Daftar Isi
Catatan Penerjemah i
Pengantar Penulis ii
Kata Pengantar iii
Catatan Penerjemah
Anda akan heran, seperti
saya juga ketika menemukan tulisan ini, bahwa banyak dari hal yang dituliskan
Lenin hampir seabad lalu kelihatannya sangat modern dan pas dengan konteks
keseharian yang kita hadapi dalam perjuangan melawan kapitalisme di abad ke-21
ini. Tidak lain dan tidak bukan, inilah keunggulan Marxisme. Ketika tiga tiang
pokoknya –filsafat Materialisme yang Dialektik, Ekonomi-Politik, dan Prinsip
Perjuangan Revolusioner– ditaati, kita
tidak usah takut dicap “Leninis”, “Trotskyis”, “Maois” dsb. Dengan tiga senjata
itu, kita akan mampu menuliskan kondisi yang kita hadapi dengan
sejelas-jelasnya, setara dengan pemikir besar yang manapun juga.
Kalau dalam
kesempatan ini kita berhadapan dengan tulisan Lenin, ini kebetulan saja.
Tulisan ini dipilih karena kejelasannya dalam menguraikan prinsip-prinsip
Marxisme secara sederhana.
Penerjemahan dilakukan
secara bebas. Ini berarti kadang kala yang diambil adalah makna kalimat seperti
yang ditangkap oleh penerjemah. Penerjemahan bebas memudahkan penerjemahan
karena seringkali idiom atau cara berargumen yang filsafati kurang dapat
dipahami khalayak pembaca. Namun, penerjemahan bebas mengandung resiko distorsi
(penyimpangan) karena mengandalkan pemahaman penerjemah atas teks. Silakan
sidang pembaca yang menilai apakah layak resiko ini ditempuh.
Untuk memudahkan pembaca
Indonesia yang lama tidak mengenal latar belakang dari pandangan-pandangan
Marx, kami menambahkan beberapa catatan sejarah pada edisi bahasa Indonesia
ini. Untuk membedakan dari catatan asli dalam edisi bahasa Inggrisnya, kami
menempatkan catatan-catatan kami di bawah tanda * (asteriks), dan menempatkan catatan edisi asli di bagian akhir.
Kami
juga melakukan beberapa pembelahan terhadap penyusunan paragraf asli dari
Lenin. Bahasa Indonesia sangat impoten untuk menangani penguraian ide yang
panjang dan kompleks. Karena itu, untuk mempermudah para pembaca edisi Indonesia
ini, kami membagi paragraf-paragraf atau kalimat-kalimat yang panjang menjadi
beberapa paragraf dan kalimat yang lebih singkat. Sedapat mungkin kami
menghindarkan perlakuan ini selama dimungkinkan.
Lebih
jauh lagi, penerjemahan ini dilakukan dari edisi bahasa Inggris yang diambil
dari Internet. Edisi Internet itu merupakan transkrip verbatim dari edisi
bahasa Inggris yang diterbitkan di bawah Stalinisme. Kami menerjemahkan utuh
teks asli yang ditulis Lenin, tapi kami harus meneliti lebih lanjut catatan-catatan
yang ditambahkan editor edisi bahasa Inggris tersebut. Setelah melakukan
penyelidikan, kami merasa perlu untuk memotong atau mengubah beberapa frasa
atau kalimat di bagian "Catatan" yang kami anggap membawa bias
Stalinis terhadap pandangan-pandangan Marx. ***
Karl Marx
Satu Sketsa Ringkas dengan Penjelasan Mengenai Marxisme[1]
Pengantar
Artikel
tentang Karl Marx ini, yang kini muncul dalam cetakan tersendiri, ditulis di
tahun 1913 (sejauh saya ingat) untuk Granat
Encyclopaedia. Satu bibliografi yang cukup mendetil mengenai literatur
tentang Marx, kebanyakan asing, ditambahkan pada artikel tersebut. Bibliografi
itu tidak dimuat dalam edisi ini. Para penyunting Encyclopaedia, telah, untuk alasan-alasan sensor, menghapus bagian
terakhir dari artikel tentang Marx, khususnya, seksi yang menerangkan
taktik-taktik revolusionernya. Malangnya, saya tidak dapat mereproduksi bagian
akhir itu karena draftnya tertinggal di satu tempat antara Krakow atau Swiss.
Saya hanya ingat bahwa dalam bagian penutup artikel tersebut saya mengutip, di
antaranya, satu paragraf dari surat Marx pada Engels pada tanggal 16 April
1856, di mana ia menulis: "Semua yang terjadi di Jerman akan tergantung
dari kemungkinan dukungan terhadap revolusi proletar oleh edisi kedua dari
Perang Petani. Kemudian hasilnya akan sangat menakjubkan." Inilah apa yang
kaum Mensheviks kita,[2]
yang kini telah terpuruk dalam pengkhianatan total terhadap sosialisme dan
desersi ke kubu borjuasi, gagal untuk memahaminya sejak 1905.
N Lenin
Moskow, 14 Mei 1918
Bab I
Marx, Karl, lahir pada tanggal 5 Mei 1818 (Penanggalan
Baru*), di kota Trier (Propinsi Rhein di
Prusia). Ayahnya adalah seorang pengacara, seorang Yahudi, yang di tahun 1824
memeluk Protestantisme. Keluarganya cukup berada, berbudaya, tapi tidak
revolusioner. Setelah lulus dari sebuah Gymnasium
di Trier, Marx masuk universitas, pertama di Bonn dan kemudian di Berlin, di
mana ia belajar hukum, dengan program kekhususan sejarah dan filsafat. Ia
menyelesaikan studi universitasnya di tahun 1841, dengan menyerahkan tesis
doktoral tentang filsafat Epicurus. Pada waktu itu Marx adalah seorang Hegelian
yang pandangannya idealis. Di Berlin, ia bergabung dengan lingkaran
"Hegelian Kiri"[3]
(Bruno Bauer dan lain-lain) yang mencari kesimpulan-kesimpulan ateistik dan
revolusioner dari falsafah Hegel.
Setelah lulus, Marx pindah ke Bonn, dan berharap menjadi
seorang profesor. Tetapi, karena politik reaksioner dari pemerintah, yang telah
menggusur Ludwig Feuerbach dari kursinya di tahun 1832, pihak universitas kemudian
menolak mengijinkan Marx untuk kembali ke universitas di tahun 1836. Pada tahun
1841 ketika pemerintah Prussia melarang Profesor Bruno Bauer yang muda itu
untuk memberikan kuliah di Bonn, Marx akhirnya meninggalkan ide menyusuri karir
akademik. Pandangan-pandangan Hegelian Kiri dengan cepat memperoleh pengaruh di
Jerman masa itu. Ludwig Feuerbach mulai mengkritik teologi, terutama setelah
1836, dan berpaling pada materialisme, yang di tahun 1841 memperoleh tempat
utama dalam filsafatnya (The Essence of
Christianity). Tahun 1843 mencatat kemunculan bukunya Principles of the Philosophy of the Future. "Seseorang harus
mengalami sendiri efek pembebasan" dari buku-buku ini, tulis Engels
kemudian atas karya-karya Feuerbach itu. "Kami [yaitu, kaum Hegelian Kiri,
termasuk Marx] semua langsung menganut Feuerbach."[4]
Pada
masa itu, beberapa borjuis radikal di Rhineland, yang berhubungan dengan kaum
Hegelian Kiri, mendirikan, di Cologne, satu koran oposisi yang disebut Rheinische Zeitung[5]
(edisi pertama terbit pada tanggal 1 Januari 1842). Marx dan Bruno Bauer
diundang untuk menjadi penulis utama, dan di bulan Oktober 1842 Marx menjadi
pemimpin redaksi dan pindah dari Bonn ke Cologne. Kecenderungan koran itu yang
demokratik revolusioner menjadi semakin tegas di bawah suntingan Marx, dan
pemerintah pertama-tama mengenakan sensor ganda lalu ganda tiga atas koran itu.
Tak perlu menunggu waktu lama, pemerintahan reaksioner Prussia, tanggal 1
Januari 1843, memutuskan untuk menutup Rheinische
Zeitung. Marx kemudian dipaksa harus mundur dari jabatannya sebagai
pemimpin redaksi sebelum tanggal itu, tapi pengunduran dirinya itu tetap tidak
dapat menyelamatkan koran tersebut, yang akhirnya menghentikan terbitannya di
bulan Maret 1843. Dari artikel-artikel besar yang ditulisnya untuk Reinische Zeitung, Engels mencatat,
sebagai tambahan atas apa yang ditunjukkan di bawah ini (lihat Bibliografi[6]),
sebuah artikel tentang kondisi para petani anggur di Moselle Valley.[7]
Aktivitas jurnalistik Marx meyakinkannya bahwa ia belum cukup akrab dengan
ekonomi-politik, dan ia dengan bersemangat bekerja untuk mempelajarinya.
Di tahun 1843, Marx menikah, di Kreuznach, dengan Jenny
von Westphalen, kawan masa kecilnya yang dipertunangkan dengannya ketika ia
masih mahasiswa. Istrinya datang dari keluarga reaksioner di kalangan bangsawan
Prusia.** Salah seorang kakaknya adalah Menteri
Dalam Negeri Prusia selama masa-masa paling reaksioner – 1850-58. Di musim
gugur 1843, Marx pergi ke Paris untuk menerbitkan satu jurnal radikal di luar
negeri, bersama dengan Arnold Ruge (1802-1880; seorang Hegelian Kiri; pernah
dipenjara di tahun 1825-30; pelarian politik setelah 1848, dan seorang pengikut
Bismarc setelah 1866-70). Hanya satu edisi dari jurnal ini, Deutsch-Französische Jahrbücher, yang
terbit[8];
penerbitan dihentikan karena kesulitan penyebarannya di Jerman secara rahasia,
dan karena ketidaksepakatan dengan Ruge. Artikel Marx dalam jurnal itu
menunjukkan bahwa ia telah menjadi seorang revolusioner, yang menyerukan
"kritisisme tanpa ampun terhadap segala yang ada", dan khususnya
tentang "kritisisme dengan senjata",[9]
dan menyerukannya kepada massa dan kaum proletar.
Di bulan September 1844 Frederick Engels datang di Paris
untuk beberapa hari, dan dari masa itu ia menjadi kawan terdekat Marx. Mereka
berdua mengambil bagian paling aktif dalam kehidupan kelompok revolusioner
Paris yang waktu itu sedang mendidih (salah satu yang terpenting masa itu
adalah doktrin Proudhon,[10]
yang dihancurkan berkeping-keping oleh Marx dalam Poverty of Philosophy tahun 1847); menjalankan perjuangan bertenaga
melawan berbagai doktrin sosialisme borjuis-kecil. Mereka juga kemudian
bersama-sama merumuskan teori dan taktik dari sosialisme proletar yang revolusioner, atau komunisme*** (Marxisme). Tinjaulah karya-karya
Marx pada masa ini, 1844-48 dalam Bibliografi. Karena desakan keras dari
pemerintah Prusia, Marx akhirnya diusir dari Paris tahun 1845, sebagai seorang
revolusioner yang berbahaya. Ia pergi ke Brussel. Di musim semi 1847 Marx dan
Engels bergabung dalam sebuah komunitas propaganda rahasia yang disebut Liga
Komunis[11];
dan kemudian mereka mengambil bagian penting dalam Kongres Kedua di London,
November 1847, yang meminta mereka menulis Manifesto Komunis yang terkenal itu,
yang muncul pada bulan Februari 1848. Dengan kejelasan dan kecemerlangan
seorang jenius, karya ini membangun garis besar dari pandangan dunia baru,
materialisme yang konsisten, yang mencakup pula dunia kehidupan sosial,
dialektika, sebagai doktrin yang paling menyeluruh dan mendasar dari
perkembangan; teori perjuangan kelas dan peran revolusioner historis kaum
proletariat di seluruh dunia – para pencipta masyarakat yang baru, masyarakat
komunis.
Ketika Revolusi Februari 1848[12]
pecah, Marx diusir dari Belgia. Ia kembali ke Paris, dari situ, setelah
Revolusi Maret[13],
ia pergi ke Cologne, Jerman, di mana Neue
Rheinische Zeitung[14]
diterbitkan dari tanggal 1 Juni 1848 sampai 19 Mei 1849, dengan Marx sebagai
pemimpin redaksinya. Teori baru itu kemudian dibuktikan dari jalannya
peristiwa-peristiwa revolusioner dari tahun 1848-49, seperti yang kemudian
dibuktikan pula oleh semua gerakan proletar dan demokrasi di semua negeri di
dunia. Kaum kontra-revolusioner yang menang [dalam Revolusi Jerman itu]
pertama-tama menggunakan prosedur hukum terhadap Marx (ia dibebaskan dari
segala tuduhan pada tanggal 16 Mei 1849), lalu mengusirnya dari Jerman (16 Mei
1849). Pertama-tama Marx pergi ke Paris, diusir lagi setelah demonstrasi pada
tanggal 13 Juni 1849,[15]
hingga akhirnya ia pergi ke London di mana ia tinggal sampai wafatnya.
Kehidupannya sebagai pelarian politik sangatlah sukar,
seperti yang tergambar dengan jelas dalam surat-menyuratnya dengan Engels
(diterbitkan tahun 1913). Kemiskinan sangat membebani Marx dan keluarganya;
kalau bukan karena bantuan keuangan yang terus-menerus tanpa pamrih dari
Engels, Marx tidak akan mungkin menyelesaikan Capital tapi akan tergerus oleh tuntutan kebutuhan hidupnya dan
keluarganya. Terlebih lagi, terus hidupnya doktrin-doktrin sosialisme
borjuis-kecil, dan sosialisme non-proletar lainnya secara umum, memaksa Marx
untuk melakukan perjuangan yang tanpa ampun dan terus menerus dan terkadang
untuk memukul mundur serangan-serangan yang bersifat personal dan keji (Herr Vogt[16]). Marx, yang mengambil jarak dari lingkaran
pelarian politik, mengembangkan teori materialismenya dalam sejumlah
karya-karya kesejarahan (lihat Bibliografi), mengabdikan dirinya terutama pada
studi ekonomi-politik. Marx merevolusionerkan ilmu ini (lihat "Doktrin
Marxis", di bawah) dalam bukunya Contribution
to the Critique of Political Economy (1859) dan dalam Capital (Vol. I, 1867).
Kebangkitan kembali gerakan demokratik pada akhir 1850-an
dan 1860-an memanggil Marx untuk kembali pada aktivitas-aktivitas praktek.
Dalam tahun 1864 (28 September) International
Working Men's Association – Internasionale Pertama yang terkenal itu –
didirikan di London. Marx adalah jiwa dan jantung organisasi ini, dan penulis
dari Maklumatnya yang pertama[17]
dan sejumlah besar resolusi, deklarasi dan manifesto-manifesto. Dalam
menyatukan gerakan buruh dari berbagai negeri, berjuang untuk menyalurkan
berbagai bentuk sosialisme non-proletar dan pra-Marxis (Mazzini, Proudhon,
Bakunin, unionisme liberal di Inggris, para pengikut Lassalle di Jerman yang
sering goyah ke kanan, dll.) dalam satu kesatuan gerakan, dan dalam menghadapai
berbagai teori dari semua sekte dan aliran ini, Marx menempa satu taktik
bersama bagi perjuangan proletar dari kaum pekerja di berbagai negeri. Menyusul
jatuhnya Komune Paris (1871) –Marx menguraikan satu telaah yang mendasar, jelas,
cemerlang, efektif dan revolusioner
mengenai hal ini (The Civil War in France,
1871) – dan pembelahan yang disebabkan oleh Bakunin[18]
terhadap Internasionale, organisasi itu tidak dapat lagi hidup di Eropa.
Setelah Kongres Internasionale yang dilakukan di Hague (1872), Marx memindahkan
Dewan Umum Internasionale ke New York. Internasionale Pertama telah memainkan
peran sejarahnya, dan sekarang harus memberi jalan pada masa dan perkembangan
yang jauh lebih besar dari gerakan buruh di semua negeri di dunia, satu masa di
mana gerakan itu tumbuh dalam cakupan,
dan partai-partai kelas pekerja sosialis yang massal di berbagai negara nasional telah terbentuk.
Kesehatan Marx digerogoti oleh kerja kerasnya dalam
Internasional dan dalam kerja-kerja teoritiknya yang lebih berat lagi. Ia
meneruskan karyanya menyusun ulang ekonomi-politik dan menyelesaikan Capital, di mana untuk itu ia telah
mengumpulkan setumpuk bahan-bahan baru dan mempelajari sejumlah bahasa
(misalnya bahasa Rusia). Walau demikian, kesehatannya yang buruk menghalanginya
untuk menyelesaikan Capital.
Istrinya meninggal pada tanggal 2 Desember 1881 dan pada
tanggal 14 Maret 1883 Marx wafat dengan damai di kursi tamunya. Ia dimakamkan
di sisi istrinya di Pekuburan Highgate di London. Beberapa anak Marx meninggal
semasa kecil di London, ketika keluarga tersebut sedang mengalami masa-masa
tersulitnya. Tiga putrinya menikahi orang-orang sosialis Inggris dan Perancis:
Eleanor Aveling, Laura Lafargue dan Jenny Longuet. Putra dari putri Marx yang
disebut terakhir ini adalah anggota dari Partai Sosialis Perancis.
Bab II
Doktrin Marxis
Marxisme adalah sistem dari pandangan-pandangan dan
ajaran-ajaran Marx. Marx adalah seorang jenius yang melanjutkan dan
menyempurnakan ketiga aliran ideologi utama pada abad kesembilan belas, seperti
yang diwakili oleh tiga negeri manusia yang paling maju: filsafat klasik
Jerman, ekonomi-politik klasik Inggris, dan sosialisme Perancis yang
dikombinasikan dengan doktrin-doktrin revolusioner Perancis secara umum. Diakui
bahkan oleh musuh-musuhnya, konsistensi dan integritas yang mengagumkan dari
pandangan-pandangan Marx, yang dalam totalitasnya mengandung materialisme
modern dan sosialisme ilmiah modern, sebagai teori dan program bagi gerakan
kelas pekerja di semua negeri beradab di dunia. Atas dasar itu, saya merasa
wajib menyajikan satu uraian ringkas dari pandangannya atas dunia secara umum,
sebelum memberikan gambaran mengenai hakikat prinsip Marxisme, khususnya,
doktrin ekonomi Marx.
Filsafat Materialisme
Mulai dari tahun-tahun 1844-45, ketika
pandangan-pandangannya mulai terbentuk, Marx adalah seorang materialis dan
khususnya seorang pengikut Ludwig Feuerbach, yang titik lemahnya kemudian
dilihat Marx sebagai kurang cukup konsisten dan menyeluruh dalam materialismenya.
Bagi Marx makna historis dan "penggemblengan epos" Feuerbach terletak
dalam penolakannya yang keras hati akan idealisme Hegel dan dalam maklumatnya
akan materialisme, yang "di abad kedelapan belas, khususnya materialisme Perancis,
bukan sekedar perjuangan melawan lembaga politik yang berkuasa dan melawan …
agama dan teologi, melainkan juga … melawan segala bentuk metafisika"
(layaknya "spekulasi orang mabuk" dibedakan dari "filosofi
kepala dingin"). (The Holy Family
dalam Literarischer Nachlass.[19]) "Bagi Hegel…," tulis Marx,
"proses berpikir, yang, di bawah panji "Ide", bahkan diubahnya
menjadi satu subjek yang independen, adalah demiurgos
(pencipta) dari dunia nyata…. Bagi saya, sebaliknya, ide tidak lain daripada
dunia material yang tercermin dalam akal manusia, dan diterjemahkan menjadi
bentuk-bentuk pikiran" (Capital,
Vol. I, Kata Penutup untuk Edisi Kedua[20]).
Dalam
kesetiaan penuh pada filsafat materialisme Marx, dan untuk lebih jauh
menjabarkannya, Frederick Engels menulis dalam Anti-Dühring (yang draftnya dibaca terlebih dahulu oleh Marx):
"Kesatuan dunia tidaklah terletak pada keberadaannya…. Kesatuan sejati
dari dunia terkandung dalam materialnya, dan hal ini telah dibuktikan … oleh
perkembangan yang panjang dan melelahkan dari filsafat dan ilmu alam…."
"Gerak adalah cara mengada dari materi. Tidak mungkin ada materi tanpa
gerak, atau gerak tanpa materi, tidak akan pernah ada…. Tapi jika …
pertanyaannya diajukan: apakah sebenarnya pikiran dan kesadaran itu, dan dari
mana mereka datang; akan menjadi jelas bahwa mereka adalah produk dari otak
manusia dan manusia itu sendiri adalah produk dari Alam, yang telah berkembang
di dalam dan sejalan dengan lingkungannya; maka terbuktilah dalam dirinya
sendiri bahwa produk dari otak manusia, adalah, dalam analisis terakhir, juga
merupakan produk dari Alam, tidaklah bertentangan dengan lain-lain saling
keterhubungan dalam Alam melainkan sangat berhubungan dengannya….
"Hegel
adalah seorang idealis, yaitu menganggap pikiran di kepalanya bukanlah sebagai
gambaran yang kurang lebih abstrak (Abbilder,
cerminan; Engels kadang bicara tentang "citra") dari hal-hal dan
proses yang nyata, tapi sebaliknya, segala hal dan perkembangannya dianggapnya
sebagai sekedar gambaran, yang dibuat nyata, oleh 'Ide' yang telah ada di satu
tempat sebelum dunia ini ada."[21]
Dalam bukunya Ludwig Feuerbach – yang
menjabarkan pandangan Marx dan dirinya sendiri tentang filsafat Feuerbach, yang
dikirimnya ke percetakan setelah ia membaca manuskrip lama yang ditulis Marx
dan dirinya sendiri di tahun 1844-45 tentang Hegel, Feuerbach pandangan
materialis atas sejarah – Engels menulis:
"Pertanyaan
besar yang mendasar dari semua filsafat, khususnya filsafat yang lebih baru,
adalah hubungan antara berpikir dan mengada … jiwa dan Alam … mana yang lebih
utama, jiwa atau Alam …. Jawaban yang diajukan para filsuf terhadap pertanyaan
ini membagi mereka ke dalam dua kubu besar. Mereka yang menilai bahwa jiwa
lebih utama dari Alam dan, dengan demikian, pada analisis terakhirnya, percaya
akan penciptaan dunia dalam salah satu bentuk, menyusun kubu idealisme.
Lainnya, yang menganggap Alam sebagai yang utama, tergabung dalam berbagai
aliran materialisme."
Penggunaan
lain atas konsep (filsafat) idealisme dan materialisme akan membawa kita pada
kebingungan. Marx dengan tegas menolak, bukan hanya idealisme, yang selalu
dihubungkan dalam salah satu cara dengan agama, tapi juga pandangan – terutama
yang tersebar dalam masa kita – dari Hume dan Kant, agnotisisme, kritisisme,
dan positivisme[22]
dalam berbagai bentuknya; ia menganggap filsafat-filsafat tersebut sebagai
konsesi "reaksioner" terhadap idealisme, paling tidak "dengan
malu-malu dan diam-diam mengakui materialisme, sambil menolaknya di hadapan
dunia".[23]
Tentang
masalah ini, lihat, di samping karya-karya Engels dan Marx yang disebut di
atas, satu surat yang ditulis Marx untuk Engels pada 12 Desember 1868, di mana
ia merujuk pada satu pernyataan dari seorang naturalis Thomas Huxley, yang
"lebih materialistik" dari biasanya, dan tentang pengakuannya bahwa
"sepanjang kita benar-benar mengamati dan berpikir, kita tidak akan
mungkin lepas dari materialisme". Atas pernyataan itu, Marx mengecam
Huxley karena membiarkan satu "lubang" untuk agnotisisme, untuk
Humisme. Sangatlah penting untuk mencatat pandangan Marx tentang hubungan
antara kebebasan dan keharusan: "Kebebasan adalah apresiasi dari
keharusan. 'Keharusan hanya buta sejauh ia tidak dipahami'" (Engels dalam Anti-Dühring). Ini berarti pengakuan
terhadap kuasa hukum-hukum objektif di Alam dan akan transformasi dialektik
dari keharusan menjadi kebebasan (dalam cara yang sama dengan transformasi dari
hal yang tidak dikenali padahal dapat dikenali "mengada pada dirinya
sendiri" menjadi "mengada untuk kita", dari "hakikat segala
hal" menjadi "gejala-gejala").
Marx
dan Engels menganggap bahwa materialisme "lama", termasuk
materialisme Feuerbach (dan terlebih materialisme "vulgar" dari
Büchner, Vogt dan Moleschott), mengandung kelemahan-kelemahan di bawah ini: (1)
materialisme ini "terutama bersifat mekanik", gagal untuk
memperhitungkan perkembangan terakhir dalam ilmu kimia dan biologi (saat ini
haruslah kita tambahkan: dan dalam teori materi elektron)****;
(2) materialisme lama tidak historis dan tidak dialektik (metafisika, dalam
makna anti-dialektik), dan tidak berpegang secara teguh dan menyeluruh pada
sudut pandang perkembangan; (3) mereka menganggap "hakikat manusia"
sebagai suatu yang abstrak, bukan sebagai "kesatuan semua hubungan
sosial" (yang kongkrit dan ditentukan secara historis), dan karenanya hanya
"mengartikan" dunia, di mana persoalannya adalah untuk
"mengubahnya", yaitu mereka tidak memahami pentingnya "aktivitas
revolusioner dalam praktek".
Dialektika
Sebagai doktrin perkembangan yang paling menyeluruh dan
mendasar, dan yang paling kaya dalam isinya, dialektika Hegelian dianggap oleh
Marx dan Engels sebagai pencapaian tertinggi dari filsafat klasik Jerman.
Mereka berpikir bahwa perumusan lain atas prinsip perkembangan, atas evolusi,
adalah berat sebelah dan miskin dalam isi, dan hanya akan membiaskan dan
mengudungkan perjalanan perkembangan yang aktual (yang sering didahului, dan melalui bencana dan revolusi) di Alam
maupun masyarakat. "Marx dan saya kiranya merupakan satu-satunya pihak
yang dapat menyelamatkan dialektika yang dilakukan secara sadar [dari bahaya
penghancuran oleh idealisme, termasuk Hegelianisme] dan menerapkannya dalam
pandangan materialis terhadap Alam…. Alam adalah bukti dari dialektika, dan
kita harus menyatakannya karena ilmu alam modern telah menyediakan
material-material yang sangat kaya [ini ditulis sebelum penemuan radium,
elektron, transmutasi elemen, dll.!] dan semakin hari semakin banyak untuk
pengujian ini, dan karenanya telah membuktikan bahwa pada analisis terakhir
proses Alam bersifat dialektik bukan metafisik.[24]
"Pemikiran besar yang mendasar," tulis Engels,
"bahwa dunia tidak boleh dipahami sebagai sebuah kesatuan dari hal-hal
yang langsung jadi, tapi sebagai kesatuan dari proses, di mana hal-hal yang
nampaknya stabil dalam citra yang muncul dalam pikiran kita, dalam konsepsi,
ternyata mengalami perubahan tanpa henti dari menjadi ada sampai hilang lenyap
… pemikiran mendasar ini, khususnya sejak masa Hegel, telah diserap seluruhnya
oleh kesadaran awam sehingga secara umum sangat jarang lagi ditentang. Tapi
untuk mengakui pemikiran mendasar ini dalam kata-kata dan dalam penerapannya
dalam tindakan nyata secara mendetil adalah dua hal yang berbeda…. Bagi
filsafat dialektik tidak ada hal yang final, mutlak, suci. Ia mengungkapkan
watak kesementaraan dari segala sesuatu dan dalam segala sesuatu; tidak ada hal
yang dapat bertahan sebelum menerima proses tanpa henti dari menjadi dan
menghilang, dari proses tanpa henti yang meningkatkan apa yang di bawah ke
atas. Dan filsafat dialektik itu sendiri tidaklah lebih dari cerminan belaka
dari proses seperti ini yang berlangsung dalam otak manusia." Dengan
demikian, menurut Marx, dialektika adalah "pengetahuan akan hukum umum
gerak, baik dalam dunia luar maupun dalam pikiran manusia".[25]
Aspek revolusioner dari filsafat Hegel ini diadopsi dan
dikembangkan oleh Marx. Materialisme dialektika "tidak memerlukan filsafat
yang berdiri terpisah dari ilmu pengetahuan lain". Dari filsafat-filsafat
yang hidup sebelumnya tinggalan "ilmu berpikir dan hukum-hukumnya –
formal, logis dan dialektik".[26]
Dialektika seperti yang dipahami oleh Marx, dan dalam kesesuaian dengan Hegel,
mencakup apa yang sekarang dikenal sebagai teori pengetahuan, atau
epistemologi, yang harus pula memandang materi subjeknya secara historis,
mempelajari dan menarik kesimpulan umum tentang asal dan perkembangan dari
pengetahuan, transisi dari bukan-pengetahuan
menjadi pengetahuan.
Di masa kita ide tentang perkembangan, tentang evolusi,
telah hampir sempurna meresap ke dalam kesadaran sosial, hanya saja dengan cara
lain, dan bukan melalui falsafah Hegelian. Tetap saja, ide ini, seperti yang
dirumuskan oleh Marx dan Engels berdasarkan falsafah Hegel, adalah jauh lebih
menyeluruh dan jauh lebih kaya dalam isi daripada apa yang menjadi ide umum
tentang evolusi saat ini. Satu perkembangan yang mengulangi, seperti semula,
tahapan-tahapan yang telah pernah dilaluinya, tapi mengulanginya dalam cara
yang berbeda, dengan basis yang lebih tinggi ("negasi dari negasi"),
satu perkembangan, begitu kita dapat menyebutnya, yang bergerak maju dalam
spiral-spiral, tidak dalam garis lurus; satu perkembangan dengan
lompatan-lompatan, bencana, dan revolusi; "patahan dalam
kesinambungan"; peralihan atas kuantitas menuju kualitas;
dorongan-dorongan dari dalam untuk berkembang, ternyatakan dalam pertentangan-pertentangan
dan konflik antar berbagai kekuatan dan kecenderungan yang bekerja pada satu
badan tertentu, atau atas gejala tertentu, atau di dalam masyarakat tertentu;
saling ketergantungan dan hubungan yang terdekat dan tak terpecahkan antara semua
segi dari sebuah gejala (sejarah terus menerus mengungkapkan segi-segi
baru), satu hubungan yang menyediakan satu proses yang universal dan seragam
atas gerak, proses yang mengikuti satu hukum tertentu – ini semua adalah
beberapa dari hal yang diungkapkan dialektika sebagai sebuah doktrin tentang
perkembangan yang lebih kaya dari doktrin yang konvensional (cf. Surat Marx
pada Engels tanggal 8 Januari 1868, di mana ia membantai "trikotomi
kayu" dari Stein, yang sangat janggal kalau dicampuradukkan dengan
dialektika material.)
Pandangan Materialis atas Sejarah
Kesadarannya akan inkonsistensi, ketidaklengkapan dan
sifat berat sebelah dari materialisme lama, mendorong Marx meyakini perlunya
"membawa ilmu pengetahuan ke dalam masyarakat … ke dalam keserasian dengan
landasan materialisme, dan untuk merekonstruksinya di atas landasan itu".[27]
Karena materialisme secara umum menjelaskan kesadaran sebagai hasil dari
keberadaan, dan bukan sebaliknya, maka materialisme yang diaplikasikan pada
kehidupan sosial dari umat manusia harus menjelaskan kesadaran sosial sebagai hasil dari keberadaan sosial. "Teknologi," tulis
Marx (Capital, Vol. I),
"mengungkapkan cara manusia berurusan dengan Alam, proses produksi yang
menyusulnya yang ia pergunakan untuk menyangga hidupnya, dan dengan demikian
juga menelanjangi cara pembentukan hubungan-hubungan sosialnya, dan atas
pandangan mental yang mengalir dari hubungan-hubungan sosial itu."[28]
Dalam pengantarnya untuk bukunya Contribution
to the Critique of Political Economy, Marx memberikan satu rumusan integral
atas prinsip-prinsip dasar materialisme yang diaplikasikan pada masyarakat
manusia dan kesejarahannya, dalam kata-kata berikut:
"Dalam
produksi sosial sepanjang hidupnya, manusia memasuki satu hubungan tertentu
yang tidak dapat diabaikan dan tidak tergantung dari kehendaknya sendiri,
hubungan produksi yang berkoresponden dengan satu tahapan tertentu dari
perkembangan atas kekuatan produksi materialnya.
"Jumlah
total dari hubungan-hubungan produksi ini membentuk bangunan ekonomi dari
masyarakat, pondasi sejati, di mana muncul satu superstruktur hukum dan politik
dan kepada siapa berbagai bentuk kesadaran sosial berhubungan. Cara produksi
kehidupan material menentukan proses kehidupan sosial, politik dan intelektual
secara umum. Bukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaannya, tapi,
sebaliknya, keberadaan sosial merekalah yang menentukan kesadarannya. Pada
tahap tertentu dari perkembangan mereka, kekuatan produktif material dalam
masyarakat jatuh ke dalam konflik dengan hubungan produksi yang tengah hidup,
atau – sekedar menggunakan pernyataan legal atas hal-hal itu – dengan hubungan
kepemilikan di mana mereka bekerja sebelumnya. Dari bentuk-bentuk perkembangan
kekuatan produksi hubungan-hubungan ini berbalik menjadi belenggunya. Lalu mulailah satu epos revolusi sosial.
Dengan perubahan landasan ekonomi seluruh tatanan superstruktur yang besar itu
kurang-lebih akan terubah dengan cepat. Dalam menilai peralihan semacam ini
satu pembedaan harus dibuat antara peralihan bentuk dari keadaan ekonomi dari
produksi, yang dapat ditentukan dengan ketepatan ilmu pengetahuan, dan
perubahan di bidang hukum, politik agama, estetika atau filsafat – pendeknya,
bentuk-bentuk ideologi di mana manusia menjadi sadar akan konflik ini dan
terjun ke dalamnya.
"Seperti
pendapat kami akan seorang individu tidaklah didasarkan pada apa yang ia pikir
tentang dirinya sendiri, demikianlah kita tidak dapat menilai satu masa
peralihan dari kesadarannyanya sendiri, sebaliknya, kesadaran ini harus
dijelaskan dari pertentangan dalam kehidupan material, dari konflik-konflik
yang hadir antara kekuatan-kekuatan produktif sosial dan hubungan-hubungan
produksinya…. Dalam garis besar, cara-cara produksi Asiatik, kuno, feudal dan
borjuis modern dapat dianggap sebagai epos progresif dalam pembentukan
masyarakat secara ekonomi"[29]
(cf. perumusan singkat Marx dalam suratnya pada Engels tertanggal 7 Juli 1866:
"Teori kita bahwa organisasi kaum buruh ditentukan oleh oleh alat-alat
produksinya").
Penemuan pandangan materialis terhadap sejarah, atau
lebih tepat, pelanjutan dan perluasan yang konsisten terhadap materialisme ke
dalam ruang gejala kesejarahan, membuang dua kelemahan utama dalam teori-teori
sejarah yang sebelumnya. Pertama-tama, teori lama itu paling jauh hanya memeriksa
motif ideologis dalam aktivitas kesejarahan umat manusia, tanpa menyelidiki
asal-muasal dari motif-motif itu, atau menentukan hukum-hukum objektif yang
mengatur perkembangan sistem hubungan sosial, atau melihat akar dari
hubungan-hubungan ini dalam tahap-tahap perkembangan yang dicapai oleh produksi
material; kedua, teori-teori awal itu tidaklah mencakup aktivitas massa populasi, di mana materialisme
histroris memungkinkan untuk pertama kalinya penyelidikan dengan ketepatan
ilmiah terhadap kondisi-kondisi sosial kehidupan massa, dan perubahan-perubahan
dalam kondisi-kondisi itu.
Sosiologi
dan historiografi pra-Marxis paling jauh hanya
mengedepankan satu pengumpulan atas fakta-fakta mentah, dikumpulkan secara
acak, dan sebuah penjelasan atas tiap aspek proses sejarah secara
terpisah-pisah. Dengan menyelidiki keseluruhan
dari kecenderungan-kecenderungan yang saling berlawanan, dengan mereduksi
gejala-gejala itu menjadi kondisi-kondisi terukur dari kehidupan dan produksi
dari berbagai kelas dalam aspek-aspek
proses kesejarahan; dengan menyelidiki pilihan-pilihan dari ide
"dominan" tertentu atau pada interpretasi ide-ide itu, dan dengan
menunjukkan bahwa, tanpa kecuali, semua
ide dan semua kecenderungan berakar dari
keadaan-keadaan kekuatan material dari produksi; Marxisme menunjukkan jalan
untuk satu studi yang menyeluruh dan mencakup semua hal atas proses dari
kebangkitan, perkembangan dan keruntuhan dari sistem-sistem sosial-ekonomi.
Manusia membuat sejarahnya sendiri tapi apa yang menentukan motif manusia,
motif massa rakyat, yaitu, apa yang
membangkitkan perbenturan dari ide-ide dan kepentingan yang saling bertentangan
ini? Apakah yang menjadi hasil total dari perbenturan-perbenturan di dalam
massa masyarakat manusia? Manakah kondisi objektif dari produksi kehidupan
material yang membentuk basis dari seluruh aktivitas kesejarahan manusia?
Apakah yang menjadi hukum atas perkembangan kondisi-kondisi ini? Untuk semua
pertanyaan ini Marx memusatkan perhatian kita dan menunjukkan jalan pada satu
studi ilmiah terhadap sejarah sebagai proses tunggal yang, dengan segala
keberagaman dan pertentangannya, diatur oleh hukum-hukum yang tegas.
Pertentangan Kelas
Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa dalam sebuah
masyarakat tertentu, kepentingan dari beberapa anggotanya bertentangan dengan
kepentingan dari yang lain, bahwa kehidupan sosial dipenuhi oleh pertentangan,
dan bahwa sejarah mengungkapkan satu pergulatan antara bangsa-bangsa dan
masyarakat-masyarakat, demikian pula halnya di dalam bangsa-bangsa dan
masyarakat-masyarakat, dan, di samping itu, satu pergantian dari masa-masa
revolusi dan reaksi, perdamaian dan perang, kemandegan dan pertumbuhan atau
kejatuhan yang cepat.
Marxisme
telah memberikan panduan, yaitu, teori tentang pertentangan kelas, penemuan
satu hukum yang mengatur hal-hal yang terlihat kacau dan membingungkan ini.
Panduan ini sesungguhnya hanyalah sebuah studi atas seluruh
kepentingan-kepentingan semua anggota dari masyarakat atau kelompok masyarakat
tertentu yang dapat membawa kita kepada penentuan secara ilmiah akan hasil dari
kepentingan-kepentingan itu. Kepentingan-kepentingan yang saling berbenturan
ini berakar dari perbedaan posisi dan cara hidup dari berbagai kelas yang merupakan bentuk dari
pembelahan masyarakat. "Sejarah dari semua masyarakat yang pernah ada
adalah sejarah pertentangan kelas," tulis Marx dalam Manifesto Komunis
(dengan pengecualian atas sejarah masyarakat primitif, tambah Engels
selanjutnya). "Orang-orang bebas dan budak, patrisian dan plebeian, tuan
dan hamba, pemilik gilda dan para pekerja bebas, singkatnya, penindas dan
tertindas, terus berdiri bertentangan satu dengan lainnya, terbawa oleh arus
perjuangan yang tanpa henti, kadang tersembunyi, kadang terbuka, perjuangan yang tiap berakhir, selalu
menghasilkan penyusunan ulang masyarakat secara revolusioner, atau dalam
kehancuran bersama atas kelas-kelas yang bertikai….
Masyarakat
borjuis modern yang telah muncul dari kehancuran masyarakat feudal belumlah
menyelesaikan pertentangan kelas. Sebaliknya ia menegakkan kelas-kelas baru,
kondisi-kondisi penindasan baru, bentuk-bentuk pertentangan yang baru sebagai
pengganti yang lama. Epos kita, epos borjuasi, bagaimanapun, mengandung
waktak-watak khusus ini: ia menyederhanakan pertentangan kelas. Masyarakat
secara keseluruhan semakin harus terpecah menjadi dua kubu besar yang saling
bermusuhan, dalam dua kelas besar yang saling berhadapan secara langsung: kelas
Borjuasi dan kelas Proletariat." Sejak Revolusi Raya Perancis, sejarah
Eropa, di sejumlah negeri, telah mengungkapkan secara jelas apa yang terdapat
di dasar semua kejadian – pertentangan antar kelas-kelas. Masa-masa Restorasi
di Perancis[30]
telah menghasilkan sejumlah sejarawan (Thierry, Guizot, Mignet, dan Thiers)
yang, dalam menyimpulkan apa yang telah terjadi, terpaksa mengakui bahwa
pertentangan kelas adalah kunci dari seluruh sejarah Perancis. Masa modern –
yang merupakan kemenangan telak kaum borjuasi, lembaga-lembaga perwakilan, hak
pilih yang luas (kalau bukan umum), koran-koran harian yang murah, yang
tersebar dengan luas di antara massa, yaitu, massanya serikat-serikat pekerja
dan serikat-serikat pengusaha yang semakin kuat dan meluas, dan lain-lain –
telah menunjukkan dengan semakin tegas (sekalipun kadang di dalam bentuk-bentuk
yang sangat berat sebelah, "damai" dan "konstitusional")
pertentangan kelas sebagai mata air semua peristiwa.
Kutipan
berikut dari Manifesto Komunis Marx akan menunjukkan pada kita apa yang
dituntut Marx dari ilmu sosial menyangkut telaah objektif dari posisi tiap
kelas dalam masyarakat modern, dengan merujuk pada satu pemeriksaan atas
kondisi perkembangan tiap kelas:
"Dari
semua kelas yang berdiri berhadapan dengan kaum borjuasi saat ini, hanya
proletariat yang merupakan kelas yang benar-benar revolusioner. Kelas-kelas
lainnya membusuk dan pada akhirnya akan menghilang di hadapan Industri Modern;
proletariat adalah produknya yang khusus dan hakiki. Kelas menengah ke bawah,
para pemilik pabrik kecil, para pedagang kecil, para pekerja seni, kaum tani
kecil, semua ini akan berlawan menentang kaum borjuasi, untuk menyelamatkan
diri dari kepunahan keberadaannya sebagai bagian dari kelas menengah. Dengan
demikian mereka bukanlah revolusioner, melainkan konservatif. Lebih jauh lagi,
mereka adalah reaksioner, karena mereka berusaha membalikkan jalannya roda
sejarah. Jika kebetulan mereka berwatak revolusioner, mereka hanya melakukannya
karena pandangan tentang peralihan yang tak terhindarkan menjadi proletariat;
dengan demikian mereka mempertahankan, bukan kepentingan mereka yang sekarang,
melainkan kepentingan mereka di masa datang; mereka meninggalkan cara pandang
mereka untuk menempatkan diri dalam cara pandang proletariat."
Dalam
sejumlah karya kesejarahan (lihat Bibliografi), Marx memberikan beberapa contoh
yang cemerlang dan mendasar dari historiografi materialis, akan sebuah telaah
dari posisi dari tiap kelas secara
tersendiri, dan kadangkala atas berbagai kelompok dan strata di dalam sebuah
kelas, menunjukkan secara tegas mengapa dan bagaimana "setiap perjuangan
kelas adalah sebuah perjuangan politik".[31]
Kutipan di atas adalah sebuah gambaran dari bagaimana kompleksnya jaringan
hubungan sosial dan tahap-tahap peralihan
dari satu kelas menuju kelas yang lain, dari masa lalu ke masa datang, yang
diteliti oleh Marx untuk menentukan hasil akhir dari perkembangan kesejarahan.
Doktrin ekonomi Marx adalah pembuktian dan penerapan yang
paling mendasar, menyeluruh dan terinci atas teorinya.
Bab III
Doktrin Ekonomi Marx
Marx menegaskan dalam
pengantarnya untuk Capital,
"Adalah tujuan akhir dari karya ini untuk menelanjangani hukum-hukum
pergerakan ekonomi dari masyarakat modern",[32]
yaitu, masyarakat kapitalis, borjuis. Satu penyelidikan atas hubungan-hubungan
produksi dalam masyarakat tertentu, dalam tahapan sejarah tertentu, dalam pertumbuhan,
perkembangan dan kemundurannya – demikianlah isi dari doktrin ekonomi Marx.
Dalam masyarakat kapitalis produksi dari komoditi
adalah dominan, dan, dengan demikian, telaah Marx dimulai dengan telaah akan
komoditi.
Nilai
Sebuah komoditi, pertama-tama, adalah satu hal yang
memberikan kepuasan terhadap kebutuhan manusia, kedua, ia adalah satu hal yang
dapat dipertukarkan dengan hal yang lain.
Kegunaan
dari suatu hal membuatnya menjadi nilai-guna.
Nilai tukar (atau sederhananya, nilai) di atas segalanya adalah perbandingan,
proporsi, di mana sejumlah nilai guna tertentu dari satu hal dapat
dipertukarkan dengan sejumlah nilai guna tertentu dari hal yang lain.
Pengalaman sehari-hari menunjukkan bahwa jutaan pertukaran semacam itu
terus-menerus saling membandingkan berbagai jenis nilai-guna, bahkan yang
paling jauh perbedaannya dan sebenarnya tak dapat diperbandingkan. Sekarang,
apa hal yang selalu ada di antara berbagai hal ini, hal-hal yang selalu
diperbandingkan dalam sebuah sistem hubungan sosial tertentu? Satu hal yang
merupakan kesamaan di antara mereka adalah bahwa mereka semua adalah hasil dari kerja.
Dalam
pertukaran benda-benda, orang membandingkan berbagai jenis pekerjaan yang
sangat beragam. Produksi komoditi adalah sebuah sistem hubungan sosial di mana
penghasil perorangan menciptakan berbagai produk (di bawah pembagian kerja
sosial), dan di mana semua produk ini diperbandingkan satu sama lain dalam
proses pertukaran. Sebagai akibatnya, apa yang ada dalam setiap komoditi
bukanlah kerja kongkrit dari cabang produksi tertentu, bukanlah satu jenis
kerja tertentu, tapi kerja manusia yang abstrak
– kerja manusia secara umum. Seluruh kekuatan kerja dalam sebuah masyarakat
tertentu, yang terwakili dalam jumlah total nilai dari semua komoditi, adalah
satu kekuatan kerja manusia yang satu dan sama. Ribuan juta aksi pertukaran
membuktikan hal ini. Sebagai akibatnya, tiap komoditi tertentu hanya mewakili
satu potongan kecil dari waktu kerja yang dibutuhkan
secara sosial.
Besarnya
nilai ditentukan oleh jumlah dari kerja yang dibutuhkan secara sosial, atau
oleh waktu kerja yang dibutuhkan secara sosial untuk menghasilkan satu komoditi
tertentu, sebuah nilai-guna tertentu. "Bilamana, oleh sebuah pertukaran,
dengan kita membandingkan nilai dari berbagai produk kita, persis dengan
tindakan itu, kita juga membandingkan kerja manusia, berbagai jenis kerja yang
dituangkan ke atasnya. Kita tidak menyadarinya, walaupun kita tetap
melakukannya."[33]
Seperti yang dikatakan oleh seorang ahli ekonomi yang terdahulu, nilai adalah
hubungan antara dua orang; hanya saja kita harus menambahkan: satu hubungan
yang tersembunyi di balik sebuah bungkus material. Kita hanya dapat memahami
makna nilai jika kita mempertimbangkannya dari sudut pandang sistem hubungan
produksi sosial dalam jenis masyarakat yang tertentu dalam sejarah, lebih jauh
lagi, hubungan-hubungan yang mewujudkan dirinya dalam gejala umum pertukaran,
satu gejala yang mengulangi dirinya beribu-ribu kali. "Sebagai nilai,
semua komoditi hanya terdiri atas kesatuan dari berbagai kumpulan waktu
kerja."[34]
Setelah
membuat telaah terinci dari watak ganda dari kerja yang tercakup dalam sebuah
komoditi, Marx ganti menelaah bentuk-bentuk
nilai dan uang. Di sini, tugas
utama Marx adalah mempelajari asal-muasal
dari uang sebagai perwujudan dari nilai, mempelajari proses kesejarahan dari perkembangan proses pertukaran
("bentuk nilai yang mendasar maupun yang kebetulan", di mana satu
jumlah komoditi tertentu dipertukarkan dengan jumlah tertentu dari komoditi
yang lain), berlanjut sampai satu bentuk universal dari nilai, di mana sejumlah
komoditi yang berbeda-beda dipertukarkan dengan sejumlah komoditi tertentu, dan
berakhir dengan uang sebagai bentuk nilai, ketika emas menjadi komoditi penukar
tertentu itu, perata nilai [ekuivalen, pen.] universal.
Sebagai
perkembangan tertinggi dari pertukaran dan produksi komoditi, uang membungkus,
menutupi, watak sosial dari semua pekerja individu, rantai sosial antara para
penghasil individu dipersatukan di dalam pasar. Marx menelaah berbagai fungsi
uang dalam rincian yang dalam; sangatlah penting di sini untuk memperhatikan
secara khusus (seperti yang diuraikan secara umum dalam bab-bab pembukaan Capital) bahwa apa yang kelihatannya
merupakan metode penjabaran yang abstrak dan seringkali murni deduktif
sesungguhnya menjelaskan sebuah koleksi raksasa dari material-material faktual
sejarah perkembangan pertukaran dan produksi komoditi.
"Jika
kita memperhatikan uang, keberadaannya menunjukkan satu tahapan tertentu dalam
pertukaran komoditi. Kegunaan khusus uang di mana ia berguna, baik sekedar
sebagai perata nilai komoditi, atau sebagai alat perputaran, atau sebagai alat
pembayaran, sebagai alat pengumpulan kekayaan atau sebagai alat pembayaran
universal, menunjukkan, menurut perbandingan penggunaan berbagai fungsi itu
baik secara mutlak maupun secara relatif, berbagai tingkatan tertentu dari
proses produksi sosial" (Capital,
Vol. I).[35]
Nilai Lebih
Pada tahapan perkembangan tertentu dari produksi
komoditi, uang beralih rupa menjadi kapital. Rumus perputaran komoditi
sebelumnya adalah C–M–C (commodity–money–commodity,
barang dagangan–uang–barang dagangan), yaitu, penjualan dari satu komoditi
untuk membeli komoditi yang lain. Rumusan umum dari kapital, sebaliknya adalah
M–C–M, yaitu, pembelian untuk dijual kembali (dengan tambahan keuntungan).
Peningkatan nilai uang yang ditambahkan ke dalam perputaran disebut nilai lebih
oleh Marx. Fakta tentang "pertumbuhan" uang ini dalam perputaran
kapitalis sudah diketahui khalayak umum. Sesungguhnya, persis "pertumbuhan"
inilah yang mengubah uang menjadi kapital,
sebagai sebuah hubungan produksi sosial yang khusus dan ditentukan secara
kesejarahan. Nilai lebih tidak dapat muncul dari pertukaran komoditi, karena
pertukaran komoditi hanya mengenal pertukaran perata nilai; ia juga tidak dapat
muncul dari pertambahan harga karena gabungan kerugian dan keuntungan dari
semua pembeli dan penjual akan saling meniadakan satu sama lainnya, karena yang
kita lihat di sini bukanlah sebuah gejala tersendiri yang terpisah dari gejala
lainnya melainkan satu gejala yang massal, berlaku di mana-mana dan sosial.
Untuk meraup nilai lebih, para pemilik uang "harus… menemukan… sebuah
komoditi di pasar, yang nilai-gunanya mengandung satu watak khusus sebagai
sumber nilai"[36]
– sebuah komoditi yang dalam proses penggunaannya justru pada saat yang sama
menjadi proses penciptaan nilai.
Komoditi seperti ini ada – kemampuan kerja manusia.
Komoditi
ini digunakan dalam kerja, dan kerja menciptakan nilai. Para pemilik uang
membeli kemampuan kerja pada tingkat nilainya, di mana seperti nilai dari
segala jenis komoditi yang lain, ditentukan oleh waktu kerja sosial yang perlu
untuk menghasilkannya (yaitu, biaya yang diperlukan untuk menghidupi si pekerja
dan keluarganya). Setelah membeli kemampuan kerja itu, para pemilik uang berhak
menggunakannya, yaitu, untuk mempekerjakannya sepanjang hari – katakanlah,
selama 12 jam. Walau demikian, dalam tempo enam jam (waktu kerja
"perlu"), si pekerja menciptakan produk yang nilainya cukup untuk
menutupi biaya penghidupan bagi dirinya sendiri; dalam tempo enam jam
berikutnya (waktu kerja "lebih"), ia meniciptakan produk
"lebih" atau nilai lebih, yang tidak dibayar oleh para kapitalis.
Dengan
demikian, dari sudut pandangan proses produksi, kedua bagian harus dibedakan
dalam kapital: kapital tetap [constant
capital, pen.], yang dihabiskan untuk membeli alat-alat produksi (mesin,
alat, bahan baku, dll.), yang nilainya, tanpa perubahan apapun, dipindahkan
(secara langsung atau bertahap) kepada produk akhir; kedua, kapital berubah [variable capital, pen.], yang dihabiskan
untuk membeli kemampuan kerja. Nilai dari jenis kapital terakhir ini tidaklah
tetap, melainkan bertumbuh dalam proses kerja, menciptakan nilai lebih. Dengan
demikian, untuk menyatakan derajat penghisapan kapital terhadap kemampuan
kerja, nilai lebih harus diperbandingkan, bukan dengan seluruh kapital tapi
hanya terhadap kapital variabel. Selanjutnya, dalam contoh yang telah
diberikan, rasio nilai lebih, seperti nama yang diberikan oleh Marx, akan
menjadi 6:6, yaitu, 100 persen.
Ada dua prasyarat sejarah agar kapital dapat bangkit:
pertama, akumulasi dari jumlah uang tertentu di tangan perorangan di bawah
kondisi pertumbuhan produksi komoditi yang relatif tinggi secara umum; kedua,
adanya seorang pekerja yang "bebas" dalam makna ganda: bebas dari
segala hambatan atau pembatasan dalam menjual kemampuan kerjanya, dan bebas
dari kepemilikan tanah dan segala jenis alat produksi secara umum, yakni
seorang pekerja yang bebas dan tak terikat, seorang "proletariat",
yang tidak akan dapat mempertahankan hidup kecuali jika ia menjual kemampuan
kerjanya.
Ada dua cara utama untuk meningkatkan nilai lebih: yakni
dengan memperpanjang hari kerja ("nilai lebih mutlak"), dan
mengurangi hari kerja yang dibutuhkan ("nilai lebih relatif"). Dalam
menelaah hal yang pertama, Marx memberikan gambaran yang sangat mengesankan
dari perjuangan kelas pekerja untuk mempersingkat hari kerja dan campur tangan
negara untuk memperpanjangnya (dari abad ke-14 sampai ke-17). Sejak kemunculan Capital, sejarah gerakan kelas-pekerja
di semua negeri beradab di dunia telah menyediakan segunung fakta baru yang
memperkuat penggambaran ini.
Dalam meneliti penciptaan nilai lebih relatif, Marx
menyelidiki tiga tahap kesejarahan yang mendasar dalam peningkatan
produktivitas kerja di bawah kapitalisme: (1) kerja sama yang sederhana; (2)
pembagian kerja, dan manufaktur; (3) penggunaan mesin-mesin dan
industri-industri besar. Betapa mendasar penggambaran Marx tentang watak dasar
dan seragam dari perkembangan kapitalis ditunjukkan secara tidak sengaja oleh
fakta, bahwa penyelidikan mengenai industri kerajinan di Rusia menyediakan
tumpukan material yang menggambarkan dua tahap pertama dari tahap-tahap yang
disebutkan di atas. Efek revolusioner dari mesin-mesin industri skala besar,
seperti yang digambarkan oleh Marx di tahun 1867, telah menunjukkan dirinya
dalam sejumlah negeri "baru" (Rusia, Jepang, dll.), sepanjang
setengah abad yang telah lewat.
Mari kita lanjutkan. Hal yang baru dan amat sangat
penting adalah telaah Marx tentang akumulasi
kapital, yaitu, peralihan satu bagian nilai lebih menjadi kapital, dan
penggunaannya, bukan untuk memuaskan kepentingan pribadi atau nafsu sang
kapitalis, tapi untuk proses produksi yang baru. Marx menunjukkan kesalahan
yang dibuat oleh semua ahli ekonomi politik klasik yang mendahuluinya (mulai
dari Adam Smith), yang menganggap bahwa semua nilai lebih yang dialihkan
menjadi kapital berubah bentuk menjadi kapital variabel. Pada kenyataannya, ia
terbagi menjadi alat produksi dan
kapital variabel. Yang sangat bermakna untuk proses perkembangan kapitalisme
dan peralihannya menuju sosialisme adalah pertumbuhan yang semakin cepat dari
proporsi kapital tetap (jika dibandingkan dengan kapital total) ketimbang
pertumbuhan kapital variabel.
Dengan mempercepat penggantian pekerja dengan mesin dan
dengan menciptakan kekayaan di satu kutub dan kemiskinan di kutub yang lain,
akumulasi kapital menumbuhkan pula apa yang dikenal sebagai "pasukan
pekerja cadangan" [reserve army of
labor, pen.], juga "kelebihan relatif" [relative surplus, pen.] jumlah pekerja, atau "kelebihan jumlah
kapitalis" [capitalist
overpopulation, pen.], yang mengambil bentuk sangat beragam dan
memungkinkan kapital mengembangkan produksi dengan kecepatan tak terbayangkan.
Sambil bergandeng tangan dengan fasilitas kredit dan akumulasi kapital dalam
bentuk alat produksi, hal ini secara kebetulan menjadi kunci untuk memahami krisis kelebihan produksi [overproduction, pen.] yang terjadi
secara berkala di negeri-negeri kapitalis – semula dalam rata-rata setiap
sepuluh tahun, lalu pada jarak yang lebih panjang dan kurang tertentu. Dari
akumulasi kapital di bawah kapitalisme, kita harus mengenali apa yang dikenal
sebagai akumulasi primitif: pemisahan pekerja secara paksa dari alat
produksinya, pengusiran petani dari tanahnya, pencurian tanah-tanah adat,
sistem koloni dan hutang nasional, tarif yang protektif, dan sebagainya.
"Akumulasi primitif" menciptakan proletariat yang "bebas"
di satu kutub dan para pemilik uang, si kapitalis, di kutub yang lain.
"Kecenderungan
sejarah akan akumulasi kapitalis" dijelaskan oleh Marx dalam kata-kata
ternama di bawah ini:
"Penghisapan
atas para penghasil langsung [direct
producers, pen.] dicapai melalui kebiadaban yang tanpa ampun, dan di bawah
rangsangan nafsu yang paling kejam, paling kotor, paling rendah, paling keji
dan menjijikkan. Milik pribadi yang diperoleh dari keringat sendiri (oleh para
petani dan perajin), yang didasarkan, dapat dikatakan begitu, pada penyatuan
berbagai pribadi yang bekerja secara sendiri-sendiri dengan kondisi kerjanya,
kini digantikan oleh kepemilikan pribadi kapitalistik, yang bersandar pada
penghisapan atas tenaga kerja orang lain yang secara teori bebas…. Yang kini
akan dihisap bukanlah lagi para pekerja yang bekerja untuk diri mereka sendiri,
tapi sang kapitalis menghisap banyak pekerja. Penghisapan ini dicapai melalui
tindakan yang merupakan hukum naluriah dari produksi kapitalistik itu sendiri,
yakni melalui pemusatan kapital. Seorang kapitalis akan selalu membunuh banyak
orang. Sejalan dengan pemusatan ini, atau dengan perampasan oleh segelintir
orang terhadap banyak kapitalis, berkembanglah, dengan ukuran yang semakin hari
semakin besar, bentuk-bentuk kerja sama dari proses kerja, penerapan ilmu
pengetahuan secara sadar, pengolahan tanah yang metodik, peralihan dari
alat-alat kerja menjadi alat-alat kerja yang hanya dapat digunakan secara
bersama-sama, ekonomisasi dari semua alat produksi melalui kegunaan mereka
sebagai alat produksi dari kerja yang sosial dan terangkai, penjeratan semua
orang dalam jaring rejim kapitalistik. Sejalan dengan semakin menipisnya jumlah
kapital industriawan, yang meraup dan memonopoli semua keuntungan dari proses
peralihan ini, tumbuhlah segunung kesengsaraan, ketertindasan, perhambaan,
penghinaan, penghisapan; tapi bersama dengannya tumbuh pula pemberontakan kelas
pekerja, satu kelas yang selalu bertumbuh dalam jumlah, dan terdisiplinkan,
dipersatukan dan diorganisasikan oleh mekanisme yang menjadi jantung produksi
kapitalis itu sendiri. Monopoli atas kapital merupakan satu rantai yang
mengikat kaki cara produksi, yang telah lahir dan berkembang sejalan dengannya,
dan di bawah monopoli itu. Pemusatan alat produksi dan sosialisasi kerja
akhirnya mencapai titik di mana mereka menjadi tidak cocok lagi dengan kulit
kerang kapitalisme. Tudung itu akan robek tercabik-cabik. Terdengarlah rubuhnya
kepemilikan pribadi kapitalis. Para penindas akan jatuh tertindas" (Capital, Vol. I).[37]
Hal yang juga baru dan maha penting adalah telaah yang diberikan
Marx, dalam Capital Volume II, atas
reproduksi dari kapital sosial secara agregat. Di sini juga Marx mengurusi,
bukan hanya gejala-gejala yang terpisah satu sama lain tapi dengan gejala yang
berlaku massal; bukan dengan bagian kecil dari perekonomian masyarakat, tapi
dengan perekonomian sebagai keseluruhan. Dengan mengoreksi kesalahan dari
ahli-ahli ekonomi klasik seperti yang telah disebut di atas, Marx membagi
seluruh produksi sosial menjadi dua bagian besar: (I) produksi atas alat
produksi, dan (II) produksi atas barang-barang konsumsi, dan menyelidiki secara
rinci, dengan sejumlah besar contoh, perputaran dari kapital sosial agregat –
baik ketika direproduksi dalam dimensi awalnya maupun dalam kasus akumulasi.
Volume III dari Capital menyelesaikan
masalah bagaimana tingkat keuntungan
rata-rata dihasilkan berdasarkan hukum nilai. Langkah maju raksasa dalam
ilmu ekonomi ini terletak dalam telaahnya, dari sudut pandang gejala ekonomi
massal, atas sosial ekonomi secara umum, bukan dari sudut pandang kasus
satu-persatu atau dari aspek persaingan yang eksternal dan palsu, yang sering
menjadi pembatasan dari ekonomi-poklitik vulgar dan "teori kegunaan
marjinal"[38]
yang modern itu.
Pertama-tama
Marx menelaah asal-muasal nilai lebih dan kapital total yang ditanamkan dalam
sebuah perusahaan. Kapital dengan satu "komposisi organik tinggi"
(yaitu, dengan perbandingan kapital konstan dan variabel di atas rata-rata
sosialnya) menghasilkan satu tingkat keuntungan di bawah rata-rata; kapital
dengan "komposisi organik rendah" menghasilkan tingkat keuntungan di
atas rata-rata. Persaingan antar para kapitalis, dan kebebasan mereka untuk
mengalihkan kapital mereka dari satu cabang ke cabang lainnya, dalam kedua
kasus akan mengurangi tingkat keuntungan sampai tingkat rata-rata. Jumlah total
dari nilai semua komoditi dalam masyarakat tertentu bertepatan dengan jumlah
total harga dari komoditinya, tapi dalam perusahaan pribadi dan cabang-cabang
produksi, sebagai hasil dari kompetisi, komoditi dijual, bukan berdasarkan nilainya
tapi pada tingkat harga produksi,
yang setara dengan kapital yang dihabiskan tambah keuntungan rata-rata.
Dengan cara ini, fakta yang diketahui umum dan tak
terbantahkan tentang perbedaan antara harga dan nilai dan tentang penyetaraan
keuntungan dijelaskan secara panjang lebar oleh Marx berdasarkan hukum nilai,
karena jumlah total dari nilai dari semua komoditi bertepatan dengan jumlah
total harga. Walau demikian, penyetaraan dari nilai (sosial) pada harga
(individu) tidak terjadi secara sederhana dan langsung, melainkan dalam sebuah
cara yang demikian kompleks. Sangatlah alami bahwa dalam sebuah masyarakat di
mana para produsennya terpisah-pisah, satu ketundukan terhadap hukum hanya
dapat terjadi secara rata-rata, sosial dan massal, dengan penyimpangan di
sana-sini oleh individu ke segala arah sehingga saling meniadakan.
Peningkatan produktivitas kerja menunjukkan pertumbuhan
kapital konstan yang semakin cepat dibandingkan dengan kapital variabel. Karena
nilai lebih adalah fungsi tunggal dari kapital variabel, sangat jelas bahwa
tingkat keuntungan (perbandingan antara nilai lebih terhadap seluruh kapital,
bukan terhadap kapital variabel saja) cenderung jatuh. Marx membuat telaah yang
rinci atas kecenderungan ini dan sejumlah lingkungan yang menutupi atau melawan
kecenderungan tersebut. Tanpa berhenti untuk melihat dahulu satu bagian yang
sangat menarik dari Capital Volume
III yang membahas perampasan kapital, kapital komersial dan kapital uang, kita
harus langsung menuju bagian yang paling penting – teori tentang sewa tanah. Karena tanah terbatas dan,
di negeri-negeri kapitalis, semua tanah dimiliki secara pribadi, harga produksi
dari produk pertanian ditentukan oleh biaya produksi, bukan di atas tanah yang
kualitasnya rata-rata melainkan di atas tanah yang kualitasnya paling buruk;
bukan di bawah kondisi rata-rata di mana produk tersebut dapat dibawa ke pasar,
melainkan di bawah kondisi yang paling buruk. Perbedaan dari harga ini dan
harga produksi di atas tanah yang lebih subur (atau dalam kondisi yang lebih
baik) membentuk sebuah rente diferensial.
Dengan
menelaahnya secara rinci, dan menunjukkan bagaimana hal itu muncul dari
perbedaan dalam tingkat kesuburan di berbagai bidang lahan, dan dari perbedaan
dalam tingkat kapital yang di tanamkan di atasnya, Marx menunjukkan secara
gamblang (lihat pula Theories of Surplus
Value, di mana penting dicatat kritik terhadap Rodbertus)
kesalahan-kesalahan Ricardo, yang menilai bahwa sewa diferensial diturunkan
hanya ketika terjadi pergantian beruntun dari tanah yang lebih subur ke tanah
yang kurang subur. Sebaliknya, bisa terjadi pergantian ke arah yang sebaliknya,
tanah dapat berpindah dari satu kategori ke dalam kategori yang lain
(tergantung dari kemajuan teknologi pertanian, pertumbuhan kota, dan
seterusnya), dan "hukum tingkat keuntungan yang semakin menurun" yang
terkenal jeleknya itu, yang menimpakan kesalahan, pembatasan dan kontradiksi
dalam kapitalisme kepada Alam, salah secara mendasar. Lebih jauh lagi,
penyetaraan keuntungan di semua cabang industri dan perekonomian nasional
secara umum menuntut satu kebebasan penuh untuk bersaing dan aliran bebas dari
satu cabang ke cabang yang lain. Walau demikian, kepemilikan pribadi atas tanah
menghasilkan monopoli, yang menghambat aliran bebas itu. Karena monopoli itu, produk
pertanian, yang dicapai melalui komposisi kapital organik yang lebih rendah,
dan tingkat keuntungan pribadi yang lebih tinggi yang menjadi akibatnya, tidak
masuk ke dalam proses penyetaraaan tingkat keuntungan yang berlangsung cukup
bebas.
Sebagai
seorang monopolis, tuan tanah dapat menetapkan harga di atas rata-rata, dan
harga monopoli ini menumbuhkan rente mutlak.
Rente diferensial tidak dapat dihapuskan di bawah kapitalisme, tapi kita dapat
menghapuskan rente mutlak – contohnya, dengan nasionalisasi tanah, dengan
membuatnya menjadi milik negara. Hal itu akan menggerogoti monopoli para tuan
tanah, dan akan menghasilkan sebuah pelaksanaan kebebasan dan persaingan yang
lebih konsisten dan penuh di dalam pertanian. Inilah mengapa, seperti yang
ditunjukkan oleh Marx, kaum borjuis radikal telah berkali-kali dalam sejarah
mengajukan tuntutan borjuis progresif untuk menasionalisasi tanah, tuntutan
yang sebetulnya menakutkan bagi sebagian besar borjuasi, karena tuntutan itu
akan sangat dekat dan bersinggungan dengan monopoli lainnya, sebuah monopoli
yang sangat penting dan "peka" saat ini – monopoli atas alat produksi
secara umum. (Satu, penjelasan yang sangat populer, ringkas dan terang mengenai
teorinya tentang tingkat keuntungan rata-rata dari kapital dan tentang rente
tanah mutlak diberikan oleh Marx sendiri dalam sebuah surat pada Engels,
tertanggal 2 Agustus 1862. Lihat Briefweschel,
Vol. 3, pp. 77-81; juga surat tertanggal 9 Agustus 1862, ibid. pp. 86-87.)
Dengan merujuk pada sejarah rente tanah, penting pula
untuk memperhatikan telaah Marx yang menunjukkan bagaimana rente kerja (petani
yang menciptakan produk lebih dengan bekerja di tanah milik tuannya) diubah
menjadi rente yang dibayar dalam bentuk produk atau sejenisnya (petani
menciptakan produk lebih di tanah miliknya sendiri dan menyerahkannya ke tangan
tuannya karena "pembatasan-pembatasan non-ekonomi"), lalu diubah lagi
menjadi rente uang (rente dalam bentuk produk, yang diubah menjadi uang – obrok di Rusia tempo dulu – sebagai
hasil pengembangan produksi komoditi), dan akhirnya diubah menjadi rente
kapitalis, ketika petani digantikan oleh usahawan pertanian, yang menggarap
tanah dengan bantuan pekerja-pekerja pertanian. Dalam hubungan dengan
telaah tentang "asal-usul rente
tanah kapitalistik" ini, kita harus memperhatikan tentang sejumlah ide-ide
dasar (yang sangat penting untuk diperhatikan dalam kasus negeri yang
terbelakang seperti Rusia) seperti dinyatakan oleh Marx menyangkut evolusi kapitalisme dalam pertanian.
"Perubahan
dari rente dalam bentuk produk ke dalam rente uang, lebih jauh lagi, bukan saja
diiringi, tapi juga dinanti-nanti, oleh pembentukan satu kelas pekerja harian
yang tak memiliki milik pribadi, yang menyewakan dirinya untuk mendapat uang.
Selama pembentukannya, ketika kelas baru ini muncul di mana-mana secara
spontan, perlulah mereka mengembangkan satu kebiasaan di kalangan para petani
yang lebih kaya, yang dikenai rente uang, untuk menghisap para pekerja
pertanian bayaran untuk kepentingan mereka sendiri, sebagaimana yang terjadi
dalam masa-masa feudal, ketika petani-petani hamba yang lebih kaya turut pula
memiliki hamba-hambanya sendiri. Dengan cara ini, mereka perlahan-lahan
mendapatkan kemungkinan mengumpulkan satu jumlah kekayaan tertentu dan mengubah
diri mereka menjadi kapitalis di masa depan. Para pemilik tanah yang tadinya
bekerja untuk diri mereka sendiri itu akhirnya menumbuhkan satu rumah asuhan
bagi kaum kapitalis pedesaan, yang perkembangannya dikondisikan oleh
perkembangan umum produksi kapitalis di luar batas-batas pedesaan itu
sendiri" (Capital, Vol. III, p.
332).[39]
Perampasan
dan pengusiran sebagian masyarakat pertanian bukan saja membebaskan tumbuhnya
kapital industrial, kaum pekerja, alat-alat untuk menunjang hidupnya, dan
material untuk melakukan pekerjaan; hal itu juga menciptakan pasar dalam
negeri" (Capital, Vol. I, pp.
778).[40]
Pada gilirannya, pemiskinan dan kehancuran masyarakat pertanian memainkan satu
bagian dalam penciptaan, untuk kepentingan kapital, satu pasukan pekerja
cadangan. Dalam setiap negeri kapitalis "sebagian masyarakat pertanian
jadi selalu berada di titik peralihan menjadi proletariat kota atau manufaktur
(yaitu, non-pertanian)…. Sumber kelebihan populasi relatif ini dengan demikian
terus mengalir…. Para pekerja pertanian akhirnya jatuh ke dalam upah yang
paling minimum dari segala upah, dan selalu berada dengan satu kaki di dalam
lumpur kemiskinan" (Capital,
Vol. I, p. 668).[41]
Kepemilikan pribadi atas tanah petani yang digarapnya adalah landasan bagi
produksi skala kecil dan kondisi perkembangannya sampai mencapai bentuk-bentuk
yang klasik. Tapi produksi skala kecil ini hanya cocok dengan kerangka produksi
dan masyarakat yang sempit dan primitif. Di bawah kapitalisme "penghisapan
atas petani hanya berbeda dalam bentuk dengan penghisapan atas proletariat
industri. Penghisapnya sama: kapital. Kapitalis perorangan menghisap petani
perorangan melalui gadai dan perampasan; kelas kapitalis menghisap kelas petani
melalui pajak-pajak negara" (The
Class Struggle in France).[42]
Perusahaan tani yang kecil-kecil ini sekarang hanya merupakan alasan yang
memungkinkan kaum kapitalis untuk menarik keuntungan, bunga dan rente dari
tanah, sambil membiarkan perusahaan itu tetap di tangan para penggarap itu
sendiri untuk melihat bagaimana mereka dapat memperoleh upah" (The Eighteenth Brumaire).[43] Aturannya adalah kaum tani harus menyerah
pada masyarakat kapitalis, yaitu, pada kelas kapitalis, bahkan bagian upahnya,
tenggelam "sampai tingkatan upah para peteni penyewa Irlandia – semua di
bawah khayalan bahwa mereka adalah para pemilik pribadi dari tanah mereka"
(The Class Struggle in France).[44]
Apa
yang "menjadi satu-satunya alasan mengapa harga gandum lebih rendah di
daerah-daerah di mana lebih banyak kepemilikan tanah pribadi yang kecil-kecil
daripada di daerah di mana terdapat dominasi cara produksi kapitalis"? (Capital, Vo. III, p. 340). Hal itu
disebabkan karena para petani menyerahkan secara gratis kepada masyarakat
(yaitu, kelas) kapitalis sebagian dari hasil lebihnya. "Harga (gandum dan
lain-lain produk pertanian) yang lebih rendah ini adalah hasil yang wajar dari
kemiskinan para penghasilnya dan bukannya dari produktivitas kerjanya" (Capital, Vol. III, p. 340). Di bawah
kapitalisme sistem perusahaan kecil, yang merupakan bentuk normal dari produksi
skala kecil, membusuk, runtuh dan gugur. "Kepemilikan dari petak-petak
tanah, dari sifat dasarnya, tidak menyertakan perkembangan kekuatan produksi
sosial kerja, bentuk sosial kerja, pemusatan sosial atas kapital, peternakan
skala besar, dan penerapan ilmu pengetahuan secara progresif. Perampasan dan
sistem pajak akan memiskinkannya di manapun. Pembelanjaan kapital dalam harga
tanah menarik kapital ini dari proses pengerjaan tanah. Satu keterpecahbelahan
yang tak terhingga atas alat-alat produksi, dan isolasi atas kaum penghasil itu
sendiri." (Perkumpulan-perkumpulan koperasi, yaitu, kumpulan dari para
petani kecil, walaupun memainkan peranan borjuis yang sangat progresif, hanya
melemahkan kecenderungan ini tanpa menghapuskannya; jangan pula dilupakan bahwa
perkumpulan koperasi ini menyumbang banyak untuk para petani kaya, dan hanya
sedikit – hampir-hampir tidak ada – untuk massa petani miskin, dan
perkumpulan-perkumpulan itu sendiri menjadi penghisap dari pekerja-pekerja
sewaan.) "Pemborosan besar-besaran atas tenaga manusia. Pembusukan
progresif dari kondisi-kondisi produksi dan peningkatan harga alat-alat
produksi – satu hukum yang niscaya bagi kepemilikan petak-petak tanah."[45]
Dalam
pertanian, sebagaimana dalam industri, kapitalisme hanya dapat mengubah proses
produksi dengan "memartirkan para penghasil". "Penyebaran
pekerja-pekerja pertanian pada wilayah yang semakin luas mematahkan kekuatan
perlawanan mereka, sementara pemusatan meningkatkan kekuatan itu pada
operasi-operasi di kota. Dalam pertanian modern, sebagaimana dalam industri
perkotaan, harga yang harus dibayar untuk produktivitas dan jumlah pekerja yang
semakin meningkat adalah pemborosan dan penyakit yang diderita oleh kemampuan
kerja itu sendiri. Lebih jauh lagi, semua kemajuan dalam pertanian kapitalistik
adalah kemajuan dalam seni, bukan hanya seni merampok para pekerja, tapi juga
seni merampok tanah…. Produksi kapitalis, dengan demikian, mengembangkan
teknologi, dan penggabungan dari berbagai proses menjadi satu kesatuan sosial,
hanya dengan menghisap sumber asali dari semua kekayaan – tanah dan para
pekerjanya" (Capital, Vol. I,
akhir Bab 13).[46]
Bab IV
Sosialisme
Dari seluruh tema yang kita
bahas jelaslah bahwa Marx menyimpulkan keniscayaan peralihan dari masyarakat
kapitalis menjadi masyarakat sosialis, seluruhnya dan secara eksklusif, dari
hukum-hukum ekonomi dari perkembangan masyarakat yang sekarang ada. Sosialisasi
atas kerja, yang meraih kemajuan yang semakin cepat dalam ribuan bentuk dan
mewujudkan dirinya secara sangat nyata, selama setengah abad setelah wafatnya
Marx, dalam pertumbuhan produksi skala besar, kartel-kartel kapitalis, sindikat
dan trust, sebagaimana juga dalam
peningkatan raksasa dalam kuasa dan dimensi dari kapital keuangan, menyediakan
pondasi material prinsipil bagi kemajuan yang niscaya ke arah sosialisme.
Pendorong utama [motive force, pen.]
secara moral dan intelektual dan pelaksana fisik dari peralihan ini adalah
proletariat, yang telah dilatih oleh kapitalisme itu sendiri. Perjuangan
proletariat melawan borjuasi, yang menemukan wujudnya dalam berbagai bentuk
yang semakin kaya dalam isinya, niscaya menjadi satu perjuangan politik yang
diarahkan menuju penundukkan kekuasaan politik ke tangan proletariat
("kediktatoran proletariat").
Sosialisasi
produksi tidak bisa tidak akan membawa alat-alat produksi menjadi milik
masyarakat, kepada "penindasan
terhadap para penindas". Peningkatan raksasa dalam produktivitas kerja,
hari kerja yang lebih pendek, dan penyingkiran sisa-sisa, puing-puing produksi
yang berskala kecil, primitif dan terpencar-pencar oleh kerja yang kolektif dan
lebih bermutu – itulah contoh akibat langsung dari peralihan ini. Kapitalisme
mematahkan selamanya ikatan antara pertanian dan industri, tapi pada saat
bersamaan, melalui perkembangannya yang puncak, juga menyiapkan satu unsur baru
atas ikatan-ikatan itu, satu penyatuan antara industri dan pertanian
berdasarkan penerapan ilmu pengetahuan secara sadar dan pemusatan kerja
kolektif, dan akan satu pembagian kembali populasi manusia (dan mengakhiri
pemusatan massa rakyat secara tidak alami di perkotaan).
Satu
bentuk keluarga yang baru, kondisi-kondisi baru dalam status kaum perempuan dan
dalam pendidikan generasi muda disediakan oleh bentuk tertinggi dari
kapitalisme masa kini: dipekerjakannya kaum perempuan dan anak-anak dan
pematahan keluarga patriarki oleh kapitalisme niscaya mengambil bentuk yang
paling mengerikan, rusak dan menjijikkan dalam masyarakat modern. Walau
demikian, "industri modern, dengan penempatan-penempatan kerjanya, atas satu
bagian penting dalam sebuah proses produksi sosial, di luar lingkup domestik [domestic sphere, pen.], atas perempuan,
kaum muda, dan anak-anak dari kedua jenis kelamin, menciptakan satu pondasi
ekonomi untuk bentuk keluarga yang lebih tinggi dan untuk bentuk-bentuk
hubungan antara kedua jenis kelamin. Tentu saja, sangatlah absurd untuk
menganggap bentuk keluarga ala Kristen-Teutonik sebagai bentuk yang mutlak dan
final sama halnya seperti menerapkan ciri-ciri keluarga itu terhadap peradaban
Roma kuno, Yunani kuno, atau terhadap bentuk-bentuk keluarga Timur yang,
lebih-lebih, bila disatukan akan membentuk satu serial perkembangan
kesejarahan. Lebih-lebih lagi, jelas bahwa fakta tentang kelompok kerja
kolektif yang tersusun dari segala jenis kelamin dan segala umur, niscaya, di
bawah kondisi-kondisi yang sesuai, menjadi sumber perkembangan yang
menguntungkan; sekalipun dalam bentuknya sekarang yang kapitalistik dan
dikembangkan secara spontan dan brutal, di mana pekerja hidup bagi proses
produksi, bukannya proses produksi ada bagi kepentingan kaum pekerja, fakta ini
menjadi sumber gulma korupsi dan perbudakan" (Capital, Vol. I, akhir bab 13). Sistem pabrik mengandung
"benih-benih pendidikan bagi masa depan, satu pendidikan yang akan, dalam
hal tiap anak berumur cukup, menggabungkan kerja produktif dengan instruksi dan
latihan, bukan hanya sebagai salah satu metode penambahan efisiensi produksi
sosial, tapi sebagai satu-satunya cara untuk menghasilkan umat manusia yang
dewasa sepenuhnya" (ibid.).[47]
Sosialisme
Marx menempatkan masalah kebangsaan dan Negara dalam kedudukan sejarah yang
sama, bukan hanya dalam bentuk satu ramalan yang berani tentang masa depan dan
akan satu aksi praktis yang berani untuk mencapainya. Bangsa-bangsa adalah
produk niscaya, bentuk niscaya, dalam epos perkembangan sosial borjuis. Kelas
pekerja tidak dapat tumbuh perkasa, matang dan berujud tanpa "menyatukan
dirinya dalam bangsa-bangsa", tanpa menjadi "bangsa"
("sekalipun bukan dalam makna yang dimaksudkan kaum borjuasi"). Walau
demikian, perkembangan kapitalisme semakin jauh mematahkan batas-batas negara,
menghilangkan isolasi nasional, dan menggantikan pertentangan antar kelas
dengan pertentangan antar bangsa. Dengan demikian, sungguh benar, terutama bagi
negeri-negeri berkembang, bahwa "kaum pekerja tidak memiliki negeri"
dan bahwa "kesatuan aksi" oleh kaum pekerja, setidaknya dalam
negeri-negeri beradab, "adalah satu dari kondisi-kondisi awal untuk
emansipasi kaum proletariat" (Communist
Manifesto).[48]
Negara, yang merupakan alat penindas yang terorganisir, niscaya muncul dalam
tahapan tertentu dalam perkembangan masyarakat, ketika masyarakat itu telah
terpecah menjadi dua kelas yang tak terdamaikan, dan tidak akan hidup tanpa
satu "kekuasaan" tersendiri yang berdiri di atas masyarakat, dan sampai
tahap tertentu terpisah daripadanya. Tumbuh dari pertentangan kelas, negara
menjadi
"…negaranya
kelas yang paling kuat, paling dominan secara ekonomi, yang mana, melalui
perantaraan negara, menjadi kelas yang dominan pula secara politik, dan dengan
demikian menggenggam alat-alat baru untuk menekan dan menghisap kelas
tertindas. Maka, negara-negara kuno terutama adalah negaranya para pemilik
budak demi menekan kaum budak, sebagaimana negara feudal adalah alat kaum
bangsawan untuk menekan para petani hamba dan hamba-hamba sahaya, dan negara
perwakilan modern adalah alat penghisapan kapital atas pekerja upahan"
(Engels, The Origin of the Family,
Private Property and the State, satu karya di mana sang penulis menguraikan
pandangannya sendiri dan pandangan Marx).[49]
Bahkan republik demokratik,
bentuk negara borjuasi yang paling bebas dan progrresif, tidaklah menghapuskan
fakta ini sama sekali, melainkan hanya mengubah bentuknya (hubungan antara
pemerintah dan pasar bursa, korupsi – langsung atau tak langsung – oleh para
pejabat dan pers, dll.).
Dengan
membawa kita pada penghapusan kelas-kelas, sosialisme akan mengarahkan kita
pula pada penghapusan negara. "Langkah pertama," tulis Engels dalam Anti-Dühring, "yang menggambarkan
sejatinya negara sebagai perwakilan masyarakat secara keseluruhan – kepemilikan
atas alat produksi atas nama masyarakat – adalah, sekaligus, tindakan
mandirinya yang terakhir sebagai negara. Campur tangan negara dalam tiap bidang
kehidupan akan semakin menjadi pemborosan, lalu berhenti karenanya.
Pemerintahan perorangan digantikan oleh administrasi dan oleh arahan atas
proses produksi. Negara tidak 'dilenyapkan', ia melenyap."[50]
"Masyarakat yang akan mengorganisir produksi atas dasar perkumpulan kaum
pekerja yang sukarela dan setara akan meletakkan seluruh mesin negara di mana
seharusnya ia berada: dalam Museum Benda-benda Kuno, di sisi roda pintal benang
dan kapak jaman perunggu" (Engels, The
Origin of the Family, Private Property and the State).[51]
Akhirnya,
dengan memperhatikan sikap sosialisme Marx terhadap para petani kecil, yang
akan terus hidup dalam masa penindasan atas para penindas, kita harus merujuk
pada satu pernyataan yang dibuat Engels, yang menyatakan pandangan Marx:
"…
ketika kita memiliki kuasa negara, kita bahkan tidak akan berpikir untuk
memaksakan perampasan tanah para petani kecil (baik dengan atau tanpa ganti
rugi), seperti yang akan harus kita lakukan dalam kasus para tuan tanah besar.
Tugas kita menyangkut para petani kecil terdiri dari, terutama, mengefektifkan
peralihan dari perusahaan dan kepemilikan pribadinya menjadi koperasi-koperasi,
bukan dengan paksaan tapi melalui bebagai contoh kecil dan penyediaan bantuan
sosial untuk keperluan ini. Lalu kita tentu juga akan harus menyediakan cukup
alat untuk menunjukkan pada para petani kecil ini keuntungan prospektif yang
pasti juga sudah jelas baginya saat ini" (Engels, The Peasant Question in France and Germany,[52]
p. 17, diterbitkan oleh Alexeyeva; ada beberapa kesalahan dalam terjemahan
Rusianya. Tulisan asli dalam Die Neue
Zeit[53]).
Bab V
Taktik Perjuangan Kelas Proletariat
Setelah menelaah, sejak
1844-45, satu dari kekurangan utama dari materalisme yang sebelumnya, yaitu,
ketidakmampuannya untuk memahami keadaan atau mengapresiasi pentingnya
aktivitas revolusioner praktis, Marx, sejalan dengan kerja-kerja teoritiknya,
mengabdikan perhatian yang tanpa henti, sepanjang hidupnya, pada
masalah-masalah taktis dari perjuangan kelas proletar.
Segunung
tumpukan material tentang hal ini terkandung dalam seluruh karya Marx, terutama dalam empat jilid surat-menyuratnya
dengan Engels, yang diterbitkan di tahun 1913. Bahan-bahan ini masih jauh dari
sempurna disatukan, disusun, diperiksa dan dipelajari. Kita terpaksa di sini
membatasi diri dengan hal-hal yang paling umum dan komentar-komentar singkat,
dengan penekanan bahwa Marx telah dengan tepat berpendapat bahwa, tanpa aspek ini, materialisme tidaklah lengkap,
berat sebelah dan tak bernyawa.
Tugas mendasar dari taktik-taktik proletariat
digariskan oleh Marx dengan dipandu ketat oleh semua teori Weltanschauung [cara pandang atas dunia,
pen.]-nya yang dialektik dan materialis. Hanya sebuah pertimbangan yang
objektif atas jumlah total hubungan antara semua kelas dalam satu masyarakat,
dan sebagai akibatnya, satu pertimbangan atas tahapan perkembangan objektif
yang telah dicapai oleh masyarakat tersebut dan akan hubungan antara masyarakat
tersebut dan masyarakat yang lain, yang akan dapat digunakan sebagai dasar
menentukan taktik yang tepat bagi kelas yang maju. Pada saat bersamaan, semua
kelas dan semua negeri dianggap, bukan statis, tapi dinamis, yaitu, bukan dalam
keadaan diam, tapi dalam gerak (yang hukum-hukumnya ditentukan oleh kondisi
ekonomi dari keberadaan tiap kelas). Gerak, pada gilirannya, diperiksa dari
sudut pandang, bukan hanya masa lalu, melainkan juga dari masa datang, dan
bukan seperti yang secara vulgar dipikirkan oleh para "evolusionis",
yang hanya melihat perubahan perlahan-lahan, tapi secara dialektik: "…
dalam perkembangan sebesar itu duapuluh tahun dilalui kurang dari satu
hari," tulis Marx pada Engels, "sekalipun kelak mungkin akan ada
masanya di mana duapuluh tahun itu harus benar-benar dilalui hari ke hari"
(Briefwechsel, Vol. 3, p. 127).[54]
Dalam
tiap tahap perkembangan, pada tiap saat, taktik proletariat harus mempertimbangkan
dialektika sejarah manusia yang tak terhindarkan secara objektif ini. Di satu
pihak, menggunakan masa-masa kemandegan politik atau perkembangan yang merayap,
yang disebut "masa-masa damai" itu, untuk mengembangkan kesadaran
kelas, kekuatan dan militansi kelas yang maju, dan di pihak lain, mengarahkan
kerja-kerja dari masa "damai" ini menuju "tujuan akhir"
dari kemajuan kelas itu, menuju penciptaan di dalam kelas itu kemampuan untuk
menemukan penyelesaian praktis untuk tugas-tugas besar dalam hari-hari
bergolak, di mana "duapuluh tahun dilalui kurang dari satu hari".
Dua
argumen Marx sangat khusus artinya dalam hal ini: satu daripadanya terkandung
dalam The Poverty of Philosophy dan
menyangkut perjuangan ekonomi dan organisasi ekonomi kaum proletariat; yang
lainnya termaktub dalam Communist
Manifesto dan menyangkut tugas-tugas politik proletariat. Argumen yang
pertama berbunyi demikian: "Industri skala besar memusatkan sejumlah besar
orang yang tidak saling mengenal di satu tempat. Persaingan memisahkan
kepentingan mereka. Tapi dipeliharanya upah, kepentingan bersama yang mereka
miliki berhadapan dengan para bos mereka, menyatukan mereka dalam satu pikiran
bersama untuk perlawanan – kombinasi…. Kombinasi, sekalipun awalnya terisolasi,
membentuk mereka menjadi satu kelompok… dan berhadapan dengan kapital yang
selalu bersatu, pemeliharaan organisasi menjadi semakin perlu bagi mereka
(yaitu, kaum pekerja) ketimbang upah…. Dalam pergulatan ini – perang saudara
yang sejati – semua unsur yang perlu bagi pertempuran yang akan datang
dipersatukan dan diperkembangkan. Sekali ia mencapai titik ini, perkumpulan
akan mengambil watak politik."[55]
Di sini kita melihat program dan taktik perjuangan ekonomi dan bagi gerakan
serikat buruh untuk beberapa dasawarsa mendatang, untuk masa-masa panjang di
mana kaum proletariat akan menyiapkan tenaganya untuk "pertempuran yang
akan datang".
Semua
ini harus dibandingkan dengan sejumlah rujukan yang dibuat Marx dan Engels
terhadap contoh gerakan buruh Inggris, yang menunjukkan bagaimana
"kemakmuran" industri memungkinkan satu upaya "untuk menyogok
kaum proletariat" (Briefwechsel,
Vol. 1, p. 136),[56]
untuk menyimpangkan mereka dari perjuangan; bagaimana kemakmuran ini secara
umum "menjatuhkan semangat juang kaum buruh" (Vol. 2, p. 218);
bagaimana proletariat Inggris menjadi "terborjuasikan" – "negeri
yang paling borjuis dari seluruh negeri ini kelihatannya menggariskan tujuan
akhir untuk memiliki satu aristokrasi borjuis dan proletariat borjuis di
samping kaum borjuis itu sendiri" (Vol. 2, p. 290);[57]
bagaimana "tenaga revolusioner" mereka menguap (Vol. 3, p. 124);
bagaimana perlunya untuk menunggu sepanjang waktu yang agak lama sebelum
"pekerja Inggris membebaskan diri mereka sendiri dari penyakit menular
borjuasi ini" (Vol. 3, p. 127); bagaimana gerakan buruh Inggris
"tidak memiliki watak yang dimiliki kaum Chartist"[58]
(1866; Vol. 3, p. 305)[59];
bagaimana para pimpinan buruh Inggris semakin menjadi satu tipe jalan tengah
antara "seorang borjuis radikal dan buruh" (dalam rujukan terhadap
Holyoak, Vol. 4, p. 433).[60]
Taktik perjuangan ekonomi, dalam hubungan dengan arah umum (dan hasil) gerakan kelas pekerja,
dipandang di sini dari sudut pandang yang sangat luas, menyeluruh, dialektik,
dan sungguh-sungguh revolusioner.
Communist Manifesto
memajukan satu prinsip Marxis yang mendasar tentang taktik perjuangan politik:
"Kaum Komunis berjuang untuk pencapaian tujuan-tujuan jangka dekat, untuk
penegakan kepentingan sementara kelas pekerja; tapi dalam perjuangan untuk masa
kini, mereka juga mewakili dan menjaga masa depan dari gerakan itu."[61]
Itulah mengapa, di tahun 1848, Marx mendukung pihak "revolusi
pertanian" di Polandia, "pihak yang membawa insureksi di Krakow di
tahun 1846".[62]
Di Jerman, di tahun 1848 dan 1849, Marx mendukung kaum demokrat ekstrim
revolusioner, dan dengan demikian tidak mundur dari taktik yang telah
digariskannya. Ia menganggap borjuasi Jerman sebagai sebuah unsur yang
"sejak awal cenderung untuk mengkhianati rakyat" (hanya sebuah
aliansi dengan kaum petani yang akan memungkinkan kaum borjuasi untuk mencapai
tujuannya) "dan berkompromi dengan perwakilan bermahkota dari masyarakat
lama". Inilah kesimpulan Marx tentang posisi kelas kaum borjuasi Jerman
dalam masa-masa revolusi borjuis-demokratik – satu analisa yang, kebetulan, merupakan
satu contoh dari materialisme yang menelaah masyarakat yang bergerak, dan
terlebih lagi, bukan hanya dari sudut gerak yang mundur: "Tanpa kepercayaan diri, tanpa kepercayaan kepada
rakyat, menggerutu pada semua yang ada di atas, gemetar akan semua yang ada di
bawah… ketakutan akan kemungkinan badai di dunia… tak bertenaga dalam semua
hal, pencontek dalam semua hal… tanpa inisiatif… seorang tua terkutuk yang
melihat dirinya ditakdirkan untuk mengarahkan dan mementahkan semua gejolak
yang segar dari rakyat yang kekar untuk kepentingan dirinya yang sudah usang
itu…."(Neue Reinische Zeitung,
1848; lihat Literarischer Nachlass,
Vol. 3, p. 212)[63]
Sekitar
duapuluh tahun kemudian, Marx menyatakan, dalam sebuah surat pada Engels (Briefwechsel, Vol. 3, p. 224), bahwa
Revolusi 1848 telah gagal karena kaum borjuasi telah memilih berdamai dengan
perbudakan ketimbang kemungkinan harus bertempur demi kebebasan. Ketika periode
revolusioner 1848-49 telah berakhir, Marx menentang segala upaya untuk
membangkitkan kembali revolusi (pertentangannya dengan Schapper dan Willich),
dan menekankan pada kemampuan untuk bekerja dalam tahapan baru, di mana sebuah
cara "damai" semu harus digunakan untuk menyiapkan revolusi-revolusi
baru. Semangat yang diperlukan Marx untuk kerja-kerja ini harus dilakukan dapat
dilihat dalam tanggapannya tentang situasi Jerman tahun 1856, masa-masa reaksi
yang paling gelap: "semua hal di Jerman akan tergantung pada kemungkinan
dukungan atas revolusi proletariat oleh Perang Petani jilid dua*****" (Briefwechsel, Vol. 2, p. 108).[64]
Sementara
revolusi demokratik (borjuis) di Jerman tidak terselesaikan, Marx memusatkan
seluruh perhatiannya pada taktik-taktik proletariat sosialis, tentang
pengembangan tenaga demokratik dari kaum tani. Ia memandang bahwa sikap
Lassalle adalah "secara objektif… sebuah pengkhianatan terhadap seluruh
gerakan buruh Prusia" (Vol. 3, p. 210), kebetulan karena Lassalle bersikap
toleran terhadap kaum Junker dan nasionalisme Prusia. "Dalam sebuah negeri
yang pertaniannya dominan," tulis Engels di tahun 1865, ketika bertukar
pikiran dengan Marx mengenai pernyataan bersama yang akan mereka keluarkan
waktu itu, "… sangatlah pengecut untuk menyerang borjuasi atas nama
proletariat tapi tidak pernah mengabdikan satu kata terhadap penghisapan
patriarkal atas proletariat pedesaan yang berada di bawah cemeti kaum
aristokrat feudal besar" (Vol. 3, p. 127).[65]
Dari 1864 sampai 1870, ketika masa-masa pengganyangan terhadap revolusi
demokratik borjuis sedang mendekati akhirnya, satu masa di mana kelas-kelas
penghisap di Prusia dan Austria sedang bertarung untuk menyelesaikan revolusi
itu lewat satu cara atau lainnya dari
atas, Marx tidak hanya menyanggah Lassalle, yang waktu itu bermain mata
dengan Bismarc, tapi juga mengoreksi Liebknecht, yang telah tenggelam dalam
"Austrofilisme" dan pembelaan terhadap partikularisme; Marx menuntut
taktik revolusioner yang akan bertarung dengan kegigihan yang setara terhadap
Bismarc dan kaum Austofilis, taktik yang tak akan dicuri oleh "para
pemenang" – kaum Junker Prusia – tapi yang akan segera memperbaharui
perjuangan revolusioner menentangnya sekalipun
dihalangi oleh kondisi-kondisi yang diciptakan oleh kemenangan-kemenangan
tentara Prusia (Briefwechsel, Vol. 3,
pp. 134, 136, 147, 179, 204, 210, 215, 418, 437, 440-41).[66]
Dalam Pernyataan Internasionale tanggal
9 September 1870 yang terkenal itu, Marx memperingatkan proletariat
Perancis terhadap kemungkinan pemberontakan terlalu dini, tapi ketika sebuah
pemberontakan benar-benar terjadi (1871), Marx dengan bersemangat
mengelu-elukan inisiatif revolusioner dari massa, yang "menyerbu
langit" (Surat Marx kepada Kugelmann).[67]
Dari
sudut pandang materialisme dialektika Marx, kekalahan dalam aksi-aksi
revolusioner dalam situasi semacam itu, seperti yang seringkali terjadi, adalah
keburukan kecil, dalam arah umum dan
hasil akhir dari perjuangan proletariat, ketimbang penyangkalan terhadap
posisi yang telah berhasil direbut, daripada menyerah tanpa bertempur.
Ketaklukan semacam itu akan meruntuhkan semangat proletariat dan melemahkan
militansinya. Sambil menyepakati penggunaan alat-alat perjuangan legal selama
masa-masa kemandegan politik dan dominasi legalitas kaum borjuasi, Marx, di
tahun 1877 dan 1878, menyusul disahkannya Undang-undang Anti-Sosialis,[68]
dengan tajam mengutuk "ucapan-ucapan revolusioner" Most; tidak kurang
tajamnya, kalau bukan lebih tajam, ia juga menyerang oportunisme yang untuk
beberapa waktu menghinggapi para pejabat Partai Sosial-Demokrat, yang tidak
dengan serta-merta menunjukkan kebulatan tekad, keteguhan, semangat
revolusioner dan kesiapan untuk melancarkan perjuangan bawah tanah terhadap
Undang-undang Anti-Sosialis itu (Briefwechsel,
Vol. 4, pp. 397, 404, 418, 422, 424;[69]
cf. Juga surat-surat kepada Sorge).
Ditulis Juli-November 1914.
Pertama terbit dalam bentuk ringkas di tahun 1915
dalam Granat Encyclopaedia, edisi VII, Vol. 28, atas nama V. Ilyin.
* Penanggalan Lama Rusia adalah 13 hari lebih lambat dari Penanggalan
Masehi.
** Sekalipun keluarga Westphalen banyak menghasilkan pejabat-pejabat
reaksioner untuk Kekaisaran Prusia, ayah Jenny sendiri, Baron von Westphalen,
adalah seorang sosialis-utopis penganut ajaran Saint-Simon. Pengaruh ayah Jenny
ini besar bagi perkembangan kecondongan Marx pada sosialisme.
*** Pada masa itu, orang tidak membedakan "komunisme" dengan
"sosialisme". Pembedaan ini baru dilakukan oleh pers borjuasi pasca
kemenangan Revolusi Oktober untuk memburukkan citra Uni Sovyet dan gerakan kaum
pekerja pada khususnya. Pada akhirnya, citra "komunisme" itu sendiri
menjadi buruk karena praktek-praktek penyimpangan vulgar atas Marxisme oleh
Stalin, yang memaksa kaum sosialis di seluruh dunia, pasca Perang Dingin, untuk
melakukan reposisi terhadap Marxisme dan perjuangan revolusioner kelas pekerja.
**** Perkembangan teori fisika dan kimia modern sudah melangkah jauh
lebih maju dari masa Lenin, terutama setelah ditemukannya teori relativitas dan
teori kuantum. Sampai saat ini, hukum-hukum fisika yang diketahui, bahkan
sampai tingkatan atomik, masih membuktikan kebenaran Materialisme-Dialektika.
***** Kutipan ini merujuk pada Pemberontakan Petani Jerman 1524-25.
Pemberontakan Petani ini merupakan hasil dari mematangnya feudalisme Jerman, di
mana para petani bebas sudah banyak kehilangan tanahnya dan dipaksa menjadi
petani hamba dan menyerahkan upeti pada para Pangeran Jerman. Berhadapan dengan
pemberontakan ini, para Pangeran Jerman yang tadinya saling bersaing antara
mereka sendiri dan dengan Kaisar Roma Yang Suci (The Holy Roman Empire) menyatukan kekuatan tentaranya untuk
menumpas pemberontakan itu.
[1] Lenin menulis artikel ini untuk Encyclopedic
Dictionary yang diterbitkan oleh Granat Bersaudara, yang pada waktu itu
adalah yang paling populer di Rusia. Dalam pembukaan untuk pamflet edisi 1918
Lenin, menyatakan bahwa tanggal penulisannya adalah 1913, seingat dia.
Sebenarnya ia memulai penulisannya di musim semi 1914 di Poronin, tapi harus
berhenti karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya mengarahkan partai dan koran
Pravda. Lenin meneruskan pekerjaannya menulis artikel ini di bulan September
tahun itu, setelah ia pindah ke Berne, dan menyelesaikannya pada paruh pertama
bulan November.
Artikel ini diterbitkan tahun
1915 dalam Volume 28 dari Dictionary
itu dengan "Bibliografi Marxisme" ditambahkan padanya; ditandatangani
oleh "V. Ilyin". Untuk alasan-alasan sensor para penyunting memotong
dua bab: "Sosialisme" dan "Taktik Perjuangan Kelas
Proletar" dan membuat beberapa perubahan dalam teksnya.
Di tahun 1918 Priboi Publisher mencetak artikel ini
dalam bentuk pamflet persis seperti yang diterbitkan dalam Dictionary tapi tanpa Bibliografi.
Teks lengkap dari artikel ini
menurut manuskripnya diterbitkan pertama kali oleh Institut Lenin Komite
Sentral Partai Komunis Uni Sovyet dalam kumpulan artikel-artikel Lenin Marx, Engels, Marxism, yang muncul di
tahun 1925.
[2] Mensheviks – sebuah
kecenderungan oportunis dalam gerakan sosial demokratik di Rusia.
Mereka mulai dikenal sebagai
Mensheviks pada Kongres Kedua RSDRP (Rosskaya
Sotsial-Demokratitcheskaya Rabochaya Partia – Partai Buruh Sosial Demokrat
Rusia) di tahun 1903, ketika selama pemilihan badan-badan sentral partai kaum
sosial-demokrat yang dipimpin Lenin memenangkan mayoritas (bolshintsvo) sementara kaum oportunis menemukan bahwa mereka adalah
minoritas (menshintsvo); dari sanalah
lahir istilah Bolsheviks dan Mensheviks.
Selama revolusi 1905-07 kaum
Mensheviks menentang hegemoni kelas pekerja dalam revolusi dan aliansinya
dengan kaum tani dan menuntut dibuatnya kesepakatan dengan kaum borjuasi
liberal, yang, menurut pendapat mereka, harus memimpin revolusi. Dalam
tahun-tahun reaksi yang menyusul kekalahan revolusi sebagian besar kaum
Mensheviks menjadi para likuidator; mereka menuntut pembubaran partai kelas
pekerja revolusioner yang waktu itu ilegal. Setelah kemenangan revolusi demokratik
borjuis di bulan Februari 1917, kaum Mensheviks menerima jabatan-jabatan dalam
Pemerintahan Sementara yang borjuis, mendukung politik imperialis mereka dan
menentang Revolusi Sosialis yang sedang dipersiapkan oleh Bolsheviks.
Setelah Revolusi Sosialis di
bulan Oktober 1917 kaum Mensheviks menjadi satu partai kontra-revolusioner
terbuka yang mengorganisir dan berperan dalam berbagai konspirasi dan berontak
terhadap kekuasaan Kongres Sovyet seluruh Rusia.
[3] Hegelian Kiri atau Hegelian Muda – satu kecenderungan idealis dalam
filsafat Jerman di tahun 1830-an dan 1840-an. Kaum Hegelian Muda mencoba
menarik kesimpulan radikal dari filsafat Hegel untuk membuktikan perlunya
revolusi borjuis di Jerman.
Para pemimpin kecenderungan ini
adalah David Strauss, Bauer bersaudara, Max Stirner dan beberapa lainnya. Untuk
beberapa waktu Feuerbach dan juga Marx dan Engels di masa mudanya tergabung
dalam Hegelian Muda. Lalu Marx dan Engels berpisah dengan mereka dan mengkritik
hakikat idealis dan borjuis kecil dari kelompok tersebut dalam The Holy Family (1844) dan The German Ideology (1845-46).
[4] Frederick Engels, Ludwig
Feuerbach and the End of Classical German Philosophy (lihat Marx dan
Engels, Selected Works, Vol. 3,
Moskow, 1973, p. 344 – selanjutnya disebut MSW).
[5] Reinische Zeitung für
Politik, Handel und Gewerb (Koran Rhein tentang Politik, Perdagangan dan
Manufaktur) – sebuah harian yang muncul di Cologne dari 1 Januari 1842 sampai
31 Maret 1843. Koran ini didirikan oleh perwakilan borjuasi Rhein yang
menentang absolutisme Prusia. Beberapa Hegelian Kiri diundang untuk menulis
bagi harian itu. Marx menjadi penulis tetap di bulan April 1842 dan merupakan
seorang dari redaktur harian itu sejak Oktober tahun itu. Di bawah Marx Rheinische Zeitung mulai membawa watak-watak
demokratik-revolusioner yang lebih tegas. Di bulan Januari 1843, pemerintah
Prusia mengeluarkan satu perintah untuk menutup harian itu terhitung tanggal 1
April 1843 dan memberlakukan sensor ketat sepanjang masa peralihan. Karena
terdapat rencana para pemegang saham untuk membuat harian itu lebih moderat,
Marx mengundurkan diri pada tanggal 17 Maret 1843.
[6] Lihat Bibliografi yang ditambahkan dalam edisi ini. Pada edisi asli
bahasa Inggris tidak terdapat Bibliografi tersebut.
[7] Rujukan pada artikel "Justification
of the Correspondent from the Mosel" oleh Karl Marx.
[8] Rujukan pada Deutsch-Französische
Jahrbücher (Buku tahunan Perancis-Jerman), sebuah majalah yang diredakturi
oleh Marx dan Arnold Ruge dan diterbitkan dalam bahasa Jerman di Paris. Hanya edisi
pertama, sebuah edisi ganda, yang sempat muncul, di bulan Februari 1844. Di
dalamnya terdapat karya-karya Marx dan Engels yang menandai peralihan akhir
mereka menuju materialisme dan komunisme.
Penerbitan majalah itu
dihentikan terutama karena perbedaan pendapat yang mendasar antara Marx dengan
Ruge, yang borjuis radikal itu.
[9] Karl Marx, "Contribution
to the Critique of Hegel's Philosophy of Right, Introduction" (lihat
Marx dan Engels, On Religion, Moskow,
1972, p. 45).
[10] Proudhonisme – satu kecenderungan tidak ilmiah dalam sosialisme
borjuis kecil, bermusuhan dengan Marxisme, dinamai menurut ideolognya, Pierre
Joseph Proudhon. Proudhon mengritik kepemilikan kapitalis besar dari sudut
pandang borjuis kecil dan bermimpi melanggengkan kepemilikan pribadi atas usaha
kecil. Ia mengusulkan pembangunan bank-bank "rakyat" dan
"pertukaran", yang akan membantu kaum pekerja memperoleh alat-alat
produksi, menjadi perajin dan menjamin pasar yang adil atas produksi mereka.
Proudhon tidak memahami peran sejarah dari proletariat dan menampilkan sikap
negatif terhadap perjuangan kelas, revolusi proletariat dan kediktatoran
proletariat; sebagai seorang anarkis ia menyangkal perlunya pekerja mendirikan
Negara Proletar, Marx menempatkan Proudhonisme di bawah badai kritik dalam
karyanya Poverty of Philosophy. Pada
akhir hayatnya Proudhon baru menyadari kebenaran dari kritik Marx terhadap
pandangannya sendiri.
[11] Liga Komunis – organisasi komunis internasional pertama bagi kaum
proletariat yang didirikan di bawah arahan Marx di London pada awal Juni 1847.
Marx membantu menyusun
prinsip-prinsip program dan organisasional dari Liga itu; bersama Engels ia
menulis program politik Liga – Manifesto Partai Komunis, yang diterbitkan di
bulan Februari 1848.
Liga Komunis adalah pendahulu
dari International Working Men's
Association (Internasionale Pertama). Ia bertahan sampai November 1852,
para anggotanya yang terkemuka kemudian memainkan peranan penting dalam
Internasionale I.
[12] Rujukan pada revolusi borjuis di Perancis, Februari 1848.
[13] Rujukan pada revolusi borjuis di Jerman dan Austria yang mulai di
bulan Maret 1848.
[14] Die Neue Rheinische Zeitung
(Koran Rhein Baru) diterbitkan di Cologne dari 1 Juni 1848 sampai 19 Mei 1849.
Marx dan Engels mengarahkan harian tersebut, Marx sebagai Pemimpin Redaksi.
Lenin menggambarkan harian ini sebagai "organ proletariat revolusioner
yang paling baik dan tak tertandingi" (Lenin, Collected Works, Vol. 21, p. 81 – selanjutnya disebut LCW). Tanpa
mempedulikan penindasan dan berbagai rintangan yang ditempatkan oleh polisi,
koran itu dengan teguh membela kepentingan demokrasi revolusioner, kepentingan
proletariat. Karena Marx diusir dari Prusia pada bulan Mei 1849 dan penangkapan
terhadap redaktur yang lain, harian itu terpaksa menghentikan penerbitannya.
Edisi terakhirnya terbit dengan tinta merah dan mengandung salah satu analisa
paling gemilang terhadap watak oportunis kaum borjuasi dalam revolusi
demokratik.
[15] Rujukan pada demonstrasi massa di Paris yang diorganisir oleh
Montagne, partai kaum borjuis kecil, dalam protes terhadap campur tangan yang
dilakukan Presiden dan mayoritas anggota Dewan Perwakilan Rakyat terhadap
ketentuan konstitusional yang ditegakkan dalam revolusi 1848. Demonstrasi ini
dibubarkan oleh pemerintah.
[16] Rujukan pada pamflet Marx, Herr
Vogt, yang ditulis sebagai jawaban atas pamflet fitnah yang ditulis oleh
Vogt, seorang Bonapartis, My Process
Against "Allgemeine Zeitung".
Marx semula enggan menulis jawaban ini karena pada dasarnya ia tidak
suka menyerang orang secara pribadi. Namun, melihat pengaruh pamflet Vogt di
kalangan massa buruh, ia terpaksa duduk dan menulis salah satu analisis paling
gemilang mengenai penyimpangan gerakan buruh karena sogokan-sogokan Bonapartis.
Dalam pamflet itu Marx menghancurkan sekaligus reputasi Vogt yang berupaya
menampilkan diri sebagai seorang pembela buruh dengan menelanjangi seluruh
latar belakang dan tindakan-tindakan politiknya.
[17] Rujukan pada "Pidato Peresmian Internasionale Pertama".
[18] Bakuninisme – satu kecenderungan yang dinamai menurut pemimpinnya
Mikhail Bakunin, seorang ideolog anarkisme.
Kaum Bakuninis melancarkan
perjuangan yang keras kepala terhadap teori dan taktik-taktik Marx di tengah
gerakan kelas pekerja. Rumusan dasar kaum Bakuninis adalah penolakan terhadap segala
bentuk negara, termasuk kediktatoran proletariat. Kaum Bakuninis tidak memahami
peranan sejarah proletariat. Mereka berpandangan bahwa sebuah kumpulan kaum
revolusioner yang kecil dan rahasia, yang dibentuk oleh "orang-orang yang
hebat" akan otomatis membangkitkan massa dalam pemberontakan. Taktik
mereka yang mengandalkan persekongkolan dan terorisme adalah perjudian dan sama
sekali tidak cocok dengan teori pemberontakan Marxis.
[19] Lihat Marx dan Engels, The
Holy Family, Moskow, 1956, p. 168.
[20] Lihat Karl Marx, Capital,
Vol. I, Moskow, 1972, p. 29.
[21] Frederick Engels, Anti-Dühring,
Moskow, 1962, pp. 65, 86, 55, 38.
[22] Agnostisisme – satu teori filsafat idealis yang beranggapan bahwa
dunia ini tidak dapat dipahami, bahwa pikiran manusia terbatas dan tidak dapat
mengetahui segala sesuatu yang berada di luar kemampuan inderawi manusia.
Agnostisisme memiliki banyak bentuk: beberapa agnostik mengakui keberadaan
objektif dari dunia material sekalipun manusia tetap tidak dapat memahami
segala yang berada di luar penangkapan inderawinya.
Kritisisme – Kant memberikan
nama ini pada filsafat idealisnya, karena ia beranggapan bahwa kritisisme
terhadap kemampuan kognitif manusia adalah tujuan dari filsafat tersebut.
Kritisisme Kant membuatnya yakin bahwa akal manusia tidak akan dapat memahami
sifat dan watak segala hal.
Positivisme – satu kecenderungan
filsafat dan sosiologi borjuis yang beredar luas, didirikan oleh Comte
(1789-1857), seorang filsuf dan sosiolog Perancis. Kaum positivis menyangkal
kemungkinan memahami keteraturan dan hubungan-hubungan internal dan menyangkal
pentingnya filsafat sebagai sebuah cara untuk memahami dan mengubah dunia
objektif. Mereka mereduksi filsafat menjadi sekedar ringkasan dari data yang
disediakan oleh berbagai cabang ilmu pengetahuan dan menjadi sekedar
penggambaran atas hasil pengamatan langsung, yaitu, sekedar fakta-fakta
"positif". Positivisme menganggap dirinya berada "di atas"
materialisme maupun idealisme namun sesungguhnya bukan apa-apa selain sekedar
varian dari idealisme subjektif.
[23] Frederick Engels, Ludwig
Feuerbach and the End of Classical German Philosophy (MSW, Vol. 3, p. 347).
[24] Frederick Engels, Anti-Dühring,
Moskow, 1962, pp. 16, 36.
[25] Frederick Engels, Ludwig
Feuerbach and the End of Classical German Philosophy (MSW, Vol. 3, pp.
362-63, 339, 362).
[26] Frederick Engels, Anti-Dühring,
Moskow, 1962, p. 40.
[27] Frederick Engels, Ludwig
Feuerbach and the End of Classical German Philosophy (MSW, Vol. 3, p. 351).
[28] Lihat Karl Marx, Capital,
Vol. I, Moskow, 1972, p. 352.
[29] Lihat Karl Marx, A
Contribution to the Critique of Political Economy, Moskow, 1971, pp. 20-21.
[30] Masa Restorasi – masa-masa di Perancis antara 1814 dan 1830 di mana
kekuasaan berada di tangan dinasti Bourbon, yang dikembalikan ke atas tahta
oleh kaum borjuis yang ketakutan akan pemberontakan proletar, setelah
sebelumnya dinasti itu digulingkan oleh revolusi borjuis Perancis 1792.
[31] MSW, Vol. 1, pp. 108-09, 117-18, 116.
[32] Lihat Karl Marx, Capital,
Vol. I, Moskow, 1972, p. 20.
[33] Lihat Karl Marx, Capital,
Vol. I, Moskow, 1972, pp. 78-79.
[34] Lihat Karl Marx, A
Contribution to the Critique of Political Economy, Moskow, 1971, pp. 30.
[35] Lihat Karl Marx, Capital,
Vol. I, Moskow, 1972, p. 167.
[36] Lihat Karl Marx, Capital,
Vol. I, Moskow, 1972, p. 164.
[37] Lihat Karl Marx, Capital,
Vol. I, Moskow, 1972, pp. 713, 714-15.
[38] Teori Kegunaan Marjinal – Theory
of Marginal Utility, satu teori ekonomi borjuasi yang vulgar dan apologis
yang berasal dari tahun 1870-an untuk menangkal teori nilai dari Marx. Menurut
teori ini, nilai komoditi diperhitungkan dari kegunaannya dan bukannya jumlah
kerja sosial yang dihabiskan dalam menciptakan produk tersebut.
[39] Lihat Karl Marx, Capital,
Vol. III, Moskow, 1972, p. 798-99.
[40] Lihat Karl Marx, Capital,
Vol. I, Moskow, 1972, p. 699.
[41] Lihat Karl Marx, Capital,
Vol. I, Moskow, 1972, pp. 601-02.
[42] MSW, Vol. 1, pp. 276-77.
[43] MSW, Vol. 1, p. 481.
[44] MSW, Vol. 1, p. 276.
[45] Lihat Karl Marx, Capital,
Vol. III, Moskow, pp. 806, 807.
[46] Lihat Karl Marx, Capital,
Vol. I, Moskow, 1972, pp. 474-75.
[47] Lihat Karl Marx, Capital,
Vol. I, Moskow, 1972, pp. 460, 454.
[48] MSW, Vol. 1, pp. 124-25.
[49] MSW, Vol. 3, p. 328.
[50] Frederick Engels, Anti-Dühring,
Moskow, 1962, p. 385.
[51] MSW, Vol. 3, p. 330.
[52] MSW, Vol. 3, p. 470.
[53] Die Neue Zeit (Jaman
Baru) – satu majalah teoritik dari Partai Sosial Demokratik Jerman yang
diterbitkan di Stuttgart dari tahun 1883-1923.
Beberapa karya Marx dan Engels
pertama muncul dalam majalah ini. Engels membantu para redaktur majalah itu
dengan saran-saran dan seringkali mengkritik penyimpangan-penyimpangan mereka
dari Marxisme. Mulai dari pertengahan 1890-an, setelah wafatnya Engels, majalah
ini secara teratur menerbitkan artikel-artikel dari para revisionis. Mereka
yang disebut revisionis ini menolak aspek revolusioner dari teori Marx. Mereka
beranggapan bahwa sosialisme dapat dicapai dengan sendirinya karena sudah hukum
sejarah, dengan demikian kaum proletar tidak perlu merebut kekuasaan dari
tangan borjuasi. Selama Perang Dunia I, 1914-1918, mereka mengambil posisi
Sentris dan memberikan dukungan aktual mereka pada kaum sosial-chauvinis.
[54] Lihat Surat Marx pada Engels tertanggal 9 April 1863 (Marx dan
Engels, Selected Correspondence,
Moskow, 1965, p. 140).
[55] Karl Marx, The Poverty of
Philosophy, Moskow, 1973, p. 150.
[56] Lihat surat Marx pada Engels, 5 Februari 1851.
[57] Surat Engels pada Marx tertenggal 17 Desember 1857 dan 7 Oktober
1858 (Marx dan Engels, Selected
Correspondence, Moskow, 1965, p. 110).
[58] Chartisme – gerakan massa revolusioner pertama dari kaum buruh
Inggris di tahun 1830-an dan 1840-an. Kaum Chartis menerbitkan petisi mereka
pada Parlemen, "the People's Charter"
– Piagam Rakyat, dari mana nama mereka berasal, dan berjuang di jalanan untuk
pemenuhan tuntutan-tuntutan itu: hak pilih bagi semua orang dan setiap kelas,
penghapusan syarat kepemilikan harta sebagai syarat bagi kandidat Parlemen,
dll. Pertemuan-pertemuan akbar dan demonstrasi yang melibatkan jutaan orang
buruh dan perajin diadakan di seluruh negeri selama bertahun-tahun.
Parlemen tidak menyetujui Piagam
Rakyat dan menolak mengabulkan satupun tuntutan mereka.
Pemerintah menerapkan penindasan
keras terhadap kaum Chartis dan menangkap banyak pimpinan mereka. Gerakan ini
berhasil dihancurkan tapi ia memiliki dampak yang sangat besar pada gerakan
internasional kelas pekerja di masa-masa sesudahnya.
[59] Lihat surat Engels pada Marx tertanggal 8 April 1863, surat Marx
pada Engels tertanggal 9 April 1863 dan juga surat Marx pada Engels, 2 April
1866.
[60] Lihat surat Engels pada Marx, 19 November 1869 dan 11 Agustus 1881.
[61] MSW, Vol. 1, p. 136.
[62] Rujukan pada pemberontakan demokratik untuk pembebasan nasional di
Republik Krakow yang di tahun 1815 ditempatkan di bawah kendali bersama
Austria, Prusia dan Rusia. Para pemberontak mendirikan satu Pemerintahan
Nasional. Mereka menerbitkan sebuah manifesto yang memaklumkan penghapusan
susunan feudalisme dan berjanji membagikan tanah pada petani tanpa perlu
membayar uang pengganti. Dalam maklumat yang lain mereka mengumumkan pendirian
satu sistem pabrik nasional dengan upah lebih tinggi dan memperkenalkan hak-hak
setara bagi seluruh warga negara. Dengan cepat, pemberontakan ini ditumpas oleh
gabungan tentara ketiga kekaisaran.
[63] Karl Marx, "The Bourgeoisie and the Counter-Revolution"
(lihat MSW, Vol. 1, p. 92).
[64] Surat Marx pada Engels, 16 April 1856 (Marx dan Engels, Selected Correspondence, Moskow, 1965,
p. 92).
[65] Lihat surat Engels pada Marx tertanggal 27 Januari 1865 dan 5
Februari 1865.
[66] Lihat surat Engels pada Marx tanggal 11 Juni 1863, 24 November
1863, 4 September 1864, 27 Januari 1865, 22 Oktober 1867 dan 6 Desember 1867;
juga surat Marx pada Engels tertanggal 12 Juni 1863, 10 Desember 1864, 3
Februari 1865 dan 17 Desember 1867.
[67] Surat Marx pada Kugelmann, 12 April 1871 (Marx dan Engels, Selected Correspondence, Moskow, 1965,
p. 263).
[68] Undang-undang Anti-Sosialis – The
Exceptional Law Against Socialist, disahkan di Jerman di tahun 1878. Di
bawah undang-undang ini semua organisasi Partai Sosial-Demokrat, semua
organisasi buruh dan koran-koran kelas pekerja dilarang; bacaan-bacaan sosialis
disita dan para sosial demokrat ditangkap atau diusir ke luar negeri. Namun
Partai Sosial Demokrat sanggup mengorganisir kerja-kerjanya dalam kondisi bawah
tanah dan dalam waktu bersamaan menggunakan secara luas segala kesempatan legal
yang ada untuk menguatkan kontaknya dengan massa. Undang-undang ini dicabut di
tahun 1890 karena tekanan gerakan massa yang semakin kuat.
[69] Lihat surat Marx pada Engels tertanggal 23 Juli 1877, 1 Agustus
1877 dan 10 September 1879; juga surat Engels pada Marx tertanggal 20 Agustus
1879 dan 9 September 1879.

0 komentar:
Posting Komentar