Rabu, 18 Desember 2013

Penjelasan Tentang Marxisme



Daftar Isi

Catatan Penerjemah                                                                                                          i
Pengantar Penulis                                                                                                             ii
Kata Pengantar                                                                                                                iii



Catatan Penerjemah

Anda akan heran, seperti saya juga ketika menemukan tulisan ini, bahwa banyak dari hal yang dituliskan Lenin hampir seabad lalu kelihatannya sangat modern dan pas dengan konteks keseharian yang kita hadapi dalam perjuangan melawan kapitalisme di abad ke-21 ini. Tidak lain dan tidak bukan, inilah keunggulan Marxisme. Ketika tiga tiang pokoknya –filsafat Materialisme yang Dialektik, Ekonomi-Politik, dan Prinsip Perjuangan Revolusioner–  ditaati, kita tidak usah takut dicap “Leninis”, “Trotskyis”, “Maois” dsb. Dengan tiga senjata itu, kita akan mampu menuliskan kondisi yang kita hadapi dengan sejelas-jelasnya, setara dengan pemikir besar yang manapun juga.
Kalau dalam kesempatan ini kita berhadapan dengan tulisan Lenin, ini kebetulan saja. Tulisan ini dipilih karena kejelasannya dalam menguraikan prinsip-prinsip Marxisme secara sederhana. 

Penerjemahan dilakukan secara bebas. Ini berarti kadang kala yang diambil adalah makna kalimat seperti yang ditangkap oleh penerjemah. Penerjemahan bebas memudahkan penerjemahan karena seringkali idiom atau cara berargumen yang filsafati kurang dapat dipahami khalayak pembaca. Namun, penerjemahan bebas mengandung resiko distorsi (penyimpangan) karena mengandalkan pemahaman penerjemah atas teks. Silakan sidang pembaca yang menilai apakah layak resiko ini ditempuh.

Untuk memudahkan pembaca Indonesia yang lama tidak mengenal latar belakang dari pandangan-pandangan Marx, kami menambahkan beberapa catatan sejarah pada edisi bahasa Indonesia ini. Untuk membedakan dari catatan asli dalam edisi bahasa Inggrisnya, kami menempatkan catatan-catatan kami di bawah tanda * (asteriks), dan menempatkan catatan edisi asli di bagian akhir.
Kami juga melakukan beberapa pembelahan terhadap penyusunan paragraf asli dari Lenin. Bahasa Indonesia sangat impoten untuk menangani penguraian ide yang panjang dan kompleks. Karena itu, untuk mempermudah para pembaca edisi Indonesia ini, kami membagi paragraf-paragraf atau kalimat-kalimat yang panjang menjadi beberapa paragraf dan kalimat yang lebih singkat. Sedapat mungkin kami menghindarkan perlakuan ini selama dimungkinkan.
Lebih jauh lagi, penerjemahan ini dilakukan dari edisi bahasa Inggris yang diambil dari Internet. Edisi Internet itu merupakan transkrip verbatim dari edisi bahasa Inggris yang diterbitkan di bawah Stalinisme. Kami menerjemahkan utuh teks asli yang ditulis Lenin, tapi kami harus meneliti lebih lanjut catatan-catatan yang ditambahkan editor edisi bahasa Inggris tersebut. Setelah melakukan penyelidikan, kami merasa perlu untuk memotong atau mengubah beberapa frasa atau kalimat di bagian "Catatan" yang kami anggap membawa bias Stalinis terhadap pandangan-pandangan Marx. ***

Karl Marx
Satu Sketsa Ringkas dengan Penjelasan Mengenai Marxisme[1]


Pengantar
Artikel tentang Karl Marx ini, yang kini muncul dalam cetakan tersendiri, ditulis di tahun 1913 (sejauh saya ingat) untuk Granat Encyclopaedia. Satu bibliografi yang cukup mendetil mengenai literatur tentang Marx, kebanyakan asing, ditambahkan pada artikel tersebut. Bibliografi itu tidak dimuat dalam edisi ini. Para penyunting Encyclopaedia, telah, untuk alasan-alasan sensor, menghapus bagian terakhir dari artikel tentang Marx, khususnya, seksi yang menerangkan taktik-taktik revolusionernya. Malangnya, saya tidak dapat mereproduksi bagian akhir itu karena draftnya tertinggal di satu tempat antara Krakow atau Swiss. Saya hanya ingat bahwa dalam bagian penutup artikel tersebut saya mengutip, di antaranya, satu paragraf dari surat Marx pada Engels pada tanggal 16 April 1856, di mana ia menulis: "Semua yang terjadi di Jerman akan tergantung dari kemungkinan dukungan terhadap revolusi proletar oleh edisi kedua dari Perang Petani. Kemudian hasilnya akan sangat menakjubkan." Inilah apa yang kaum Mensheviks kita,[2] yang kini telah terpuruk dalam pengkhianatan total terhadap sosialisme dan desersi ke kubu borjuasi, gagal untuk memahaminya sejak 1905.

N Lenin
Moskow, 14 Mei 1918




Bab I

Marx, Karl, lahir pada tanggal 5 Mei 1818 (Penanggalan Baru*), di kota Trier (Propinsi Rhein di Prusia). Ayahnya adalah seorang pengacara, seorang Yahudi, yang di tahun 1824 memeluk Protestantisme. Keluarganya cukup berada, berbudaya, tapi tidak revolusioner. Setelah lulus dari sebuah Gymnasium di Trier, Marx masuk universitas, pertama di Bonn dan kemudian di Berlin, di mana ia belajar hukum, dengan program kekhususan sejarah dan filsafat. Ia menyelesaikan studi universitasnya di tahun 1841, dengan menyerahkan tesis doktoral tentang filsafat Epicurus. Pada waktu itu Marx adalah seorang Hegelian yang pandangannya idealis. Di Berlin, ia bergabung dengan lingkaran "Hegelian Kiri"[3] (Bruno Bauer dan lain-lain) yang mencari kesimpulan-kesimpulan ateistik dan revolusioner dari falsafah Hegel.
            Setelah lulus, Marx pindah ke Bonn, dan berharap menjadi seorang profesor. Tetapi, karena politik reaksioner dari pemerintah, yang telah menggusur Ludwig Feuerbach dari kursinya di tahun 1832, pihak universitas kemudian menolak mengijinkan Marx untuk kembali ke universitas di tahun 1836. Pada tahun 1841 ketika pemerintah Prussia melarang Profesor Bruno Bauer yang muda itu untuk memberikan kuliah di Bonn, Marx akhirnya meninggalkan ide menyusuri karir akademik. Pandangan-pandangan Hegelian Kiri dengan cepat memperoleh pengaruh di Jerman masa itu. Ludwig Feuerbach mulai mengkritik teologi, terutama setelah 1836, dan berpaling pada materialisme, yang di tahun 1841 memperoleh tempat utama dalam filsafatnya (The Essence of Christianity). Tahun 1843 mencatat kemunculan bukunya Principles of the Philosophy of the Future. "Seseorang harus mengalami sendiri efek pembebasan" dari buku-buku ini, tulis Engels kemudian atas karya-karya Feuerbach itu. "Kami [yaitu, kaum Hegelian Kiri, termasuk Marx] semua langsung menganut Feuerbach."[4]
Pada masa itu, beberapa borjuis radikal di Rhineland, yang berhubungan dengan kaum Hegelian Kiri, mendirikan, di Cologne, satu koran oposisi yang disebut Rheinische Zeitung[5] (edisi pertama terbit pada tanggal 1 Januari 1842). Marx dan Bruno Bauer diundang untuk menjadi penulis utama, dan di bulan Oktober 1842 Marx menjadi pemimpin redaksi dan pindah dari Bonn ke Cologne. Kecenderungan koran itu yang demokratik revolusioner menjadi semakin tegas di bawah suntingan Marx, dan pemerintah pertama-tama mengenakan sensor ganda lalu ganda tiga atas koran itu. Tak perlu menunggu waktu lama, pemerintahan reaksioner Prussia, tanggal 1 Januari 1843, memutuskan untuk menutup Rheinische Zeitung. Marx kemudian dipaksa harus mundur dari jabatannya sebagai pemimpin redaksi sebelum tanggal itu, tapi pengunduran dirinya itu tetap tidak dapat menyelamatkan koran tersebut, yang akhirnya menghentikan terbitannya di bulan Maret 1843. Dari artikel-artikel besar yang ditulisnya untuk Reinische Zeitung, Engels mencatat, sebagai tambahan atas apa yang ditunjukkan di bawah ini (lihat Bibliografi[6]), sebuah artikel tentang kondisi para petani anggur di Moselle Valley.[7] Aktivitas jurnalistik Marx meyakinkannya bahwa ia belum cukup akrab dengan ekonomi-politik, dan ia dengan bersemangat bekerja untuk mempelajarinya.
            Di tahun 1843, Marx menikah, di Kreuznach, dengan Jenny von Westphalen, kawan masa kecilnya yang dipertunangkan dengannya ketika ia masih mahasiswa. Istrinya datang dari keluarga reaksioner di kalangan bangsawan Prusia.** Salah seorang kakaknya adalah Menteri Dalam Negeri Prusia selama masa-masa paling reaksioner – 1850-58. Di musim gugur 1843, Marx pergi ke Paris untuk menerbitkan satu jurnal radikal di luar negeri, bersama dengan Arnold Ruge (1802-1880; seorang Hegelian Kiri; pernah dipenjara di tahun 1825-30; pelarian politik setelah 1848, dan seorang pengikut Bismarc setelah 1866-70). Hanya satu edisi dari jurnal ini, Deutsch-Französische Jahrbücher, yang terbit[8]; penerbitan dihentikan karena kesulitan penyebarannya di Jerman secara rahasia, dan karena ketidaksepakatan dengan Ruge. Artikel Marx dalam jurnal itu menunjukkan bahwa ia telah menjadi seorang revolusioner, yang menyerukan "kritisisme tanpa ampun terhadap segala yang ada", dan khususnya tentang "kritisisme dengan senjata",[9] dan menyerukannya kepada massa dan kaum proletar.
            Di bulan September 1844 Frederick Engels datang di Paris untuk beberapa hari, dan dari masa itu ia menjadi kawan terdekat Marx. Mereka berdua mengambil bagian paling aktif dalam kehidupan kelompok revolusioner Paris yang waktu itu sedang mendidih (salah satu yang terpenting masa itu adalah doktrin Proudhon,[10] yang dihancurkan berkeping-keping oleh Marx dalam Poverty of Philosophy tahun 1847); menjalankan perjuangan bertenaga melawan berbagai doktrin sosialisme borjuis-kecil. Mereka juga kemudian bersama-sama merumuskan teori dan taktik dari sosialisme proletar yang revolusioner, atau komunisme*** (Marxisme). Tinjaulah karya-karya Marx pada masa ini, 1844-48 dalam Bibliografi. Karena desakan keras dari pemerintah Prusia, Marx akhirnya diusir dari Paris tahun 1845, sebagai seorang revolusioner yang berbahaya. Ia pergi ke Brussel. Di musim semi 1847 Marx dan Engels bergabung dalam sebuah komunitas propaganda rahasia yang disebut Liga Komunis[11]; dan kemudian mereka mengambil bagian penting dalam Kongres Kedua di London, November 1847, yang meminta mereka menulis Manifesto Komunis yang terkenal itu, yang muncul pada bulan Februari 1848. Dengan kejelasan dan kecemerlangan seorang jenius, karya ini membangun garis besar dari pandangan dunia baru, materialisme yang konsisten, yang mencakup pula dunia kehidupan sosial, dialektika, sebagai doktrin yang paling menyeluruh dan mendasar dari perkembangan; teori perjuangan kelas dan peran revolusioner historis kaum proletariat di seluruh dunia – para pencipta masyarakat yang baru, masyarakat komunis.
            Ketika Revolusi Februari 1848[12] pecah, Marx diusir dari Belgia. Ia kembali ke Paris, dari situ, setelah Revolusi Maret[13], ia pergi ke Cologne, Jerman, di mana Neue Rheinische Zeitung[14] diterbitkan dari tanggal 1 Juni 1848 sampai 19 Mei 1849, dengan Marx sebagai pemimpin redaksinya. Teori baru itu kemudian dibuktikan dari jalannya peristiwa-peristiwa revolusioner dari tahun 1848-49, seperti yang kemudian dibuktikan pula oleh semua gerakan proletar dan demokrasi di semua negeri di dunia. Kaum kontra-revolusioner yang menang [dalam Revolusi Jerman itu] pertama-tama menggunakan prosedur hukum terhadap Marx (ia dibebaskan dari segala tuduhan pada tanggal 16 Mei 1849), lalu mengusirnya dari Jerman (16 Mei 1849). Pertama-tama Marx pergi ke Paris, diusir lagi setelah demonstrasi pada tanggal 13 Juni 1849,[15] hingga akhirnya ia pergi ke London di mana ia tinggal sampai wafatnya.
            Kehidupannya sebagai pelarian politik sangatlah sukar, seperti yang tergambar dengan jelas dalam surat-menyuratnya dengan Engels (diterbitkan tahun 1913). Kemiskinan sangat membebani Marx dan keluarganya; kalau bukan karena bantuan keuangan yang terus-menerus tanpa pamrih dari Engels, Marx tidak akan mungkin menyelesaikan Capital tapi akan tergerus oleh tuntutan kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Terlebih lagi, terus hidupnya doktrin-doktrin sosialisme borjuis-kecil, dan sosialisme non-proletar lainnya secara umum, memaksa Marx untuk melakukan perjuangan yang tanpa ampun dan terus menerus dan terkadang untuk memukul mundur serangan-serangan yang bersifat personal dan keji (Herr Vogt[16]).  Marx, yang mengambil jarak dari lingkaran pelarian politik, mengembangkan teori materialismenya dalam sejumlah karya-karya kesejarahan (lihat Bibliografi), mengabdikan dirinya terutama pada studi ekonomi-politik. Marx merevolusionerkan ilmu ini (lihat "Doktrin Marxis", di bawah) dalam bukunya Contribution to the Critique of Political Economy (1859) dan dalam Capital (Vol. I, 1867).
            Kebangkitan kembali gerakan demokratik pada akhir 1850-an dan 1860-an memanggil Marx untuk kembali pada aktivitas-aktivitas praktek. Dalam tahun 1864 (28 September) International Working Men's Association – Internasionale Pertama yang terkenal itu – didirikan di London. Marx adalah jiwa dan jantung organisasi ini, dan penulis dari Maklumatnya yang pertama[17] dan sejumlah besar resolusi, deklarasi dan manifesto-manifesto. Dalam menyatukan gerakan buruh dari berbagai negeri, berjuang untuk menyalurkan berbagai bentuk sosialisme non-proletar dan pra-Marxis (Mazzini, Proudhon, Bakunin, unionisme liberal di Inggris, para pengikut Lassalle di Jerman yang sering goyah ke kanan, dll.) dalam satu kesatuan gerakan, dan dalam menghadapai berbagai teori dari semua sekte dan aliran ini, Marx menempa satu taktik bersama bagi perjuangan proletar dari kaum pekerja di berbagai negeri. Menyusul jatuhnya Komune Paris (1871) –Marx menguraikan satu telaah yang mendasar, jelas, cemerlang, efektif dan revolusioner mengenai hal ini (The Civil War in France, 1871) – dan pembelahan yang disebabkan oleh Bakunin[18] terhadap Internasionale, organisasi itu tidak dapat lagi hidup di Eropa. Setelah Kongres Internasionale yang dilakukan di Hague (1872), Marx memindahkan Dewan Umum Internasionale ke New York. Internasionale Pertama telah memainkan peran sejarahnya, dan sekarang harus memberi jalan pada masa dan perkembangan yang jauh lebih besar dari gerakan buruh di semua negeri di dunia, satu masa di mana gerakan itu tumbuh dalam cakupan, dan partai-partai kelas pekerja sosialis yang massal di berbagai negara nasional telah terbentuk.
            Kesehatan Marx digerogoti oleh kerja kerasnya dalam Internasional dan dalam kerja-kerja teoritiknya yang lebih berat lagi. Ia meneruskan karyanya menyusun ulang ekonomi-politik dan menyelesaikan Capital, di mana untuk itu ia telah mengumpulkan setumpuk bahan-bahan baru dan mempelajari sejumlah bahasa (misalnya bahasa Rusia). Walau demikian, kesehatannya yang buruk menghalanginya untuk menyelesaikan Capital.
            Istrinya meninggal pada tanggal 2 Desember 1881 dan pada tanggal 14 Maret 1883 Marx wafat dengan damai di kursi tamunya. Ia dimakamkan di sisi istrinya di Pekuburan Highgate di London. Beberapa anak Marx meninggal semasa kecil di London, ketika keluarga tersebut sedang mengalami masa-masa tersulitnya. Tiga putrinya menikahi orang-orang sosialis Inggris dan Perancis: Eleanor Aveling, Laura Lafargue dan Jenny Longuet. Putra dari putri Marx yang disebut terakhir ini adalah anggota dari Partai Sosialis Perancis.





























Bab II
Doktrin Marxis

Marxisme adalah sistem dari pandangan-pandangan dan ajaran-ajaran Marx. Marx adalah seorang jenius yang melanjutkan dan menyempurnakan ketiga aliran ideologi utama pada abad kesembilan belas, seperti yang diwakili oleh tiga negeri manusia yang paling maju: filsafat klasik Jerman, ekonomi-politik klasik Inggris, dan sosialisme Perancis yang dikombinasikan dengan doktrin-doktrin revolusioner Perancis secara umum. Diakui bahkan oleh musuh-musuhnya, konsistensi dan integritas yang mengagumkan dari pandangan-pandangan Marx, yang dalam totalitasnya mengandung materialisme modern dan sosialisme ilmiah modern, sebagai teori dan program bagi gerakan kelas pekerja di semua negeri beradab di dunia. Atas dasar itu, saya merasa wajib menyajikan satu uraian ringkas dari pandangannya atas dunia secara umum, sebelum memberikan gambaran mengenai hakikat prinsip Marxisme, khususnya, doktrin ekonomi Marx.

Filsafat Materialisme
            Mulai dari tahun-tahun 1844-45, ketika pandangan-pandangannya mulai terbentuk, Marx adalah seorang materialis dan khususnya seorang pengikut Ludwig Feuerbach, yang titik lemahnya kemudian dilihat Marx sebagai kurang cukup konsisten dan menyeluruh dalam materialismenya. Bagi Marx makna historis dan "penggemblengan epos" Feuerbach terletak dalam penolakannya yang keras hati akan idealisme Hegel dan dalam maklumatnya akan materialisme, yang "di abad kedelapan belas, khususnya materialisme Perancis, bukan sekedar perjuangan melawan lembaga politik yang berkuasa dan melawan … agama dan teologi, melainkan juga … melawan segala bentuk metafisika" (layaknya "spekulasi orang mabuk" dibedakan dari "filosofi kepala dingin"). (The Holy Family dalam Literarischer Nachlass.[19])  "Bagi Hegel…," tulis Marx, "proses berpikir, yang, di bawah panji "Ide", bahkan diubahnya menjadi satu subjek yang independen, adalah demiurgos (pencipta) dari dunia nyata…. Bagi saya, sebaliknya, ide tidak lain daripada dunia material yang tercermin dalam akal manusia, dan diterjemahkan menjadi bentuk-bentuk pikiran" (Capital, Vol. I, Kata Penutup untuk Edisi Kedua[20]).
Dalam kesetiaan penuh pada filsafat materialisme Marx, dan untuk lebih jauh menjabarkannya, Frederick Engels menulis dalam Anti-Dühring (yang draftnya dibaca terlebih dahulu oleh Marx): "Kesatuan dunia tidaklah terletak pada keberadaannya…. Kesatuan sejati dari dunia terkandung dalam materialnya, dan hal ini telah dibuktikan … oleh perkembangan yang panjang dan melelahkan dari filsafat dan ilmu alam…." "Gerak adalah cara mengada dari materi. Tidak mungkin ada materi tanpa gerak, atau gerak tanpa materi, tidak akan pernah ada…. Tapi jika … pertanyaannya diajukan: apakah sebenarnya pikiran dan kesadaran itu, dan dari mana mereka datang; akan menjadi jelas bahwa mereka adalah produk dari otak manusia dan manusia itu sendiri adalah produk dari Alam, yang telah berkembang di dalam dan sejalan dengan lingkungannya; maka terbuktilah dalam dirinya sendiri bahwa produk dari otak manusia, adalah, dalam analisis terakhir, juga merupakan produk dari Alam, tidaklah bertentangan dengan lain-lain saling keterhubungan dalam Alam melainkan sangat berhubungan dengannya….
"Hegel adalah seorang idealis, yaitu menganggap pikiran di kepalanya bukanlah sebagai gambaran yang kurang lebih abstrak (Abbilder, cerminan; Engels kadang bicara tentang "citra") dari hal-hal dan proses yang nyata, tapi sebaliknya, segala hal dan perkembangannya dianggapnya sebagai sekedar gambaran, yang dibuat nyata, oleh 'Ide' yang telah ada di satu tempat sebelum dunia ini ada."[21] Dalam bukunya Ludwig Feuerbach – yang menjabarkan pandangan Marx dan dirinya sendiri tentang filsafat Feuerbach, yang dikirimnya ke percetakan setelah ia membaca manuskrip lama yang ditulis Marx dan dirinya sendiri di tahun 1844-45 tentang Hegel, Feuerbach pandangan materialis atas sejarah – Engels menulis:

   "Pertanyaan besar yang mendasar dari semua filsafat, khususnya filsafat yang lebih baru, adalah hubungan antara berpikir dan mengada … jiwa dan Alam … mana yang lebih utama, jiwa atau Alam …. Jawaban yang diajukan para filsuf terhadap pertanyaan ini membagi mereka ke dalam dua kubu besar. Mereka yang menilai bahwa jiwa lebih utama dari Alam dan, dengan demikian, pada analisis terakhirnya, percaya akan penciptaan dunia dalam salah satu bentuk, menyusun kubu idealisme. Lainnya, yang menganggap Alam sebagai yang utama, tergabung dalam berbagai aliran materialisme."

Penggunaan lain atas konsep (filsafat) idealisme dan materialisme akan membawa kita pada kebingungan. Marx dengan tegas menolak, bukan hanya idealisme, yang selalu dihubungkan dalam salah satu cara dengan agama, tapi juga pandangan – terutama yang tersebar dalam masa kita – dari Hume dan Kant, agnotisisme, kritisisme, dan positivisme[22] dalam berbagai bentuknya; ia menganggap filsafat-filsafat tersebut sebagai konsesi "reaksioner" terhadap idealisme, paling tidak "dengan malu-malu dan diam-diam mengakui materialisme, sambil menolaknya di hadapan dunia".[23]
Tentang masalah ini, lihat, di samping karya-karya Engels dan Marx yang disebut di atas, satu surat yang ditulis Marx untuk Engels pada 12 Desember 1868, di mana ia merujuk pada satu pernyataan dari seorang naturalis Thomas Huxley, yang "lebih materialistik" dari biasanya, dan tentang pengakuannya bahwa "sepanjang kita benar-benar mengamati dan berpikir, kita tidak akan mungkin lepas dari materialisme". Atas pernyataan itu, Marx mengecam Huxley karena membiarkan satu "lubang" untuk agnotisisme, untuk Humisme. Sangatlah penting untuk mencatat pandangan Marx tentang hubungan antara kebebasan dan keharusan: "Kebebasan adalah apresiasi dari keharusan. 'Keharusan hanya buta sejauh ia tidak dipahami'" (Engels dalam Anti-Dühring). Ini berarti pengakuan terhadap kuasa hukum-hukum objektif di Alam dan akan transformasi dialektik dari keharusan menjadi kebebasan (dalam cara yang sama dengan transformasi dari hal yang tidak dikenali padahal dapat dikenali "mengada pada dirinya sendiri" menjadi "mengada untuk kita", dari "hakikat segala hal" menjadi "gejala-gejala").
Marx dan Engels menganggap bahwa materialisme "lama", termasuk materialisme Feuerbach (dan terlebih materialisme "vulgar" dari Büchner, Vogt dan Moleschott), mengandung kelemahan-kelemahan di bawah ini: (1) materialisme ini "terutama bersifat mekanik", gagal untuk memperhitungkan perkembangan terakhir dalam ilmu kimia dan biologi (saat ini haruslah kita tambahkan: dan dalam teori materi elektron)****; (2) materialisme lama tidak historis dan tidak dialektik (metafisika, dalam makna anti-dialektik), dan tidak berpegang secara teguh dan menyeluruh pada sudut pandang perkembangan; (3) mereka menganggap "hakikat manusia" sebagai suatu yang abstrak, bukan sebagai "kesatuan semua hubungan sosial" (yang kongkrit dan ditentukan secara historis), dan karenanya hanya "mengartikan" dunia, di mana persoalannya adalah untuk "mengubahnya", yaitu mereka tidak memahami pentingnya "aktivitas revolusioner dalam praktek".

Dialektika
            Sebagai doktrin perkembangan yang paling menyeluruh dan mendasar, dan yang paling kaya dalam isinya, dialektika Hegelian dianggap oleh Marx dan Engels sebagai pencapaian tertinggi dari filsafat klasik Jerman. Mereka berpikir bahwa perumusan lain atas prinsip perkembangan, atas evolusi, adalah berat sebelah dan miskin dalam isi, dan hanya akan membiaskan dan mengudungkan perjalanan perkembangan yang aktual (yang sering didahului, dan melalui bencana dan revolusi) di Alam maupun masyarakat. "Marx dan saya kiranya merupakan satu-satunya pihak yang dapat menyelamatkan dialektika yang dilakukan secara sadar [dari bahaya penghancuran oleh idealisme, termasuk Hegelianisme] dan menerapkannya dalam pandangan materialis terhadap Alam…. Alam adalah bukti dari dialektika, dan kita harus menyatakannya karena ilmu alam modern telah menyediakan material-material yang sangat kaya [ini ditulis sebelum penemuan radium, elektron, transmutasi elemen, dll.!] dan semakin hari semakin banyak untuk pengujian ini, dan karenanya telah membuktikan bahwa pada analisis terakhir proses Alam bersifat dialektik bukan metafisik.[24]
            "Pemikiran besar yang mendasar," tulis Engels, "bahwa dunia tidak boleh dipahami sebagai sebuah kesatuan dari hal-hal yang langsung jadi, tapi sebagai kesatuan dari proses, di mana hal-hal yang nampaknya stabil dalam citra yang muncul dalam pikiran kita, dalam konsepsi, ternyata mengalami perubahan tanpa henti dari menjadi ada sampai hilang lenyap … pemikiran mendasar ini, khususnya sejak masa Hegel, telah diserap seluruhnya oleh kesadaran awam sehingga secara umum sangat jarang lagi ditentang. Tapi untuk mengakui pemikiran mendasar ini dalam kata-kata dan dalam penerapannya dalam tindakan nyata secara mendetil adalah dua hal yang berbeda…. Bagi filsafat dialektik tidak ada hal yang final, mutlak, suci. Ia mengungkapkan watak kesementaraan dari segala sesuatu dan dalam segala sesuatu; tidak ada hal yang dapat bertahan sebelum menerima proses tanpa henti dari menjadi dan menghilang, dari proses tanpa henti yang meningkatkan apa yang di bawah ke atas. Dan filsafat dialektik itu sendiri tidaklah lebih dari cerminan belaka dari proses seperti ini yang berlangsung dalam otak manusia." Dengan demikian, menurut Marx, dialektika adalah "pengetahuan akan hukum umum gerak, baik dalam dunia luar maupun dalam pikiran manusia".[25]
            Aspek revolusioner dari filsafat Hegel ini diadopsi dan dikembangkan oleh Marx. Materialisme dialektika "tidak memerlukan filsafat yang berdiri terpisah dari ilmu pengetahuan lain". Dari filsafat-filsafat yang hidup sebelumnya tinggalan "ilmu berpikir dan hukum-hukumnya – formal, logis dan dialektik".[26] Dialektika seperti yang dipahami oleh Marx, dan dalam kesesuaian dengan Hegel, mencakup apa yang sekarang dikenal sebagai teori pengetahuan, atau epistemologi, yang harus pula memandang materi subjeknya secara historis, mempelajari dan menarik kesimpulan umum tentang asal dan perkembangan dari pengetahuan, transisi dari bukan-pengetahuan menjadi pengetahuan.
            Di masa kita ide tentang perkembangan, tentang evolusi, telah hampir sempurna meresap ke dalam kesadaran sosial, hanya saja dengan cara lain, dan bukan melalui falsafah Hegelian. Tetap saja, ide ini, seperti yang dirumuskan oleh Marx dan Engels berdasarkan falsafah Hegel, adalah jauh lebih menyeluruh dan jauh lebih kaya dalam isi daripada apa yang menjadi ide umum tentang evolusi saat ini. Satu perkembangan yang mengulangi, seperti semula, tahapan-tahapan yang telah pernah dilaluinya, tapi mengulanginya dalam cara yang berbeda, dengan basis yang lebih tinggi ("negasi dari negasi"), satu perkembangan, begitu kita dapat menyebutnya, yang bergerak maju dalam spiral-spiral, tidak dalam garis lurus; satu perkembangan dengan lompatan-lompatan, bencana, dan revolusi; "patahan dalam kesinambungan"; peralihan atas kuantitas menuju kualitas; dorongan-dorongan dari dalam untuk berkembang, ternyatakan dalam pertentangan-pertentangan dan konflik antar berbagai kekuatan dan kecenderungan yang bekerja pada satu badan tertentu, atau atas gejala tertentu, atau di dalam masyarakat tertentu; saling ketergantungan dan hubungan yang terdekat dan tak terpecahkan antara semua segi dari sebuah gejala (sejarah terus menerus mengungkapkan segi-segi baru), satu hubungan yang menyediakan satu proses yang universal dan seragam atas gerak, proses yang mengikuti satu hukum tertentu – ini semua adalah beberapa dari hal yang diungkapkan dialektika sebagai sebuah doktrin tentang perkembangan yang lebih kaya dari doktrin yang konvensional (cf. Surat Marx pada Engels tanggal 8 Januari 1868, di mana ia membantai "trikotomi kayu" dari Stein, yang sangat janggal kalau dicampuradukkan dengan dialektika material.)

Pandangan Materialis atas Sejarah
            Kesadarannya akan inkonsistensi, ketidaklengkapan dan sifat berat sebelah dari materialisme lama, mendorong Marx meyakini perlunya "membawa ilmu pengetahuan ke dalam masyarakat … ke dalam keserasian dengan landasan materialisme, dan untuk merekonstruksinya di atas landasan itu".[27] Karena materialisme secara umum menjelaskan kesadaran sebagai hasil dari keberadaan, dan bukan sebaliknya, maka materialisme yang diaplikasikan pada kehidupan sosial dari umat manusia harus menjelaskan kesadaran sosial sebagai hasil dari keberadaan sosial. "Teknologi," tulis Marx (Capital, Vol. I), "mengungkapkan cara manusia berurusan dengan Alam, proses produksi yang menyusulnya yang ia pergunakan untuk menyangga hidupnya, dan dengan demikian juga menelanjangi cara pembentukan hubungan-hubungan sosialnya, dan atas pandangan mental yang mengalir dari hubungan-hubungan sosial itu."[28] Dalam pengantarnya untuk bukunya Contribution to the Critique of Political Economy, Marx memberikan satu rumusan integral atas prinsip-prinsip dasar materialisme yang diaplikasikan pada masyarakat manusia dan kesejarahannya, dalam kata-kata berikut:

"Dalam produksi sosial sepanjang hidupnya, manusia memasuki satu hubungan tertentu yang tidak dapat diabaikan dan tidak tergantung dari kehendaknya sendiri, hubungan produksi yang berkoresponden dengan satu tahapan tertentu dari perkembangan atas kekuatan produksi materialnya.
"Jumlah total dari hubungan-hubungan produksi ini membentuk bangunan ekonomi dari masyarakat, pondasi sejati, di mana muncul satu superstruktur hukum dan politik dan kepada siapa berbagai bentuk kesadaran sosial berhubungan. Cara produksi kehidupan material menentukan proses kehidupan sosial, politik dan intelektual secara umum. Bukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaannya, tapi, sebaliknya, keberadaan sosial merekalah yang menentukan kesadarannya. Pada tahap tertentu dari perkembangan mereka, kekuatan produktif material dalam masyarakat jatuh ke dalam konflik dengan hubungan produksi yang tengah hidup, atau – sekedar menggunakan pernyataan legal atas hal-hal itu – dengan hubungan kepemilikan di mana mereka bekerja sebelumnya. Dari bentuk-bentuk perkembangan kekuatan produksi hubungan-hubungan ini berbalik menjadi belenggunya.  Lalu mulailah satu epos revolusi sosial. Dengan perubahan landasan ekonomi seluruh tatanan superstruktur yang besar itu kurang-lebih akan terubah dengan cepat. Dalam menilai peralihan semacam ini satu pembedaan harus dibuat antara peralihan bentuk dari keadaan ekonomi dari produksi, yang dapat ditentukan dengan ketepatan ilmu pengetahuan, dan perubahan di bidang hukum, politik agama, estetika atau filsafat – pendeknya, bentuk-bentuk ideologi di mana manusia menjadi sadar akan konflik ini dan terjun ke dalamnya.
"Seperti pendapat kami akan seorang individu tidaklah didasarkan pada apa yang ia pikir tentang dirinya sendiri, demikianlah kita tidak dapat menilai satu masa peralihan dari kesadarannyanya sendiri, sebaliknya, kesadaran ini harus dijelaskan dari pertentangan dalam kehidupan material, dari konflik-konflik yang hadir antara kekuatan-kekuatan produktif sosial dan hubungan-hubungan produksinya…. Dalam garis besar, cara-cara produksi Asiatik, kuno, feudal dan borjuis modern dapat dianggap sebagai epos progresif dalam pembentukan masyarakat secara ekonomi"[29] (cf. perumusan singkat Marx dalam suratnya pada Engels tertanggal 7 Juli 1866: "Teori kita bahwa organisasi kaum buruh ditentukan oleh oleh alat-alat produksinya").

            Penemuan pandangan materialis terhadap sejarah, atau lebih tepat, pelanjutan dan perluasan yang konsisten terhadap materialisme ke dalam ruang gejala kesejarahan, membuang dua kelemahan utama dalam teori-teori sejarah yang sebelumnya. Pertama-tama, teori lama itu paling jauh hanya memeriksa motif ideologis dalam aktivitas kesejarahan umat manusia, tanpa menyelidiki asal-muasal dari motif-motif itu, atau menentukan hukum-hukum objektif yang mengatur perkembangan sistem hubungan sosial, atau melihat akar dari hubungan-hubungan ini dalam tahap-tahap perkembangan yang dicapai oleh produksi material; kedua, teori-teori awal itu tidaklah mencakup aktivitas massa populasi, di mana materialisme histroris memungkinkan untuk pertama kalinya penyelidikan dengan ketepatan ilmiah terhadap kondisi-kondisi sosial kehidupan massa, dan perubahan-perubahan dalam kondisi-kondisi itu.
Sosiologi dan historiografi pra-Marxis paling jauh hanya mengedepankan satu pengumpulan atas fakta-fakta mentah, dikumpulkan secara acak, dan sebuah penjelasan atas tiap aspek proses sejarah secara terpisah-pisah. Dengan menyelidiki keseluruhan dari kecenderungan-kecenderungan yang saling berlawanan, dengan mereduksi gejala-gejala itu menjadi kondisi-kondisi terukur dari kehidupan dan produksi dari berbagai kelas dalam aspek-aspek proses kesejarahan; dengan menyelidiki pilihan-pilihan dari ide "dominan" tertentu atau pada interpretasi ide-ide itu, dan dengan menunjukkan  bahwa, tanpa kecuali, semua ide dan semua kecenderungan berakar dari keadaan-keadaan kekuatan material dari produksi; Marxisme menunjukkan jalan untuk satu studi yang menyeluruh dan mencakup semua hal atas proses dari kebangkitan, perkembangan dan keruntuhan dari sistem-sistem sosial-ekonomi. Manusia membuat sejarahnya sendiri tapi apa yang menentukan motif manusia, motif massa rakyat, yaitu, apa yang membangkitkan perbenturan dari ide-ide dan kepentingan yang saling bertentangan ini? Apakah yang menjadi hasil total dari perbenturan-perbenturan di dalam massa masyarakat manusia? Manakah kondisi objektif dari produksi kehidupan material yang membentuk basis dari seluruh aktivitas kesejarahan manusia? Apakah yang menjadi hukum atas perkembangan kondisi-kondisi ini? Untuk semua pertanyaan ini Marx memusatkan perhatian kita dan menunjukkan jalan pada satu studi ilmiah terhadap sejarah sebagai proses tunggal yang, dengan segala keberagaman dan pertentangannya, diatur oleh hukum-hukum yang tegas.

Pertentangan Kelas
            Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa dalam sebuah masyarakat tertentu, kepentingan dari beberapa anggotanya bertentangan dengan kepentingan dari yang lain, bahwa kehidupan sosial dipenuhi oleh pertentangan, dan bahwa sejarah mengungkapkan satu pergulatan antara bangsa-bangsa dan masyarakat-masyarakat, demikian pula halnya di dalam bangsa-bangsa dan masyarakat-masyarakat, dan, di samping itu, satu pergantian dari masa-masa revolusi dan reaksi, perdamaian dan perang, kemandegan dan pertumbuhan atau kejatuhan yang cepat.
Marxisme telah memberikan panduan, yaitu, teori tentang pertentangan kelas, penemuan satu hukum yang mengatur hal-hal yang terlihat kacau dan membingungkan ini. Panduan ini sesungguhnya hanyalah sebuah studi atas seluruh kepentingan-kepentingan semua anggota dari masyarakat atau kelompok masyarakat tertentu yang dapat membawa kita kepada penentuan secara ilmiah akan hasil dari kepentingan-kepentingan itu. Kepentingan-kepentingan yang saling berbenturan ini berakar dari perbedaan posisi dan cara hidup dari berbagai kelas yang merupakan bentuk dari pembelahan masyarakat. "Sejarah dari semua masyarakat yang pernah ada adalah sejarah pertentangan kelas," tulis Marx dalam Manifesto Komunis (dengan pengecualian atas sejarah masyarakat primitif, tambah Engels selanjutnya). "Orang-orang bebas dan budak, patrisian dan plebeian, tuan dan hamba, pemilik gilda dan para pekerja bebas, singkatnya, penindas dan tertindas, terus berdiri bertentangan satu dengan lainnya, terbawa oleh arus perjuangan yang tanpa henti, kadang tersembunyi, kadang terbuka,  perjuangan yang tiap berakhir, selalu menghasilkan penyusunan ulang masyarakat secara revolusioner, atau dalam kehancuran bersama atas kelas-kelas yang bertikai….
Masyarakat borjuis modern yang telah muncul dari kehancuran masyarakat feudal belumlah menyelesaikan pertentangan kelas. Sebaliknya ia menegakkan kelas-kelas baru, kondisi-kondisi penindasan baru, bentuk-bentuk pertentangan yang baru sebagai pengganti yang lama. Epos kita, epos borjuasi, bagaimanapun, mengandung waktak-watak khusus ini: ia menyederhanakan pertentangan kelas. Masyarakat secara keseluruhan semakin harus terpecah menjadi dua kubu besar yang saling bermusuhan, dalam dua kelas besar yang saling berhadapan secara langsung: kelas Borjuasi dan kelas Proletariat." Sejak Revolusi Raya Perancis, sejarah Eropa, di sejumlah negeri, telah mengungkapkan secara jelas apa yang terdapat di dasar semua kejadian – pertentangan antar kelas-kelas. Masa-masa Restorasi di Perancis[30] telah menghasilkan sejumlah sejarawan (Thierry, Guizot, Mignet, dan Thiers) yang, dalam menyimpulkan apa yang telah terjadi, terpaksa mengakui bahwa pertentangan kelas adalah kunci dari seluruh sejarah Perancis. Masa modern – yang merupakan kemenangan telak kaum borjuasi, lembaga-lembaga perwakilan, hak pilih yang luas (kalau bukan umum), koran-koran harian yang murah, yang tersebar dengan luas di antara massa, yaitu, massanya serikat-serikat pekerja dan serikat-serikat pengusaha yang semakin kuat dan meluas, dan lain-lain – telah menunjukkan dengan semakin tegas (sekalipun kadang di dalam bentuk-bentuk yang sangat berat sebelah, "damai" dan "konstitusional") pertentangan kelas sebagai mata air semua peristiwa.
Kutipan berikut dari Manifesto Komunis Marx akan menunjukkan pada kita apa yang dituntut Marx dari ilmu sosial menyangkut telaah objektif dari posisi tiap kelas dalam masyarakat modern, dengan merujuk pada satu pemeriksaan atas kondisi perkembangan tiap kelas:

"Dari semua kelas yang berdiri berhadapan dengan kaum borjuasi saat ini, hanya proletariat yang merupakan kelas yang benar-benar revolusioner. Kelas-kelas lainnya membusuk dan pada akhirnya akan menghilang di hadapan Industri Modern; proletariat adalah produknya yang khusus dan hakiki. Kelas menengah ke bawah, para pemilik pabrik kecil, para pedagang kecil, para pekerja seni, kaum tani kecil, semua ini akan berlawan menentang kaum borjuasi, untuk menyelamatkan diri dari kepunahan keberadaannya sebagai bagian dari kelas menengah. Dengan demikian mereka bukanlah revolusioner, melainkan konservatif. Lebih jauh lagi, mereka adalah reaksioner, karena mereka berusaha membalikkan jalannya roda sejarah. Jika kebetulan mereka berwatak revolusioner, mereka hanya melakukannya karena pandangan tentang peralihan yang tak terhindarkan menjadi proletariat; dengan demikian mereka mempertahankan, bukan kepentingan mereka yang sekarang, melainkan kepentingan mereka di masa datang; mereka meninggalkan cara pandang mereka untuk menempatkan diri dalam cara pandang proletariat."

Dalam sejumlah karya kesejarahan (lihat Bibliografi), Marx memberikan beberapa contoh yang cemerlang dan mendasar dari historiografi materialis, akan sebuah telaah dari posisi dari tiap kelas secara tersendiri, dan kadangkala atas berbagai kelompok dan strata di dalam sebuah kelas, menunjukkan secara tegas mengapa dan bagaimana "setiap perjuangan kelas adalah sebuah perjuangan politik".[31] Kutipan di atas adalah sebuah gambaran dari bagaimana kompleksnya jaringan hubungan sosial dan tahap-tahap peralihan dari satu kelas menuju kelas yang lain, dari masa lalu ke masa datang, yang diteliti oleh Marx untuk menentukan hasil akhir dari perkembangan kesejarahan.
            Doktrin ekonomi Marx adalah pembuktian dan penerapan yang paling mendasar, menyeluruh dan terinci atas teorinya.

























Bab III
Doktrin Ekonomi Marx

Marx menegaskan dalam pengantarnya untuk Capital, "Adalah tujuan akhir dari karya ini untuk menelanjangani hukum-hukum pergerakan ekonomi dari masyarakat modern",[32] yaitu, masyarakat kapitalis, borjuis. Satu penyelidikan atas hubungan-hubungan produksi dalam masyarakat tertentu, dalam tahapan sejarah tertentu, dalam pertumbuhan, perkembangan dan kemundurannya – demikianlah isi dari doktrin ekonomi Marx. Dalam masyarakat kapitalis produksi dari komoditi adalah dominan, dan, dengan demikian, telaah Marx dimulai dengan telaah akan komoditi.

Nilai
            Sebuah komoditi, pertama-tama, adalah satu hal yang memberikan kepuasan terhadap kebutuhan manusia, kedua, ia adalah satu hal yang dapat dipertukarkan dengan hal yang lain.
Kegunaan dari suatu hal membuatnya menjadi nilai-guna. Nilai tukar (atau sederhananya, nilai) di atas segalanya adalah perbandingan, proporsi, di mana sejumlah nilai guna tertentu dari satu hal dapat dipertukarkan dengan sejumlah nilai guna tertentu dari hal yang lain. Pengalaman sehari-hari menunjukkan bahwa jutaan pertukaran semacam itu terus-menerus saling membandingkan berbagai jenis nilai-guna, bahkan yang paling jauh perbedaannya dan sebenarnya tak dapat diperbandingkan. Sekarang, apa hal yang selalu ada di antara berbagai hal ini, hal-hal yang selalu diperbandingkan dalam sebuah sistem hubungan sosial tertentu? Satu hal yang merupakan kesamaan di antara mereka adalah bahwa mereka semua adalah hasil dari kerja.
Dalam pertukaran benda-benda, orang membandingkan berbagai jenis pekerjaan yang sangat beragam. Produksi komoditi adalah sebuah sistem hubungan sosial di mana penghasil perorangan menciptakan berbagai produk (di bawah pembagian kerja sosial), dan di mana semua produk ini diperbandingkan satu sama lain dalam proses pertukaran. Sebagai akibatnya, apa yang ada dalam setiap komoditi bukanlah kerja kongkrit dari cabang produksi tertentu, bukanlah satu jenis kerja tertentu, tapi kerja manusia yang abstrak – kerja manusia secara umum. Seluruh kekuatan kerja dalam sebuah masyarakat tertentu, yang terwakili dalam jumlah total nilai dari semua komoditi, adalah satu kekuatan kerja manusia yang satu dan sama. Ribuan juta aksi pertukaran membuktikan hal ini. Sebagai akibatnya, tiap komoditi tertentu hanya mewakili satu potongan kecil dari waktu kerja yang dibutuhkan secara sosial.
Besarnya nilai ditentukan oleh jumlah dari kerja yang dibutuhkan secara sosial, atau oleh waktu kerja yang dibutuhkan secara sosial untuk menghasilkan satu komoditi tertentu, sebuah nilai-guna tertentu. "Bilamana, oleh sebuah pertukaran, dengan kita membandingkan nilai dari berbagai produk kita, persis dengan tindakan itu, kita juga membandingkan kerja manusia, berbagai jenis kerja yang dituangkan ke atasnya. Kita tidak menyadarinya, walaupun kita tetap melakukannya."[33] Seperti yang dikatakan oleh seorang ahli ekonomi yang terdahulu, nilai adalah hubungan antara dua orang; hanya saja kita harus menambahkan: satu hubungan yang tersembunyi di balik sebuah bungkus material. Kita hanya dapat memahami makna nilai jika kita mempertimbangkannya dari sudut pandang sistem hubungan produksi sosial dalam jenis masyarakat yang tertentu dalam sejarah, lebih jauh lagi, hubungan-hubungan yang mewujudkan dirinya dalam gejala umum pertukaran, satu gejala yang mengulangi dirinya beribu-ribu kali. "Sebagai nilai, semua komoditi hanya terdiri atas kesatuan dari berbagai kumpulan waktu kerja."[34]
Setelah membuat telaah terinci dari watak ganda dari kerja yang tercakup dalam sebuah komoditi, Marx ganti menelaah bentuk-bentuk nilai dan uang. Di sini, tugas utama Marx adalah mempelajari asal-muasal dari uang sebagai perwujudan dari nilai, mempelajari proses kesejarahan dari perkembangan proses pertukaran ("bentuk nilai yang mendasar maupun yang kebetulan", di mana satu jumlah komoditi tertentu dipertukarkan dengan jumlah tertentu dari komoditi yang lain), berlanjut sampai satu bentuk universal dari nilai, di mana sejumlah komoditi yang berbeda-beda dipertukarkan dengan sejumlah komoditi tertentu, dan berakhir dengan uang sebagai bentuk nilai, ketika emas menjadi komoditi penukar tertentu itu, perata nilai [ekuivalen, pen.] universal.
Sebagai perkembangan tertinggi dari pertukaran dan produksi komoditi, uang membungkus, menutupi, watak sosial dari semua pekerja individu, rantai sosial antara para penghasil individu dipersatukan di dalam pasar. Marx menelaah berbagai fungsi uang dalam rincian yang dalam; sangatlah penting di sini untuk memperhatikan secara khusus (seperti yang diuraikan secara umum dalam bab-bab pembukaan Capital) bahwa apa yang kelihatannya merupakan metode penjabaran yang abstrak dan seringkali murni deduktif sesungguhnya menjelaskan sebuah koleksi raksasa dari material-material faktual sejarah perkembangan pertukaran dan produksi komoditi.

"Jika kita memperhatikan uang, keberadaannya menunjukkan satu tahapan tertentu dalam pertukaran komoditi. Kegunaan khusus uang di mana ia berguna, baik sekedar sebagai perata nilai komoditi, atau sebagai alat perputaran, atau sebagai alat pembayaran, sebagai alat pengumpulan kekayaan atau sebagai alat pembayaran universal, menunjukkan, menurut perbandingan penggunaan berbagai fungsi itu baik secara mutlak maupun secara relatif, berbagai tingkatan tertentu dari proses produksi sosial" (Capital, Vol. I).[35]

Nilai Lebih
            Pada tahapan perkembangan tertentu dari produksi komoditi, uang beralih rupa menjadi kapital. Rumus perputaran komoditi sebelumnya adalah C–M–C (commodity–money–commodity, barang dagangan–uang–barang dagangan), yaitu, penjualan dari satu komoditi untuk membeli komoditi yang lain. Rumusan umum dari kapital, sebaliknya adalah M–C–M, yaitu, pembelian untuk dijual kembali (dengan tambahan keuntungan). Peningkatan nilai uang yang ditambahkan ke dalam perputaran disebut nilai lebih oleh Marx. Fakta tentang "pertumbuhan" uang ini dalam perputaran kapitalis sudah diketahui khalayak umum. Sesungguhnya, persis "pertumbuhan" inilah yang mengubah uang menjadi kapital, sebagai sebuah hubungan produksi sosial yang khusus dan ditentukan secara kesejarahan. Nilai lebih tidak dapat muncul dari pertukaran komoditi, karena pertukaran komoditi hanya mengenal pertukaran perata nilai; ia juga tidak dapat muncul dari pertambahan harga karena gabungan kerugian dan keuntungan dari semua pembeli dan penjual akan saling meniadakan satu sama lainnya, karena yang kita lihat di sini bukanlah sebuah gejala tersendiri yang terpisah dari gejala lainnya melainkan satu gejala yang massal, berlaku di mana-mana dan sosial. Untuk meraup nilai lebih, para pemilik uang "harus… menemukan… sebuah komoditi di pasar, yang nilai-gunanya mengandung satu watak khusus sebagai sumber nilai"[36] – sebuah komoditi yang dalam proses penggunaannya justru pada saat yang sama menjadi proses penciptaan nilai.  Komoditi seperti ini ada – kemampuan kerja manusia.
Komoditi ini digunakan dalam kerja, dan kerja menciptakan nilai. Para pemilik uang membeli kemampuan kerja pada tingkat nilainya, di mana seperti nilai dari segala jenis komoditi yang lain, ditentukan oleh waktu kerja sosial yang perlu untuk menghasilkannya (yaitu, biaya yang diperlukan untuk menghidupi si pekerja dan keluarganya). Setelah membeli kemampuan kerja itu, para pemilik uang berhak menggunakannya, yaitu, untuk mempekerjakannya sepanjang hari – katakanlah, selama 12 jam. Walau demikian, dalam tempo enam jam (waktu kerja "perlu"), si pekerja menciptakan produk yang nilainya cukup untuk menutupi biaya penghidupan bagi dirinya sendiri; dalam tempo enam jam berikutnya (waktu kerja "lebih"), ia meniciptakan produk "lebih" atau nilai lebih, yang tidak dibayar oleh para kapitalis.
Dengan demikian, dari sudut pandangan proses produksi, kedua bagian harus dibedakan dalam kapital: kapital tetap [constant capital, pen.], yang dihabiskan untuk membeli alat-alat produksi (mesin, alat, bahan baku, dll.), yang nilainya, tanpa perubahan apapun, dipindahkan (secara langsung atau bertahap) kepada produk akhir; kedua, kapital berubah [variable capital, pen.], yang dihabiskan untuk membeli kemampuan kerja. Nilai dari jenis kapital terakhir ini tidaklah tetap, melainkan bertumbuh dalam proses kerja, menciptakan nilai lebih. Dengan demikian, untuk menyatakan derajat penghisapan kapital terhadap kemampuan kerja, nilai lebih harus diperbandingkan, bukan dengan seluruh kapital tapi hanya terhadap kapital variabel. Selanjutnya, dalam contoh yang telah diberikan, rasio nilai lebih, seperti nama yang diberikan oleh Marx, akan menjadi 6:6, yaitu, 100 persen.
            Ada dua prasyarat sejarah agar kapital dapat bangkit: pertama, akumulasi dari jumlah uang tertentu di tangan perorangan di bawah kondisi pertumbuhan produksi komoditi yang relatif tinggi secara umum; kedua, adanya seorang pekerja yang "bebas" dalam makna ganda: bebas dari segala hambatan atau pembatasan dalam menjual kemampuan kerjanya, dan bebas dari kepemilikan tanah dan segala jenis alat produksi secara umum, yakni seorang pekerja yang bebas dan tak terikat, seorang "proletariat", yang tidak akan dapat mempertahankan hidup kecuali jika ia menjual kemampuan kerjanya.
            Ada dua cara utama untuk meningkatkan nilai lebih: yakni dengan memperpanjang hari kerja ("nilai lebih mutlak"), dan mengurangi hari kerja yang dibutuhkan ("nilai lebih relatif"). Dalam menelaah hal yang pertama, Marx memberikan gambaran yang sangat mengesankan dari perjuangan kelas pekerja untuk mempersingkat hari kerja dan campur tangan negara untuk memperpanjangnya (dari abad ke-14 sampai ke-17). Sejak kemunculan Capital, sejarah gerakan kelas-pekerja di semua negeri beradab di dunia telah menyediakan segunung fakta baru yang memperkuat penggambaran ini.
            Dalam meneliti penciptaan nilai lebih relatif, Marx menyelidiki tiga tahap kesejarahan yang mendasar dalam peningkatan produktivitas kerja di bawah kapitalisme: (1) kerja sama yang sederhana; (2) pembagian kerja, dan manufaktur; (3) penggunaan mesin-mesin dan industri-industri besar. Betapa mendasar penggambaran Marx tentang watak dasar dan seragam dari perkembangan kapitalis ditunjukkan secara tidak sengaja oleh fakta, bahwa penyelidikan mengenai industri kerajinan di Rusia menyediakan tumpukan material yang menggambarkan dua tahap pertama dari tahap-tahap yang disebutkan di atas. Efek revolusioner dari mesin-mesin industri skala besar, seperti yang digambarkan oleh Marx di tahun 1867, telah menunjukkan dirinya dalam sejumlah negeri "baru" (Rusia, Jepang, dll.), sepanjang setengah abad yang telah lewat.
            Mari kita lanjutkan. Hal yang baru dan amat sangat penting adalah telaah Marx tentang akumulasi kapital, yaitu, peralihan satu bagian nilai lebih menjadi kapital, dan penggunaannya, bukan untuk memuaskan kepentingan pribadi atau nafsu sang kapitalis, tapi untuk proses produksi yang baru. Marx menunjukkan kesalahan yang dibuat oleh semua ahli ekonomi politik klasik yang mendahuluinya (mulai dari Adam Smith), yang menganggap bahwa semua nilai lebih yang dialihkan menjadi kapital berubah bentuk menjadi kapital variabel. Pada kenyataannya, ia terbagi menjadi alat produksi dan kapital variabel. Yang sangat bermakna untuk proses perkembangan kapitalisme dan peralihannya menuju sosialisme adalah pertumbuhan yang semakin cepat dari proporsi kapital tetap (jika dibandingkan dengan kapital total) ketimbang pertumbuhan kapital variabel.
            Dengan mempercepat penggantian pekerja dengan mesin dan dengan menciptakan kekayaan di satu kutub dan kemiskinan di kutub yang lain, akumulasi kapital menumbuhkan pula apa yang dikenal sebagai "pasukan pekerja cadangan" [reserve army of labor, pen.], juga "kelebihan relatif" [relative surplus, pen.] jumlah pekerja, atau "kelebihan jumlah kapitalis" [capitalist overpopulation, pen.], yang mengambil bentuk sangat beragam dan memungkinkan kapital mengembangkan produksi dengan kecepatan tak terbayangkan. Sambil bergandeng tangan dengan fasilitas kredit dan akumulasi kapital dalam bentuk alat produksi, hal ini secara kebetulan menjadi kunci untuk memahami krisis kelebihan produksi [overproduction, pen.] yang terjadi secara berkala di negeri-negeri kapitalis – semula dalam rata-rata setiap sepuluh tahun, lalu pada jarak yang lebih panjang dan kurang tertentu. Dari akumulasi kapital di bawah kapitalisme, kita harus mengenali apa yang dikenal sebagai akumulasi primitif: pemisahan pekerja secara paksa dari alat produksinya, pengusiran petani dari tanahnya, pencurian tanah-tanah adat, sistem koloni dan hutang nasional, tarif yang protektif, dan sebagainya. "Akumulasi primitif" menciptakan proletariat yang "bebas" di satu kutub dan para pemilik uang, si kapitalis, di kutub yang lain.
            "Kecenderungan sejarah akan akumulasi kapitalis" dijelaskan oleh Marx dalam kata-kata ternama di bawah ini:

"Penghisapan atas para penghasil langsung [direct producers, pen.] dicapai melalui kebiadaban yang tanpa ampun, dan di bawah rangsangan nafsu yang paling kejam, paling kotor, paling rendah, paling keji dan menjijikkan. Milik pribadi yang diperoleh dari keringat sendiri (oleh para petani dan perajin), yang didasarkan, dapat dikatakan begitu, pada penyatuan berbagai pribadi yang bekerja secara sendiri-sendiri dengan kondisi kerjanya, kini digantikan oleh kepemilikan pribadi kapitalistik, yang bersandar pada penghisapan atas tenaga kerja orang lain yang secara teori bebas…. Yang kini akan dihisap bukanlah lagi para pekerja yang bekerja untuk diri mereka sendiri, tapi sang kapitalis menghisap banyak pekerja. Penghisapan ini dicapai melalui tindakan yang merupakan hukum naluriah dari produksi kapitalistik itu sendiri, yakni melalui pemusatan kapital. Seorang kapitalis akan selalu membunuh banyak orang. Sejalan dengan pemusatan ini, atau dengan perampasan oleh segelintir orang terhadap banyak kapitalis, berkembanglah, dengan ukuran yang semakin hari semakin besar, bentuk-bentuk kerja sama dari proses kerja, penerapan ilmu pengetahuan secara sadar, pengolahan tanah yang metodik, peralihan dari alat-alat kerja menjadi alat-alat kerja yang hanya dapat digunakan secara bersama-sama, ekonomisasi dari semua alat produksi melalui kegunaan mereka sebagai alat produksi dari kerja yang sosial dan terangkai, penjeratan semua orang dalam jaring rejim kapitalistik. Sejalan dengan semakin menipisnya jumlah kapital industriawan, yang meraup dan memonopoli semua keuntungan dari proses peralihan ini, tumbuhlah segunung kesengsaraan, ketertindasan, perhambaan, penghinaan, penghisapan; tapi bersama dengannya tumbuh pula pemberontakan kelas pekerja, satu kelas yang selalu bertumbuh dalam jumlah, dan terdisiplinkan, dipersatukan dan diorganisasikan oleh mekanisme yang menjadi jantung produksi kapitalis itu sendiri. Monopoli atas kapital merupakan satu rantai yang mengikat kaki cara produksi, yang telah lahir dan berkembang sejalan dengannya, dan di bawah monopoli itu. Pemusatan alat produksi dan sosialisasi kerja akhirnya mencapai titik di mana mereka menjadi tidak cocok lagi dengan kulit kerang kapitalisme. Tudung itu akan robek tercabik-cabik. Terdengarlah rubuhnya kepemilikan pribadi kapitalis. Para penindas akan jatuh tertindas" (Capital, Vol. I).[37]

            Hal yang juga baru dan maha penting adalah telaah yang diberikan Marx, dalam Capital Volume II, atas reproduksi dari kapital sosial secara agregat. Di sini juga Marx mengurusi, bukan hanya gejala-gejala yang terpisah satu sama lain tapi dengan gejala yang berlaku massal; bukan dengan bagian kecil dari perekonomian masyarakat, tapi dengan perekonomian sebagai keseluruhan. Dengan mengoreksi kesalahan dari ahli-ahli ekonomi klasik seperti yang telah disebut di atas, Marx membagi seluruh produksi sosial menjadi dua bagian besar: (I) produksi atas alat produksi, dan (II) produksi atas barang-barang konsumsi, dan menyelidiki secara rinci, dengan sejumlah besar contoh, perputaran dari kapital sosial agregat – baik ketika direproduksi dalam dimensi awalnya maupun dalam kasus akumulasi. Volume III dari Capital menyelesaikan masalah bagaimana tingkat keuntungan rata-rata dihasilkan berdasarkan hukum nilai. Langkah maju raksasa dalam ilmu ekonomi ini terletak dalam telaahnya, dari sudut pandang gejala ekonomi massal, atas sosial ekonomi secara umum, bukan dari sudut pandang kasus satu-persatu atau dari aspek persaingan yang eksternal dan palsu, yang sering menjadi pembatasan dari ekonomi-poklitik vulgar dan "teori kegunaan marjinal"[38] yang modern itu.
Pertama-tama Marx menelaah asal-muasal nilai lebih dan kapital total yang ditanamkan dalam sebuah perusahaan. Kapital dengan satu "komposisi organik tinggi" (yaitu, dengan perbandingan kapital konstan dan variabel di atas rata-rata sosialnya) menghasilkan satu tingkat keuntungan di bawah rata-rata; kapital dengan "komposisi organik rendah" menghasilkan tingkat keuntungan di atas rata-rata. Persaingan antar para kapitalis, dan kebebasan mereka untuk mengalihkan kapital mereka dari satu cabang ke cabang lainnya, dalam kedua kasus akan mengurangi tingkat keuntungan sampai tingkat rata-rata. Jumlah total dari nilai semua komoditi dalam masyarakat tertentu bertepatan dengan jumlah total harga dari komoditinya, tapi dalam perusahaan pribadi dan cabang-cabang produksi, sebagai hasil dari kompetisi, komoditi dijual, bukan berdasarkan nilainya tapi pada tingkat harga produksi, yang setara dengan kapital yang dihabiskan tambah keuntungan rata-rata.
            Dengan cara ini, fakta yang diketahui umum dan tak terbantahkan tentang perbedaan antara harga dan nilai dan tentang penyetaraan keuntungan dijelaskan secara panjang lebar oleh Marx berdasarkan hukum nilai, karena jumlah total dari nilai dari semua komoditi bertepatan dengan jumlah total harga. Walau demikian, penyetaraan dari nilai (sosial) pada harga (individu) tidak terjadi secara sederhana dan langsung, melainkan dalam sebuah cara yang demikian kompleks. Sangatlah alami bahwa dalam sebuah masyarakat di mana para produsennya terpisah-pisah, satu ketundukan terhadap hukum hanya dapat terjadi secara rata-rata, sosial dan massal, dengan penyimpangan di sana-sini oleh individu ke segala arah sehingga saling meniadakan.
            Peningkatan produktivitas kerja menunjukkan pertumbuhan kapital konstan yang semakin cepat dibandingkan dengan kapital variabel. Karena nilai lebih adalah fungsi tunggal dari kapital variabel, sangat jelas bahwa tingkat keuntungan (perbandingan antara nilai lebih terhadap seluruh kapital, bukan terhadap kapital variabel saja) cenderung jatuh. Marx membuat telaah yang rinci atas kecenderungan ini dan sejumlah lingkungan yang menutupi atau melawan kecenderungan tersebut. Tanpa berhenti untuk melihat dahulu satu bagian yang sangat menarik dari Capital Volume III yang membahas perampasan kapital, kapital komersial dan kapital uang, kita harus langsung menuju bagian yang paling penting – teori tentang sewa tanah. Karena tanah terbatas dan, di negeri-negeri kapitalis, semua tanah dimiliki secara pribadi, harga produksi dari produk pertanian ditentukan oleh biaya produksi, bukan di atas tanah yang kualitasnya rata-rata melainkan di atas tanah yang kualitasnya paling buruk; bukan di bawah kondisi rata-rata di mana produk tersebut dapat dibawa ke pasar, melainkan di bawah kondisi yang paling buruk. Perbedaan dari harga ini dan harga produksi di atas tanah yang lebih subur (atau dalam kondisi yang lebih baik) membentuk sebuah rente diferensial.
Dengan menelaahnya secara rinci, dan menunjukkan bagaimana hal itu muncul dari perbedaan dalam tingkat kesuburan di berbagai bidang lahan, dan dari perbedaan dalam tingkat kapital yang di tanamkan di atasnya, Marx menunjukkan secara gamblang (lihat pula Theories of Surplus Value, di mana penting dicatat kritik terhadap Rodbertus) kesalahan-kesalahan Ricardo, yang menilai bahwa sewa diferensial diturunkan hanya ketika terjadi pergantian beruntun dari tanah yang lebih subur ke tanah yang kurang subur. Sebaliknya, bisa terjadi pergantian ke arah yang sebaliknya, tanah dapat berpindah dari satu kategori ke dalam kategori yang lain (tergantung dari kemajuan teknologi pertanian, pertumbuhan kota, dan seterusnya), dan "hukum tingkat keuntungan yang semakin menurun" yang terkenal jeleknya itu, yang menimpakan kesalahan, pembatasan dan kontradiksi dalam kapitalisme kepada Alam, salah secara mendasar. Lebih jauh lagi, penyetaraan keuntungan di semua cabang industri dan perekonomian nasional secara umum menuntut satu kebebasan penuh untuk bersaing dan aliran bebas dari satu cabang ke cabang yang lain. Walau demikian, kepemilikan pribadi atas tanah menghasilkan monopoli, yang menghambat aliran bebas itu. Karena monopoli itu, produk pertanian, yang dicapai melalui komposisi kapital organik yang lebih rendah, dan tingkat keuntungan pribadi yang lebih tinggi yang menjadi akibatnya, tidak masuk ke dalam proses penyetaraaan tingkat keuntungan yang berlangsung cukup bebas.
Sebagai seorang monopolis, tuan tanah dapat menetapkan harga di atas rata-rata, dan harga monopoli ini menumbuhkan rente mutlak. Rente diferensial tidak dapat dihapuskan di bawah kapitalisme, tapi kita dapat menghapuskan rente mutlak – contohnya, dengan nasionalisasi tanah, dengan membuatnya menjadi milik negara. Hal itu akan menggerogoti monopoli para tuan tanah, dan akan menghasilkan sebuah pelaksanaan kebebasan dan persaingan yang lebih konsisten dan penuh di dalam pertanian. Inilah mengapa, seperti yang ditunjukkan oleh Marx, kaum borjuis radikal telah berkali-kali dalam sejarah mengajukan tuntutan borjuis progresif untuk menasionalisasi tanah, tuntutan yang sebetulnya menakutkan bagi sebagian besar borjuasi, karena tuntutan itu akan sangat dekat dan bersinggungan dengan monopoli lainnya, sebuah monopoli yang sangat penting dan "peka" saat ini – monopoli atas alat produksi secara umum. (Satu, penjelasan yang sangat populer, ringkas dan terang mengenai teorinya tentang tingkat keuntungan rata-rata dari kapital dan tentang rente tanah mutlak diberikan oleh Marx sendiri dalam sebuah surat pada Engels, tertanggal 2 Agustus 1862. Lihat Briefweschel, Vol. 3, pp. 77-81; juga surat tertanggal 9 Agustus 1862, ibid. pp. 86-87.)
            Dengan merujuk pada sejarah rente tanah, penting pula untuk memperhatikan telaah Marx yang menunjukkan bagaimana rente kerja (petani yang menciptakan produk lebih dengan bekerja di tanah milik tuannya) diubah menjadi rente yang dibayar dalam bentuk produk atau sejenisnya (petani menciptakan produk lebih di tanah miliknya sendiri dan menyerahkannya ke tangan tuannya karena "pembatasan-pembatasan non-ekonomi"), lalu diubah lagi menjadi rente uang (rente dalam bentuk produk, yang diubah menjadi uang – obrok di Rusia tempo dulu – sebagai hasil pengembangan produksi komoditi), dan akhirnya diubah menjadi rente kapitalis, ketika petani digantikan oleh usahawan pertanian, yang menggarap tanah dengan bantuan pekerja-pekerja pertanian. Dalam hubungan dengan telaah  tentang "asal-usul rente tanah kapitalistik" ini, kita harus memperhatikan tentang sejumlah ide-ide dasar (yang sangat penting untuk diperhatikan dalam kasus negeri yang terbelakang seperti Rusia) seperti dinyatakan oleh Marx menyangkut evolusi kapitalisme dalam pertanian.

"Perubahan dari rente dalam bentuk produk ke dalam rente uang, lebih jauh lagi, bukan saja diiringi, tapi juga dinanti-nanti, oleh pembentukan satu kelas pekerja harian yang tak memiliki milik pribadi, yang menyewakan dirinya untuk mendapat uang. Selama pembentukannya, ketika kelas baru ini muncul di mana-mana secara spontan, perlulah mereka mengembangkan satu kebiasaan di kalangan para petani yang lebih kaya, yang dikenai rente uang, untuk menghisap para pekerja pertanian bayaran untuk kepentingan mereka sendiri, sebagaimana yang terjadi dalam masa-masa feudal, ketika petani-petani hamba yang lebih kaya turut pula memiliki hamba-hambanya sendiri. Dengan cara ini, mereka perlahan-lahan mendapatkan kemungkinan mengumpulkan satu jumlah kekayaan tertentu dan mengubah diri mereka menjadi kapitalis di masa depan. Para pemilik tanah yang tadinya bekerja untuk diri mereka sendiri itu akhirnya menumbuhkan satu rumah asuhan bagi kaum kapitalis pedesaan, yang perkembangannya dikondisikan oleh perkembangan umum produksi kapitalis di luar batas-batas pedesaan itu sendiri" (Capital, Vol. III, p. 332).[39]

Perampasan dan pengusiran sebagian masyarakat pertanian bukan saja membebaskan tumbuhnya kapital industrial, kaum pekerja, alat-alat untuk menunjang hidupnya, dan material untuk melakukan pekerjaan; hal itu juga menciptakan pasar dalam negeri" (Capital, Vol. I, pp. 778).[40] Pada gilirannya, pemiskinan dan kehancuran masyarakat pertanian memainkan satu bagian dalam penciptaan, untuk kepentingan kapital, satu pasukan pekerja cadangan. Dalam setiap negeri kapitalis "sebagian masyarakat pertanian jadi selalu berada di titik peralihan menjadi proletariat kota atau manufaktur (yaitu, non-pertanian)…. Sumber kelebihan populasi relatif ini dengan demikian terus mengalir…. Para pekerja pertanian akhirnya jatuh ke dalam upah yang paling minimum dari segala upah, dan selalu berada dengan satu kaki di dalam lumpur kemiskinan" (Capital, Vol. I, p. 668).[41] Kepemilikan pribadi atas tanah petani yang digarapnya adalah landasan bagi produksi skala kecil dan kondisi perkembangannya sampai mencapai bentuk-bentuk yang klasik. Tapi produksi skala kecil ini hanya cocok dengan kerangka produksi dan masyarakat yang sempit dan primitif. Di bawah kapitalisme "penghisapan atas petani hanya berbeda dalam bentuk dengan penghisapan atas proletariat industri. Penghisapnya sama: kapital. Kapitalis perorangan menghisap petani perorangan melalui gadai dan perampasan; kelas kapitalis menghisap kelas petani melalui pajak-pajak negara" (The Class Struggle in France).[42] Perusahaan tani yang kecil-kecil ini sekarang hanya merupakan alasan yang memungkinkan kaum kapitalis untuk menarik keuntungan, bunga dan rente dari tanah, sambil membiarkan perusahaan itu tetap di tangan para penggarap itu sendiri untuk melihat bagaimana mereka dapat memperoleh upah" (The Eighteenth Brumaire).[43]  Aturannya adalah kaum tani harus menyerah pada masyarakat kapitalis, yaitu, pada kelas kapitalis, bahkan bagian upahnya, tenggelam "sampai tingkatan upah para peteni penyewa Irlandia – semua di bawah khayalan bahwa mereka adalah para pemilik pribadi dari tanah mereka" (The Class Struggle in France).[44]
Apa yang "menjadi satu-satunya alasan mengapa harga gandum lebih rendah di daerah-daerah di mana lebih banyak kepemilikan tanah pribadi yang kecil-kecil daripada di daerah di mana terdapat dominasi cara produksi kapitalis"? (Capital, Vo. III, p. 340). Hal itu disebabkan karena para petani menyerahkan secara gratis kepada masyarakat (yaitu, kelas) kapitalis sebagian dari hasil lebihnya. "Harga (gandum dan lain-lain produk pertanian) yang lebih rendah ini adalah hasil yang wajar dari kemiskinan para penghasilnya dan bukannya dari produktivitas kerjanya" (Capital, Vol. III, p. 340). Di bawah kapitalisme sistem perusahaan kecil, yang merupakan bentuk normal dari produksi skala kecil, membusuk, runtuh dan gugur. "Kepemilikan dari petak-petak tanah, dari sifat dasarnya, tidak menyertakan perkembangan kekuatan produksi sosial kerja, bentuk sosial kerja, pemusatan sosial atas kapital, peternakan skala besar, dan penerapan ilmu pengetahuan secara progresif. Perampasan dan sistem pajak akan memiskinkannya di manapun. Pembelanjaan kapital dalam harga tanah menarik kapital ini dari proses pengerjaan tanah. Satu keterpecahbelahan yang tak terhingga atas alat-alat produksi, dan isolasi atas kaum penghasil itu sendiri." (Perkumpulan-perkumpulan koperasi, yaitu, kumpulan dari para petani kecil, walaupun memainkan peranan borjuis yang sangat progresif, hanya melemahkan kecenderungan ini tanpa menghapuskannya; jangan pula dilupakan bahwa perkumpulan koperasi ini menyumbang banyak untuk para petani kaya, dan hanya sedikit – hampir-hampir tidak ada – untuk massa petani miskin, dan perkumpulan-perkumpulan itu sendiri menjadi penghisap dari pekerja-pekerja sewaan.) "Pemborosan besar-besaran atas tenaga manusia. Pembusukan progresif dari kondisi-kondisi produksi dan peningkatan harga alat-alat produksi – satu hukum yang niscaya bagi kepemilikan petak-petak tanah."[45]
Dalam pertanian, sebagaimana dalam industri, kapitalisme hanya dapat mengubah proses produksi dengan "memartirkan para penghasil". "Penyebaran pekerja-pekerja pertanian pada wilayah yang semakin luas mematahkan kekuatan perlawanan mereka, sementara pemusatan meningkatkan kekuatan itu pada operasi-operasi di kota. Dalam pertanian modern, sebagaimana dalam industri perkotaan, harga yang harus dibayar untuk produktivitas dan jumlah pekerja yang semakin meningkat adalah pemborosan dan penyakit yang diderita oleh kemampuan kerja itu sendiri. Lebih jauh lagi, semua kemajuan dalam pertanian kapitalistik adalah kemajuan dalam seni, bukan hanya seni merampok para pekerja, tapi juga seni merampok tanah…. Produksi kapitalis, dengan demikian, mengembangkan teknologi, dan penggabungan dari berbagai proses menjadi satu kesatuan sosial, hanya dengan menghisap sumber asali dari semua kekayaan – tanah dan para pekerjanya" (Capital, Vol. I, akhir Bab 13).[46]






















Bab IV
Sosialisme

Dari seluruh tema yang kita bahas jelaslah bahwa Marx menyimpulkan keniscayaan peralihan dari masyarakat kapitalis menjadi masyarakat sosialis, seluruhnya dan secara eksklusif, dari hukum-hukum ekonomi dari perkembangan masyarakat yang sekarang ada. Sosialisasi atas kerja, yang meraih kemajuan yang semakin cepat dalam ribuan bentuk dan mewujudkan dirinya secara sangat nyata, selama setengah abad setelah wafatnya Marx, dalam pertumbuhan produksi skala besar, kartel-kartel kapitalis, sindikat dan trust, sebagaimana juga dalam peningkatan raksasa dalam kuasa dan dimensi dari kapital keuangan, menyediakan pondasi material prinsipil bagi kemajuan yang niscaya ke arah sosialisme. Pendorong utama [motive force, pen.] secara moral dan intelektual dan pelaksana fisik dari peralihan ini adalah proletariat, yang telah dilatih oleh kapitalisme itu sendiri. Perjuangan proletariat melawan borjuasi, yang menemukan wujudnya dalam berbagai bentuk yang semakin kaya dalam isinya, niscaya menjadi satu perjuangan politik yang diarahkan menuju penundukkan kekuasaan politik ke tangan proletariat ("kediktatoran proletariat").
Sosialisasi produksi tidak bisa tidak akan membawa alat-alat produksi menjadi milik masyarakat, kepada  "penindasan terhadap para penindas". Peningkatan raksasa dalam produktivitas kerja, hari kerja yang lebih pendek, dan penyingkiran sisa-sisa, puing-puing produksi yang berskala kecil, primitif dan terpencar-pencar oleh kerja yang kolektif dan lebih bermutu – itulah contoh akibat langsung dari peralihan ini. Kapitalisme mematahkan selamanya ikatan antara pertanian dan industri, tapi pada saat bersamaan, melalui perkembangannya yang puncak, juga menyiapkan satu unsur baru atas ikatan-ikatan itu, satu penyatuan antara industri dan pertanian berdasarkan penerapan ilmu pengetahuan secara sadar dan pemusatan kerja kolektif, dan akan satu pembagian kembali populasi manusia (dan mengakhiri pemusatan massa rakyat secara tidak alami di perkotaan).
Satu bentuk keluarga yang baru, kondisi-kondisi baru dalam status kaum perempuan dan dalam pendidikan generasi muda disediakan oleh bentuk tertinggi dari kapitalisme masa kini: dipekerjakannya kaum perempuan dan anak-anak dan pematahan keluarga patriarki oleh kapitalisme niscaya mengambil bentuk yang paling mengerikan, rusak dan menjijikkan dalam masyarakat modern. Walau demikian, "industri modern, dengan penempatan-penempatan kerjanya, atas satu bagian penting dalam sebuah proses produksi sosial, di luar lingkup domestik [domestic sphere, pen.], atas perempuan, kaum muda, dan anak-anak dari kedua jenis kelamin, menciptakan satu pondasi ekonomi untuk bentuk keluarga yang lebih tinggi dan untuk bentuk-bentuk hubungan antara kedua jenis kelamin. Tentu saja, sangatlah absurd untuk menganggap bentuk keluarga ala Kristen-Teutonik sebagai bentuk yang mutlak dan final sama halnya seperti menerapkan ciri-ciri keluarga itu terhadap peradaban Roma kuno, Yunani kuno, atau terhadap bentuk-bentuk keluarga Timur yang, lebih-lebih, bila disatukan akan membentuk satu serial perkembangan kesejarahan. Lebih-lebih lagi, jelas bahwa fakta tentang kelompok kerja kolektif yang tersusun dari segala jenis kelamin dan segala umur, niscaya, di bawah kondisi-kondisi yang sesuai, menjadi sumber perkembangan yang menguntungkan; sekalipun dalam bentuknya sekarang yang kapitalistik dan dikembangkan secara spontan dan brutal, di mana pekerja hidup bagi proses produksi, bukannya proses produksi ada bagi kepentingan kaum pekerja, fakta ini menjadi sumber gulma korupsi dan perbudakan" (Capital, Vol. I, akhir bab 13). Sistem pabrik mengandung "benih-benih pendidikan bagi masa depan, satu pendidikan yang akan, dalam hal tiap anak berumur cukup, menggabungkan kerja produktif dengan instruksi dan latihan, bukan hanya sebagai salah satu metode penambahan efisiensi produksi sosial, tapi sebagai satu-satunya cara untuk menghasilkan umat manusia yang dewasa sepenuhnya" (ibid.).[47]
Sosialisme Marx menempatkan masalah kebangsaan dan Negara dalam kedudukan sejarah yang sama, bukan hanya dalam bentuk satu ramalan yang berani tentang masa depan dan akan satu aksi praktis yang berani untuk mencapainya. Bangsa-bangsa adalah produk niscaya, bentuk niscaya, dalam epos perkembangan sosial borjuis. Kelas pekerja tidak dapat tumbuh perkasa, matang dan berujud tanpa "menyatukan dirinya dalam bangsa-bangsa", tanpa menjadi "bangsa" ("sekalipun bukan dalam makna yang dimaksudkan kaum borjuasi"). Walau demikian, perkembangan kapitalisme semakin jauh mematahkan batas-batas negara, menghilangkan isolasi nasional, dan menggantikan pertentangan antar kelas dengan pertentangan antar bangsa. Dengan demikian, sungguh benar, terutama bagi negeri-negeri berkembang, bahwa "kaum pekerja tidak memiliki negeri" dan bahwa "kesatuan aksi" oleh kaum pekerja, setidaknya dalam negeri-negeri beradab, "adalah satu dari kondisi-kondisi awal untuk emansipasi kaum proletariat" (Communist Manifesto).[48] Negara, yang merupakan alat penindas yang terorganisir, niscaya muncul dalam tahapan tertentu dalam perkembangan masyarakat, ketika masyarakat itu telah terpecah menjadi dua kelas yang tak terdamaikan, dan tidak akan hidup tanpa satu "kekuasaan" tersendiri yang berdiri di atas masyarakat, dan sampai tahap tertentu terpisah daripadanya. Tumbuh dari pertentangan kelas, negara menjadi

"…negaranya kelas yang paling kuat, paling dominan secara ekonomi, yang mana, melalui perantaraan negara, menjadi kelas yang dominan pula secara politik, dan dengan demikian menggenggam alat-alat baru untuk menekan dan menghisap kelas tertindas. Maka, negara-negara kuno terutama adalah negaranya para pemilik budak demi menekan kaum budak, sebagaimana negara feudal adalah alat kaum bangsawan untuk menekan para petani hamba dan hamba-hamba sahaya, dan negara perwakilan modern adalah alat penghisapan kapital atas pekerja upahan" (Engels, The Origin of the Family, Private Property and the State, satu karya di mana sang penulis menguraikan pandangannya sendiri dan pandangan Marx).[49]

Bahkan republik demokratik, bentuk negara borjuasi yang paling bebas dan progrresif, tidaklah menghapuskan fakta ini sama sekali, melainkan hanya mengubah bentuknya (hubungan antara pemerintah dan pasar bursa, korupsi – langsung atau tak langsung – oleh para pejabat dan pers, dll.).
Dengan membawa kita pada penghapusan kelas-kelas, sosialisme akan mengarahkan kita pula pada penghapusan negara. "Langkah pertama," tulis Engels dalam Anti-Dühring, "yang menggambarkan sejatinya negara sebagai perwakilan masyarakat secara keseluruhan – kepemilikan atas alat produksi atas nama masyarakat – adalah, sekaligus, tindakan mandirinya yang terakhir sebagai negara. Campur tangan negara dalam tiap bidang kehidupan akan semakin menjadi pemborosan, lalu berhenti karenanya. Pemerintahan perorangan digantikan oleh administrasi dan oleh arahan atas proses produksi. Negara tidak 'dilenyapkan', ia melenyap."[50] "Masyarakat yang akan mengorganisir produksi atas dasar perkumpulan kaum pekerja yang sukarela dan setara akan meletakkan seluruh mesin negara di mana seharusnya ia berada: dalam Museum Benda-benda Kuno, di sisi roda pintal benang dan kapak jaman perunggu" (Engels, The Origin of the Family, Private Property and the State).[51]
Akhirnya, dengan memperhatikan sikap sosialisme Marx terhadap para petani kecil, yang akan terus hidup dalam masa penindasan atas para penindas, kita harus merujuk pada satu pernyataan yang dibuat Engels, yang menyatakan pandangan Marx:

"… ketika kita memiliki kuasa negara, kita bahkan tidak akan berpikir untuk memaksakan perampasan tanah para petani kecil (baik dengan atau tanpa ganti rugi), seperti yang akan harus kita lakukan dalam kasus para tuan tanah besar. Tugas kita menyangkut para petani kecil terdiri dari, terutama, mengefektifkan peralihan dari perusahaan dan kepemilikan pribadinya menjadi koperasi-koperasi, bukan dengan paksaan tapi melalui bebagai contoh kecil dan penyediaan bantuan sosial untuk keperluan ini. Lalu kita tentu juga akan harus menyediakan cukup alat untuk menunjukkan pada para petani kecil ini keuntungan prospektif yang pasti juga sudah jelas baginya saat ini" (Engels, The Peasant Question in France and Germany,[52] p. 17, diterbitkan oleh Alexeyeva; ada beberapa kesalahan dalam terjemahan Rusianya. Tulisan asli dalam Die Neue Zeit[53]).

Bab V
Taktik Perjuangan Kelas Proletariat

Setelah menelaah, sejak 1844-45, satu dari kekurangan utama dari materalisme yang sebelumnya, yaitu, ketidakmampuannya untuk memahami keadaan atau mengapresiasi pentingnya aktivitas revolusioner praktis, Marx, sejalan dengan kerja-kerja teoritiknya, mengabdikan perhatian yang tanpa henti, sepanjang hidupnya, pada masalah-masalah taktis dari perjuangan kelas proletar.
Segunung tumpukan material tentang hal ini terkandung dalam seluruh karya Marx, terutama dalam empat jilid surat-menyuratnya dengan Engels, yang diterbitkan di tahun 1913. Bahan-bahan ini masih jauh dari sempurna disatukan, disusun, diperiksa dan dipelajari. Kita terpaksa di sini membatasi diri dengan hal-hal yang paling umum dan komentar-komentar singkat, dengan penekanan bahwa Marx telah dengan tepat berpendapat bahwa, tanpa aspek ini, materialisme tidaklah lengkap, berat sebelah dan tak bernyawa.
 Tugas mendasar dari taktik-taktik proletariat digariskan oleh Marx dengan dipandu ketat oleh semua teori Weltanschauung [cara pandang atas dunia, pen.]-nya yang dialektik dan materialis. Hanya sebuah pertimbangan yang objektif atas jumlah total hubungan antara semua kelas dalam satu masyarakat, dan sebagai akibatnya, satu pertimbangan atas tahapan perkembangan objektif yang telah dicapai oleh masyarakat tersebut dan akan hubungan antara masyarakat tersebut dan masyarakat yang lain, yang akan dapat digunakan sebagai dasar menentukan taktik yang tepat bagi kelas yang maju. Pada saat bersamaan, semua kelas dan semua negeri dianggap, bukan statis, tapi dinamis, yaitu, bukan dalam keadaan diam, tapi dalam gerak (yang hukum-hukumnya ditentukan oleh kondisi ekonomi dari keberadaan tiap kelas). Gerak, pada gilirannya, diperiksa dari sudut pandang, bukan hanya masa lalu, melainkan juga dari masa datang, dan bukan seperti yang secara vulgar dipikirkan oleh para "evolusionis", yang hanya melihat perubahan perlahan-lahan, tapi secara dialektik: "… dalam perkembangan sebesar itu duapuluh tahun dilalui kurang dari satu hari," tulis Marx pada Engels, "sekalipun kelak mungkin akan ada masanya di mana duapuluh tahun itu harus benar-benar dilalui hari ke hari" (Briefwechsel, Vol. 3, p. 127).[54]
Dalam tiap tahap perkembangan, pada tiap saat, taktik proletariat harus mempertimbangkan dialektika sejarah manusia yang tak terhindarkan secara objektif ini. Di satu pihak, menggunakan masa-masa kemandegan politik atau perkembangan yang merayap, yang disebut "masa-masa damai" itu, untuk mengembangkan kesadaran kelas, kekuatan dan militansi kelas yang maju, dan di pihak lain, mengarahkan kerja-kerja dari masa "damai" ini menuju "tujuan akhir" dari kemajuan kelas itu, menuju penciptaan di dalam kelas itu kemampuan untuk menemukan penyelesaian praktis untuk tugas-tugas besar dalam hari-hari bergolak, di mana "duapuluh tahun dilalui kurang dari satu hari".
Dua argumen Marx sangat khusus artinya dalam hal ini: satu daripadanya terkandung dalam The Poverty of Philosophy dan menyangkut perjuangan ekonomi dan organisasi ekonomi kaum proletariat; yang lainnya termaktub dalam Communist Manifesto dan menyangkut tugas-tugas politik proletariat. Argumen yang pertama berbunyi demikian: "Industri skala besar memusatkan sejumlah besar orang yang tidak saling mengenal di satu tempat. Persaingan memisahkan kepentingan mereka. Tapi dipeliharanya upah, kepentingan bersama yang mereka miliki berhadapan dengan para bos mereka, menyatukan mereka dalam satu pikiran bersama untuk perlawanan – kombinasi…. Kombinasi, sekalipun awalnya terisolasi, membentuk mereka menjadi satu kelompok… dan berhadapan dengan kapital yang selalu bersatu, pemeliharaan organisasi menjadi semakin perlu bagi mereka (yaitu, kaum pekerja) ketimbang upah…. Dalam pergulatan ini – perang saudara yang sejati – semua unsur yang perlu bagi pertempuran yang akan datang dipersatukan dan diperkembangkan. Sekali ia mencapai titik ini, perkumpulan akan mengambil watak politik."[55] Di sini kita melihat program dan taktik perjuangan ekonomi dan bagi gerakan serikat buruh untuk beberapa dasawarsa mendatang, untuk masa-masa panjang di mana kaum proletariat akan menyiapkan tenaganya untuk "pertempuran yang akan datang".
Semua ini harus dibandingkan dengan sejumlah rujukan yang dibuat Marx dan Engels terhadap contoh gerakan buruh Inggris, yang menunjukkan bagaimana "kemakmuran" industri memungkinkan satu upaya "untuk menyogok kaum proletariat" (Briefwechsel, Vol. 1, p. 136),[56] untuk menyimpangkan mereka dari perjuangan; bagaimana kemakmuran ini secara umum "menjatuhkan semangat juang kaum buruh" (Vol. 2, p. 218); bagaimana proletariat Inggris menjadi "terborjuasikan" – "negeri yang paling borjuis dari seluruh negeri ini kelihatannya menggariskan tujuan akhir untuk memiliki satu aristokrasi borjuis dan proletariat borjuis di samping kaum borjuis itu sendiri" (Vol. 2, p. 290);[57] bagaimana "tenaga revolusioner" mereka menguap (Vol. 3, p. 124); bagaimana perlunya untuk menunggu sepanjang waktu yang agak lama sebelum "pekerja Inggris membebaskan diri mereka sendiri dari penyakit menular borjuasi ini" (Vol. 3, p. 127); bagaimana gerakan buruh Inggris "tidak memiliki watak yang dimiliki kaum Chartist"[58] (1866; Vol. 3, p. 305)[59]; bagaimana para pimpinan buruh Inggris semakin menjadi satu tipe jalan tengah antara "seorang borjuis radikal dan buruh" (dalam rujukan terhadap Holyoak, Vol. 4, p. 433).[60] Taktik perjuangan ekonomi, dalam hubungan dengan arah umum (dan hasil) gerakan kelas pekerja, dipandang di sini dari sudut pandang yang sangat luas, menyeluruh, dialektik, dan sungguh-sungguh revolusioner.
            Communist Manifesto memajukan satu prinsip Marxis yang mendasar tentang taktik perjuangan politik: "Kaum Komunis berjuang untuk pencapaian tujuan-tujuan jangka dekat, untuk penegakan kepentingan sementara kelas pekerja; tapi dalam perjuangan untuk masa kini, mereka juga mewakili dan menjaga masa depan dari gerakan itu."[61] Itulah mengapa, di tahun 1848, Marx mendukung pihak "revolusi pertanian" di Polandia, "pihak yang membawa insureksi di Krakow di tahun 1846".[62] Di Jerman, di tahun 1848 dan 1849, Marx mendukung kaum demokrat ekstrim revolusioner, dan dengan demikian tidak mundur dari taktik yang telah digariskannya. Ia menganggap borjuasi Jerman sebagai sebuah unsur yang "sejak awal cenderung untuk mengkhianati rakyat" (hanya sebuah aliansi dengan kaum petani yang akan memungkinkan kaum borjuasi untuk mencapai tujuannya) "dan berkompromi dengan perwakilan bermahkota dari masyarakat lama". Inilah kesimpulan Marx tentang posisi kelas kaum borjuasi Jerman dalam masa-masa revolusi borjuis-demokratik – satu analisa yang, kebetulan, merupakan satu contoh dari materialisme yang menelaah masyarakat yang bergerak, dan terlebih lagi, bukan hanya dari sudut gerak yang mundur: "Tanpa kepercayaan diri, tanpa kepercayaan kepada rakyat, menggerutu pada semua yang ada di atas, gemetar akan semua yang ada di bawah… ketakutan akan kemungkinan badai di dunia… tak bertenaga dalam semua hal, pencontek dalam semua hal… tanpa inisiatif… seorang tua terkutuk yang melihat dirinya ditakdirkan untuk mengarahkan dan mementahkan semua gejolak yang segar dari rakyat yang kekar untuk kepentingan dirinya yang sudah usang itu…."(Neue Reinische Zeitung, 1848; lihat Literarischer Nachlass, Vol. 3, p. 212)[63]
Sekitar duapuluh tahun kemudian, Marx menyatakan, dalam sebuah surat pada Engels (Briefwechsel, Vol. 3, p. 224), bahwa Revolusi 1848 telah gagal karena kaum borjuasi telah memilih berdamai dengan perbudakan ketimbang kemungkinan harus bertempur demi kebebasan. Ketika periode revolusioner 1848-49 telah berakhir, Marx menentang segala upaya untuk membangkitkan kembali revolusi (pertentangannya dengan Schapper dan Willich), dan menekankan pada kemampuan untuk bekerja dalam tahapan baru, di mana sebuah cara "damai" semu harus digunakan untuk menyiapkan revolusi-revolusi baru. Semangat yang diperlukan Marx untuk kerja-kerja ini harus dilakukan dapat dilihat dalam tanggapannya tentang situasi Jerman tahun 1856, masa-masa reaksi yang paling gelap: "semua hal di Jerman akan tergantung pada kemungkinan dukungan atas revolusi proletariat oleh Perang Petani jilid dua*****" (Briefwechsel, Vol. 2, p. 108).[64]
Sementara revolusi demokratik (borjuis) di Jerman tidak terselesaikan, Marx memusatkan seluruh perhatiannya pada taktik-taktik proletariat sosialis, tentang pengembangan tenaga demokratik dari kaum tani. Ia memandang bahwa sikap Lassalle adalah "secara objektif… sebuah pengkhianatan terhadap seluruh gerakan buruh Prusia" (Vol. 3, p. 210), kebetulan karena Lassalle bersikap toleran terhadap kaum Junker dan nasionalisme Prusia. "Dalam sebuah negeri yang pertaniannya dominan," tulis Engels di tahun 1865, ketika bertukar pikiran dengan Marx mengenai pernyataan bersama yang akan mereka keluarkan waktu itu, "… sangatlah pengecut untuk menyerang borjuasi atas nama proletariat tapi tidak pernah mengabdikan satu kata terhadap penghisapan patriarkal atas proletariat pedesaan yang berada di bawah cemeti kaum aristokrat feudal besar" (Vol. 3, p. 127).[65] Dari 1864 sampai 1870, ketika masa-masa pengganyangan terhadap revolusi demokratik borjuis sedang mendekati akhirnya, satu masa di mana kelas-kelas penghisap di Prusia dan Austria sedang bertarung untuk menyelesaikan revolusi itu lewat satu cara atau lainnya dari atas, Marx tidak hanya menyanggah Lassalle, yang waktu itu bermain mata dengan Bismarc, tapi juga mengoreksi Liebknecht, yang telah tenggelam dalam "Austrofilisme" dan pembelaan terhadap partikularisme; Marx menuntut taktik revolusioner yang akan bertarung dengan kegigihan yang setara terhadap Bismarc dan kaum Austofilis, taktik yang tak akan dicuri oleh "para pemenang" – kaum Junker Prusia – tapi yang akan segera memperbaharui perjuangan revolusioner menentangnya sekalipun dihalangi oleh kondisi-kondisi yang diciptakan oleh kemenangan-kemenangan tentara Prusia (Briefwechsel, Vol. 3, pp. 134, 136, 147, 179, 204, 210, 215, 418, 437, 440-41).[66] Dalam Pernyataan Internasionale tanggal  9 September 1870 yang terkenal itu, Marx memperingatkan proletariat Perancis terhadap kemungkinan pemberontakan terlalu dini, tapi ketika sebuah pemberontakan benar-benar terjadi (1871), Marx dengan bersemangat mengelu-elukan inisiatif revolusioner dari massa, yang "menyerbu langit" (Surat Marx kepada Kugelmann).[67]
Dari sudut pandang materialisme dialektika Marx, kekalahan dalam aksi-aksi revolusioner dalam situasi semacam itu, seperti yang seringkali terjadi, adalah keburukan kecil, dalam arah umum dan hasil akhir dari perjuangan proletariat, ketimbang penyangkalan terhadap posisi yang telah berhasil direbut, daripada menyerah tanpa bertempur. Ketaklukan semacam itu akan meruntuhkan semangat proletariat dan melemahkan militansinya. Sambil menyepakati penggunaan alat-alat perjuangan legal selama masa-masa kemandegan politik dan dominasi legalitas kaum borjuasi, Marx, di tahun 1877 dan 1878, menyusul disahkannya Undang-undang Anti-Sosialis,[68] dengan tajam mengutuk "ucapan-ucapan revolusioner" Most; tidak kurang tajamnya, kalau bukan lebih tajam, ia juga menyerang oportunisme yang untuk beberapa waktu menghinggapi para pejabat Partai Sosial-Demokrat, yang tidak dengan serta-merta menunjukkan kebulatan tekad, keteguhan, semangat revolusioner dan kesiapan untuk melancarkan perjuangan bawah tanah terhadap Undang-undang Anti-Sosialis itu (Briefwechsel, Vol. 4, pp. 397, 404, 418, 422, 424;[69] cf. Juga surat-surat kepada Sorge).


Ditulis Juli-November 1914.
Pertama terbit dalam bentuk ringkas di tahun 1915
dalam Granat Encyclopaedia, edisi VII, Vol. 28, atas nama V. Ilyin.






* Penanggalan Lama Rusia adalah 13 hari lebih lambat dari Penanggalan Masehi.
** Sekalipun keluarga Westphalen banyak menghasilkan pejabat-pejabat reaksioner untuk Kekaisaran Prusia, ayah Jenny sendiri, Baron von Westphalen, adalah seorang sosialis-utopis penganut ajaran Saint-Simon. Pengaruh ayah Jenny ini besar bagi perkembangan kecondongan Marx pada sosialisme.
*** Pada masa itu, orang tidak membedakan "komunisme" dengan "sosialisme". Pembedaan ini baru dilakukan oleh pers borjuasi pasca kemenangan Revolusi Oktober untuk memburukkan citra Uni Sovyet dan gerakan kaum pekerja pada khususnya. Pada akhirnya, citra "komunisme" itu sendiri menjadi buruk karena praktek-praktek penyimpangan vulgar atas Marxisme oleh Stalin, yang memaksa kaum sosialis di seluruh dunia, pasca Perang Dingin, untuk melakukan reposisi terhadap Marxisme dan perjuangan revolusioner kelas pekerja.
**** Perkembangan teori fisika dan kimia modern sudah melangkah jauh lebih maju dari masa Lenin, terutama setelah ditemukannya teori relativitas dan teori kuantum. Sampai saat ini, hukum-hukum fisika yang diketahui, bahkan sampai tingkatan atomik, masih membuktikan kebenaran Materialisme-Dialektika.
***** Kutipan ini merujuk pada Pemberontakan Petani Jerman 1524-25. Pemberontakan Petani ini merupakan hasil dari mematangnya feudalisme Jerman, di mana para petani bebas sudah banyak kehilangan tanahnya dan dipaksa menjadi petani hamba dan menyerahkan upeti pada para Pangeran Jerman. Berhadapan dengan pemberontakan ini, para Pangeran Jerman yang tadinya saling bersaing antara mereka sendiri dan dengan Kaisar Roma Yang Suci (The Holy Roman Empire) menyatukan kekuatan tentaranya untuk menumpas pemberontakan itu.


Catatan

[1] Lenin menulis artikel ini untuk Encyclopedic Dictionary yang diterbitkan oleh Granat Bersaudara, yang pada waktu itu adalah yang paling populer di Rusia. Dalam pembukaan untuk pamflet edisi 1918 Lenin, menyatakan bahwa tanggal penulisannya adalah 1913, seingat dia. Sebenarnya ia memulai penulisannya di musim semi 1914 di Poronin, tapi harus berhenti karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya mengarahkan partai dan koran Pravda. Lenin meneruskan pekerjaannya menulis artikel ini di bulan September tahun itu, setelah ia pindah ke Berne, dan menyelesaikannya pada paruh pertama bulan November.
                Artikel ini diterbitkan tahun 1915 dalam Volume 28 dari Dictionary itu dengan "Bibliografi Marxisme" ditambahkan padanya; ditandatangani oleh "V. Ilyin". Untuk alasan-alasan sensor para penyunting memotong dua bab: "Sosialisme" dan "Taktik Perjuangan Kelas Proletar" dan membuat beberapa perubahan dalam teksnya.
                Di tahun 1918 Priboi Publisher mencetak artikel ini dalam bentuk pamflet persis seperti yang diterbitkan dalam Dictionary tapi tanpa Bibliografi.
                Teks lengkap dari artikel ini menurut manuskripnya diterbitkan pertama kali oleh Institut Lenin Komite Sentral Partai Komunis Uni Sovyet dalam kumpulan artikel-artikel Lenin Marx, Engels, Marxism, yang muncul di tahun 1925.

[2] Mensheviks – sebuah kecenderungan oportunis dalam gerakan sosial demokratik di Rusia.
                Mereka mulai dikenal sebagai Mensheviks pada Kongres Kedua RSDRP (Rosskaya Sotsial-Demokratitcheskaya Rabochaya Partia – Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia) di tahun 1903, ketika selama pemilihan badan-badan sentral partai kaum sosial-demokrat yang dipimpin Lenin memenangkan mayoritas (bolshintsvo) sementara kaum oportunis menemukan bahwa mereka adalah minoritas (menshintsvo); dari sanalah lahir istilah Bolsheviks dan Mensheviks.
                Selama revolusi 1905-07 kaum Mensheviks menentang hegemoni kelas pekerja dalam revolusi dan aliansinya dengan kaum tani dan menuntut dibuatnya kesepakatan dengan kaum borjuasi liberal, yang, menurut pendapat mereka, harus memimpin revolusi. Dalam tahun-tahun reaksi yang menyusul kekalahan revolusi sebagian besar kaum Mensheviks menjadi para likuidator; mereka menuntut pembubaran partai kelas pekerja revolusioner yang waktu itu ilegal. Setelah kemenangan revolusi demokratik borjuis di bulan Februari 1917, kaum Mensheviks menerima jabatan-jabatan dalam Pemerintahan Sementara yang borjuis, mendukung politik imperialis mereka dan menentang Revolusi Sosialis yang sedang dipersiapkan oleh Bolsheviks.
                Setelah Revolusi Sosialis di bulan Oktober 1917 kaum Mensheviks menjadi satu partai kontra-revolusioner terbuka yang mengorganisir dan berperan dalam berbagai konspirasi dan berontak terhadap kekuasaan Kongres Sovyet seluruh Rusia.

[3] Hegelian Kiri atau Hegelian Muda – satu kecenderungan idealis dalam filsafat Jerman di tahun 1830-an dan 1840-an. Kaum Hegelian Muda mencoba menarik kesimpulan radikal dari filsafat Hegel untuk membuktikan perlunya revolusi borjuis di Jerman.
                Para pemimpin kecenderungan ini adalah David Strauss, Bauer bersaudara, Max Stirner dan beberapa lainnya. Untuk beberapa waktu Feuerbach dan juga Marx dan Engels di masa mudanya tergabung dalam Hegelian Muda. Lalu Marx dan Engels berpisah dengan mereka dan mengkritik hakikat idealis dan borjuis kecil dari kelompok tersebut dalam The Holy Family (1844) dan The German Ideology (1845-46).

[4] Frederick Engels, Ludwig Feuerbach and the End of Classical German Philosophy (lihat Marx dan Engels, Selected Works, Vol. 3, Moskow, 1973, p. 344 – selanjutnya disebut MSW).

[5] Reinische Zeitung für Politik, Handel und Gewerb (Koran Rhein tentang Politik, Perdagangan dan Manufaktur) – sebuah harian yang muncul di Cologne dari 1 Januari 1842 sampai 31 Maret 1843. Koran ini didirikan oleh perwakilan borjuasi Rhein yang menentang absolutisme Prusia. Beberapa Hegelian Kiri diundang untuk menulis bagi harian itu. Marx menjadi penulis tetap di bulan April 1842 dan merupakan seorang dari redaktur harian itu sejak Oktober tahun itu. Di bawah Marx Rheinische Zeitung mulai membawa watak-watak demokratik-revolusioner yang lebih tegas. Di bulan Januari 1843, pemerintah Prusia mengeluarkan satu perintah untuk menutup harian itu terhitung tanggal 1 April 1843 dan memberlakukan sensor ketat sepanjang masa peralihan. Karena terdapat rencana para pemegang saham untuk membuat harian itu lebih moderat, Marx mengundurkan diri pada tanggal 17 Maret 1843.

[6] Lihat Bibliografi yang ditambahkan dalam edisi ini. Pada edisi asli bahasa Inggris tidak terdapat Bibliografi tersebut.

[7] Rujukan pada artikel "Justification of the Correspondent from the Mosel" oleh Karl Marx.

[8] Rujukan pada Deutsch-Französische Jahrbücher (Buku tahunan Perancis-Jerman), sebuah majalah yang diredakturi oleh Marx dan Arnold Ruge dan diterbitkan dalam bahasa Jerman di Paris. Hanya edisi pertama, sebuah edisi ganda, yang sempat muncul, di bulan Februari 1844. Di dalamnya terdapat karya-karya Marx dan Engels yang menandai peralihan akhir mereka menuju materialisme dan komunisme.
                Penerbitan majalah itu dihentikan terutama karena perbedaan pendapat yang mendasar antara Marx dengan Ruge, yang borjuis radikal itu.

[9] Karl Marx, "Contribution to the Critique of Hegel's Philosophy of Right, Introduction" (lihat Marx dan Engels, On Religion, Moskow, 1972, p. 45).

[10] Proudhonisme – satu kecenderungan tidak ilmiah dalam sosialisme borjuis kecil, bermusuhan dengan Marxisme, dinamai menurut ideolognya, Pierre Joseph Proudhon. Proudhon mengritik kepemilikan kapitalis besar dari sudut pandang borjuis kecil dan bermimpi melanggengkan kepemilikan pribadi atas usaha kecil. Ia mengusulkan pembangunan bank-bank "rakyat" dan "pertukaran", yang akan membantu kaum pekerja memperoleh alat-alat produksi, menjadi perajin dan menjamin pasar yang adil atas produksi mereka. Proudhon tidak memahami peran sejarah dari proletariat dan menampilkan sikap negatif terhadap perjuangan kelas, revolusi proletariat dan kediktatoran proletariat; sebagai seorang anarkis ia menyangkal perlunya pekerja mendirikan Negara Proletar, Marx menempatkan Proudhonisme di bawah badai kritik dalam karyanya Poverty of Philosophy. Pada akhir hayatnya Proudhon baru menyadari kebenaran dari kritik Marx terhadap pandangannya sendiri.
 
[11] Liga Komunis – organisasi komunis internasional pertama bagi kaum proletariat yang didirikan di bawah arahan Marx di London pada awal Juni 1847.
                Marx membantu menyusun prinsip-prinsip program dan organisasional dari Liga itu; bersama Engels ia menulis program politik Liga – Manifesto Partai Komunis, yang diterbitkan di bulan Februari 1848.
                Liga Komunis adalah pendahulu dari International Working Men's Association (Internasionale Pertama). Ia bertahan sampai November 1852, para anggotanya yang terkemuka kemudian memainkan peranan penting dalam Internasionale I.

[12] Rujukan pada revolusi borjuis di Perancis, Februari 1848.

[13] Rujukan pada revolusi borjuis di Jerman dan Austria yang mulai di bulan Maret 1848.

[14] Die Neue Rheinische Zeitung (Koran Rhein Baru) diterbitkan di Cologne dari 1 Juni 1848 sampai 19 Mei 1849. Marx dan Engels mengarahkan harian tersebut, Marx sebagai Pemimpin Redaksi. Lenin menggambarkan harian ini sebagai "organ proletariat revolusioner yang paling baik dan tak tertandingi" (Lenin, Collected Works, Vol. 21, p. 81 – selanjutnya disebut LCW). Tanpa mempedulikan penindasan dan berbagai rintangan yang ditempatkan oleh polisi, koran itu dengan teguh membela kepentingan demokrasi revolusioner, kepentingan proletariat. Karena Marx diusir dari Prusia pada bulan Mei 1849 dan penangkapan terhadap redaktur yang lain, harian itu terpaksa menghentikan penerbitannya. Edisi terakhirnya terbit dengan tinta merah dan mengandung salah satu analisa paling gemilang terhadap watak oportunis kaum borjuasi dalam revolusi demokratik.

[15] Rujukan pada demonstrasi massa di Paris yang diorganisir oleh Montagne, partai kaum borjuis kecil, dalam protes terhadap campur tangan yang dilakukan Presiden dan mayoritas anggota Dewan Perwakilan Rakyat terhadap ketentuan konstitusional yang ditegakkan dalam revolusi 1848. Demonstrasi ini dibubarkan oleh pemerintah.

[16] Rujukan pada pamflet Marx, Herr Vogt, yang ditulis sebagai jawaban atas pamflet fitnah yang ditulis oleh Vogt, seorang Bonapartis, My Process Against "Allgemeine Zeitung".
Marx semula enggan menulis jawaban ini karena pada dasarnya ia tidak suka menyerang orang secara pribadi. Namun, melihat pengaruh pamflet Vogt di kalangan massa buruh, ia terpaksa duduk dan menulis salah satu analisis paling gemilang mengenai penyimpangan gerakan buruh karena sogokan-sogokan Bonapartis. Dalam pamflet itu Marx menghancurkan sekaligus reputasi Vogt yang berupaya menampilkan diri sebagai seorang pembela buruh dengan menelanjangi seluruh latar belakang dan tindakan-tindakan politiknya.

[17] Rujukan pada "Pidato Peresmian Internasionale Pertama".

[18] Bakuninisme – satu kecenderungan yang dinamai menurut pemimpinnya Mikhail Bakunin, seorang ideolog anarkisme.
                Kaum Bakuninis melancarkan perjuangan yang keras kepala terhadap teori dan taktik-taktik Marx di tengah gerakan kelas pekerja. Rumusan dasar kaum Bakuninis adalah penolakan terhadap segala bentuk negara, termasuk kediktatoran proletariat. Kaum Bakuninis tidak memahami peranan sejarah proletariat. Mereka berpandangan bahwa sebuah kumpulan kaum revolusioner yang kecil dan rahasia, yang dibentuk oleh "orang-orang yang hebat" akan otomatis membangkitkan massa dalam pemberontakan. Taktik mereka yang mengandalkan persekongkolan dan terorisme adalah perjudian dan sama sekali tidak cocok dengan teori pemberontakan Marxis.

[19] Lihat Marx dan Engels, The Holy Family, Moskow, 1956, p. 168.

[20] Lihat Karl Marx, Capital, Vol. I, Moskow, 1972, p. 29.

[21] Frederick Engels, Anti-Dühring, Moskow, 1962, pp. 65, 86, 55, 38.

[22] Agnostisisme – satu teori filsafat idealis yang beranggapan bahwa dunia ini tidak dapat dipahami, bahwa pikiran manusia terbatas dan tidak dapat mengetahui segala sesuatu yang berada di luar kemampuan inderawi manusia. Agnostisisme memiliki banyak bentuk: beberapa agnostik mengakui keberadaan objektif dari dunia material sekalipun manusia tetap tidak dapat memahami segala yang berada di luar penangkapan inderawinya.
                Kritisisme – Kant memberikan nama ini pada filsafat idealisnya, karena ia beranggapan bahwa kritisisme terhadap kemampuan kognitif manusia adalah tujuan dari filsafat tersebut. Kritisisme Kant membuatnya yakin bahwa akal manusia tidak akan dapat memahami sifat dan watak segala hal.
                Positivisme – satu kecenderungan filsafat dan sosiologi borjuis yang beredar luas, didirikan oleh Comte (1789-1857), seorang filsuf dan sosiolog Perancis. Kaum positivis menyangkal kemungkinan memahami keteraturan dan hubungan-hubungan internal dan menyangkal pentingnya filsafat sebagai sebuah cara untuk memahami dan mengubah dunia objektif. Mereka mereduksi filsafat menjadi sekedar ringkasan dari data yang disediakan oleh berbagai cabang ilmu pengetahuan dan menjadi sekedar penggambaran atas hasil pengamatan langsung, yaitu, sekedar fakta-fakta "positif". Positivisme menganggap dirinya berada "di atas" materialisme maupun idealisme namun sesungguhnya bukan apa-apa selain sekedar varian dari idealisme subjektif.

[23] Frederick Engels, Ludwig Feuerbach and the End of Classical German Philosophy (MSW, Vol. 3, p. 347).

[24] Frederick Engels, Anti-Dühring, Moskow, 1962, pp. 16, 36.

[25] Frederick Engels, Ludwig Feuerbach and the End of Classical German Philosophy (MSW, Vol. 3, pp. 362-63, 339, 362).

[26] Frederick Engels, Anti-Dühring, Moskow, 1962, p. 40.

[27] Frederick Engels, Ludwig Feuerbach and the End of Classical German Philosophy (MSW, Vol. 3, p. 351).

[28] Lihat Karl Marx, Capital, Vol. I, Moskow, 1972, p. 352.

[29] Lihat Karl Marx, A Contribution to the Critique of Political Economy, Moskow, 1971, pp. 20-21.

[30] Masa Restorasi – masa-masa di Perancis antara 1814 dan 1830 di mana kekuasaan berada di tangan dinasti Bourbon, yang dikembalikan ke atas tahta oleh kaum borjuis yang ketakutan akan pemberontakan proletar, setelah sebelumnya dinasti itu digulingkan oleh revolusi borjuis Perancis 1792.

[31] MSW, Vol. 1, pp. 108-09, 117-18, 116.

[32] Lihat Karl Marx, Capital, Vol. I, Moskow, 1972, p. 20.

[33] Lihat Karl Marx, Capital, Vol. I, Moskow, 1972, pp. 78-79.

[34] Lihat Karl Marx, A Contribution to the Critique of Political Economy, Moskow, 1971, pp. 30.

[35] Lihat Karl Marx, Capital, Vol. I, Moskow, 1972, p. 167.

[36] Lihat Karl Marx, Capital, Vol. I, Moskow, 1972, p. 164.

[37] Lihat Karl Marx, Capital, Vol. I, Moskow, 1972, pp. 713, 714-15.

[38] Teori Kegunaan Marjinal – Theory of Marginal Utility, satu teori ekonomi borjuasi yang vulgar dan apologis yang berasal dari tahun 1870-an untuk menangkal teori nilai dari Marx. Menurut teori ini, nilai komoditi diperhitungkan dari kegunaannya dan bukannya jumlah kerja sosial yang dihabiskan dalam menciptakan produk tersebut.

[39] Lihat Karl Marx, Capital, Vol. III, Moskow, 1972, p. 798-99.

[40] Lihat Karl Marx, Capital, Vol. I, Moskow, 1972, p. 699.

[41] Lihat Karl Marx, Capital, Vol. I, Moskow, 1972, pp. 601-02.

[42] MSW, Vol. 1, pp. 276-77.

[43] MSW, Vol. 1, p. 481.

[44] MSW, Vol. 1, p. 276.

[45] Lihat Karl Marx, Capital, Vol. III, Moskow, pp. 806, 807.

[46] Lihat Karl Marx, Capital, Vol. I, Moskow, 1972, pp. 474-75.

[47] Lihat Karl Marx, Capital, Vol. I, Moskow, 1972, pp. 460, 454.

[48] MSW, Vol. 1, pp. 124-25.

[49] MSW, Vol. 3, p. 328.

[50] Frederick Engels, Anti-Dühring, Moskow, 1962, p. 385.

[51] MSW, Vol. 3, p. 330.

[52] MSW, Vol. 3, p. 470.

[53] Die Neue Zeit (Jaman Baru) – satu majalah teoritik dari Partai Sosial Demokratik Jerman yang diterbitkan di Stuttgart dari tahun 1883-1923.
                Beberapa karya Marx dan Engels pertama muncul dalam majalah ini. Engels membantu para redaktur majalah itu dengan saran-saran dan seringkali mengkritik penyimpangan-penyimpangan mereka dari Marxisme. Mulai dari pertengahan 1890-an, setelah wafatnya Engels, majalah ini secara teratur menerbitkan artikel-artikel dari para revisionis. Mereka yang disebut revisionis ini menolak aspek revolusioner dari teori Marx. Mereka beranggapan bahwa sosialisme dapat dicapai dengan sendirinya karena sudah hukum sejarah, dengan demikian kaum proletar tidak perlu merebut kekuasaan dari tangan borjuasi. Selama Perang Dunia I, 1914-1918, mereka mengambil posisi Sentris dan memberikan dukungan aktual mereka pada kaum sosial-chauvinis.

[54] Lihat Surat Marx pada Engels tertanggal 9 April 1863 (Marx dan Engels, Selected Correspondence, Moskow, 1965, p. 140).

[55] Karl Marx, The Poverty of Philosophy, Moskow, 1973, p. 150.

[56] Lihat surat Marx pada Engels, 5 Februari 1851.

[57] Surat Engels pada Marx tertenggal 17 Desember 1857 dan 7 Oktober 1858 (Marx dan Engels, Selected Correspondence, Moskow, 1965, p. 110).

[58] Chartisme – gerakan massa revolusioner pertama dari kaum buruh Inggris di tahun 1830-an dan 1840-an. Kaum Chartis menerbitkan petisi mereka pada Parlemen, "the People's Charter" – Piagam Rakyat, dari mana nama mereka berasal, dan berjuang di jalanan untuk pemenuhan tuntutan-tuntutan itu: hak pilih bagi semua orang dan setiap kelas, penghapusan syarat kepemilikan harta sebagai syarat bagi kandidat Parlemen, dll. Pertemuan-pertemuan akbar dan demonstrasi yang melibatkan jutaan orang buruh dan perajin diadakan di seluruh negeri selama bertahun-tahun.
                Parlemen tidak menyetujui Piagam Rakyat dan menolak mengabulkan satupun tuntutan mereka.
                Pemerintah menerapkan penindasan keras terhadap kaum Chartis dan menangkap banyak pimpinan mereka. Gerakan ini berhasil dihancurkan tapi ia memiliki dampak yang sangat besar pada gerakan internasional kelas pekerja di masa-masa sesudahnya.

[59] Lihat surat Engels pada Marx tertanggal 8 April 1863, surat Marx pada Engels tertanggal 9 April 1863 dan juga surat Marx pada Engels, 2 April 1866.

[60] Lihat surat Engels pada Marx, 19 November 1869 dan 11 Agustus 1881.

[61] MSW, Vol. 1, p. 136.

[62] Rujukan pada pemberontakan demokratik untuk pembebasan nasional di Republik Krakow yang di tahun 1815 ditempatkan di bawah kendali bersama Austria, Prusia dan Rusia. Para pemberontak mendirikan satu Pemerintahan Nasional. Mereka menerbitkan sebuah manifesto yang memaklumkan penghapusan susunan feudalisme dan berjanji membagikan tanah pada petani tanpa perlu membayar uang pengganti. Dalam maklumat yang lain mereka mengumumkan pendirian satu sistem pabrik nasional dengan upah lebih tinggi dan memperkenalkan hak-hak setara bagi seluruh warga negara. Dengan cepat, pemberontakan ini ditumpas oleh gabungan tentara ketiga kekaisaran.

[63] Karl Marx, "The Bourgeoisie and the Counter-Revolution" (lihat MSW, Vol. 1, p. 92).

[64] Surat Marx pada Engels, 16 April 1856 (Marx dan Engels, Selected Correspondence, Moskow, 1965, p. 92).

[65] Lihat surat Engels pada Marx tertanggal 27 Januari 1865 dan 5 Februari 1865.

[66] Lihat surat Engels pada Marx tanggal 11 Juni 1863, 24 November 1863, 4 September 1864, 27 Januari 1865, 22 Oktober 1867 dan 6 Desember 1867; juga surat Marx pada Engels tertanggal 12 Juni 1863, 10 Desember 1864, 3 Februari 1865 dan 17 Desember 1867.

[67] Surat Marx pada Kugelmann, 12 April 1871 (Marx dan Engels, Selected Correspondence, Moskow, 1965, p. 263).

[68] Undang-undang Anti-Sosialis – The Exceptional Law Against Socialist, disahkan di Jerman di tahun 1878. Di bawah undang-undang ini semua organisasi Partai Sosial-Demokrat, semua organisasi buruh dan koran-koran kelas pekerja dilarang; bacaan-bacaan sosialis disita dan para sosial demokrat ditangkap atau diusir ke luar negeri. Namun Partai Sosial Demokrat sanggup mengorganisir kerja-kerjanya dalam kondisi bawah tanah dan dalam waktu bersamaan menggunakan secara luas segala kesempatan legal yang ada untuk menguatkan kontaknya dengan massa. Undang-undang ini dicabut di tahun 1890 karena tekanan gerakan massa yang semakin kuat.

[69] Lihat surat Marx pada Engels tertanggal 23 Juli 1877, 1 Agustus 1877 dan 10 September 1879; juga surat Engels pada Marx tertanggal 20 Agustus 1879 dan 9 September 1879.

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © Klinik Baca | Designed With By Blogger Templates
Scroll To Top