. Lihatlah
pamflet Trotsky, Facism: What it is and
how to fight it, tentang bagaimana negara fasis pada hakikatnya bekerja
untuk menyelamatkan keseluruhan kapitalisme,
sekalipun dengan jalan menindas segelintir kaum kapitalis, yaitu kapitalis
Yahudi.
[8] Engels, Frederick. Marx/Engels/Lenin On Historical Materialism.
New York: International Publishers, Inc., 1974. p. 242.
[9] The Civil War in France. p. 57. "Kelompok kepentingan" adalah
terjemahan dari "vested interest".
[10] ibid. p. 58.
[11] Ada berbagai kasus di mana reaksi kaum borjuasi terjadi semacam
ini. Di Chile, misalnya, kudeta militer adalah satu keniscayaan [lihat Arief
Budiman, Jalan Demokratis ke Sosialisme].
Yang cukup klasik adalah dukungan dana dan senjata dari borjuasi internasional
terhadap pemberontakan bekas tentara Tsar di Rusia pasca 1917 dan terhadap
kudeta militer melawan pemerintahan rakyat di Rumania [lihat Mark Mazower, Dark Continent: Europe's Twentieth Century ]. Marx mengritik
"rasa kemanusiaan yang vulgar" dari para Komunard, yang menunjukkan
belas kasihan tulus pada para penindasnya karena, setelah itu, para penindas
itu mengumpulkan kekuatan yang besar, menyerbu Paris dan menggantung semua
pemberontak, bahkan yang telah menyerah (lihat Civil War in France). Mengenai hakikat naiknya Napoleon Bonaparte
sebagai reaksi dari kaum borjuasi terhadap menguatnya proletariat, lihat The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte.
[12] Franz-Magnis Suseno, Pemikiran
Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, pp. 108-9.
[13] Manifesto, Bagian I.
[14] Franz-Magnis Suseno, Pemikiran
Karl Marx, pp. 84-85. Di sini, tuduhan utamanya adalah bahwa Marx telah
meninggalkan "kerja sama" antara filsafat dengan proletariat.
Kenyataannya adalah, ia menerapkan cara pandangnya atas dunia ke dalam praktek,
menguji telaah-telaah strategi-taktik dengan diterangi filsafatnya dan merevisi
filsafat itu manakala praktek tidak membenarkannya. Banyak filsuf yang mengubah
pandanganya setelah mengalami pergulatan hidup pribadi, Kierkegaard, contohnya,
tapi hanya segelintir filsuf yang mengubah filsafatnya setelah melalui api
penyucian dalam perjuangan di lapangan untuk pembebasan rakyat tertindas.
[15] Gejala yang sama terjadi di semua negara yang kapitalismenya
terbelakang, entah karena feudalime bercokol lebih kuat atau karena kapitalisme
itu sendiri merupakan sistem cangkokan, seperti yang terjadi pada kebanyakan
negeri jajahan. Indonesia adalah satu contoh di mana kaum borjuasinya pengecut
dan terbelakang, lebih suka bekerja sama dengan kekuatan-kekuatan absolutisme
(yaitu, militer) daripada melancarkan satu revolusi borjuis yang benar-benar
liberal.
[16] Mengenai teori revolusi permanen dari Marx, lihat Pengantar yang
ditulis oleh David Fernbach untuk kumpulan tulisan Marx, The Revolutions of 1848: Political Writings.
Kediktatoran-revolusioner kaum buruh
dan tani, (lihat tulisan Lenin, The
Revolutionary Democratic-Dictatorship of Proletariat and Peasantry) adalah
pengembangan Lenin atas taktik revolusi-permanen dari Marx. Ini bukan berarti
"revolusi yang tidak selesai-selesai" seperti yang makna yang
disimpangkan oleh Kolakowsky, dan sering disalahgunakan oleh Soekarno. Revolusi
permanen artinya, setelah kaum buruh membantu kaum borjuasi menggulingkan dan
menyapu tuntas sistem feudal, ia harus segera memisahkan diri dari kaum
borjuasi besar dan sekaligus menggulingkan borjuasi besar dengan bantuan dari
borjuasi kecil –demi menuntaskan pembersihan sisa-sisa feudalisme dan
absolutisme. Seperti terlihat dalam ref. no. 14, di negeri-negeri seperti ini,
"kediktatoran proletariat" murni tidak dimungkinkan karena
proletariat belum mayoritas, sehingga kediktatoran proletar tidak akan menjadi
kediktatoran mayoritas. Proletariat hanya akan menjadi mayoritas jika bergabung
dengan kelas pekerja (toiling class)
yang lain, yakni kaum tani (dan artisan). Dengan memenangkan kepemimpinan politik di dalam aliansi kelas ini,
proletariat akan menjamin berlangsungnya industrialisasi semanusiawi dan
secepat mungkin sehingga kelas petani dan artisan itu akan bertransformasi
menjadi kelas buruh secara lancar dan demokratis. Kita dapat melihat kini bahwa
konsepsi ini tidak dijalankan oleh
Stalin sama sekali.
[17] Bdk. Pengantar yang ditulis oleh David Fernbach untuk kumpulan
tulisan Marx, The Revolutions of 1848:
Political Writings.
[18] Manifesto, bagian I.
[19] Marx telah menyadari aspek internasionalisme ini bahkan dalam Manifesto, terutama pada bagian II,
ketika ia menulis tentang tugas kaum komunis untuk menjaga kepentingan kaum
proletar secara internasional. Engels, secara khusus juga menulis tentang hal
ini dalam Principles of Communism.
Namun, orang yang pertama menerangkan hal ini secara memuaskan, bulat dan utuh,
adalah Lenin, yaitu dalam bukunya Imperialism:
The Highest Stage of Capitalism.
[20] Analisis mengenai ini telah dibuat Lenin di tahun 1915, lihat On the Slogan of a United State of Europe.

0 komentar:
Posting Komentar