Apakah Engkau Seorang Marxis?
Oleh. Tjakra
“Pada akhirnya bukan persoalan kalah atau menang.
Namun pergulatan untuk menyempurnakan
martabat masyarakat ras manusia memang abadi…”
Rasa iseng untuk sekedar coret mencoret
ternyata tidak hanya merambahi toilet, gerbong kereta api, meja-kursi di kampus
atau dinding-dinding kota yang barusan dilabur putih namun kembali menjadi
kanvas grafiti oleh para remaja yang tak bisa tentram bila melihat dinding
putih bersih. Rasa iseng akan coret mencoret ini ternyata sudah menginjak pada
halaman pertama sebuah buku. Seorang kawan Indonesia yang baru pulang dari
study S 2 di Amerika Serikat, menghadiahi kawannya yang keranjingan akan
Marxisme dengan sebuah buku klasik berjudul Anti-Duhring, karangan
Frederick Engels. Pada lembaran pertama, di samping kiri potret si brewok
Engels, di bawah slogan khas bertinta merah Workers of all countries, unite!,
si kawan tersebut menuliskan rasa iseng dan sebagai pesan yang barangkali
penting untuk disampaikan. Begini bunyi pesannya:
“Sejoli Marx-Engels telah bertahun-tahun berakar di
urat-urat syaraf engkau yang selalu meremang menuntut pemberontakan. Keduanya
nongkrong di otak kiri-kanan engkau dan berlaku seolah menjadi pemilik sah atas
isi batok kepala engkau yang mulai beruban itu. Hai, comrade! Kapan
berani bikin merdeka otak engkau dari kolonisasi dua pendekar brewok ini? Atau
engkau sudah berniat menjadikan ‘moyangnya berhala’ sampai engkau sendiri
mampus! Selamat menjadi Marxis, comrade,
semoga mencapai surga proletariat di bumi ini sebelum engkau sendiri
ditumpas!”
Coret-coret pada halaman pertama sebuah
buku, dengan kalimat sepanjang itu, mungkin khas intelektual Indonesia yang
mencintai buku dengan cara demikian. Sudah menjadi risiko negara terbelakang,
perkenalan suatu pemikiran lebih banyak lewat buku ketimbang interaksi dengan
pemilik gagasan secara langsung. Mungkin saja seorang mahasiswa Indonesia sudah
mendengar bila di dunia ini terdapat buku berjudul Anti-Duhring jauh
hari ketika di masa-masa awal masuk kuliah. Namun hal ini bukan berarti ia
pernah memegang apalagi membaca buku filsafat tersebut. Alat-alat negara tak
akan membiarkan buku-buku yang mereka
anggap subversib berderet dengan tenang di perpustakaan universitas manapun di
Indonesia. Dosen-dosen yang merasa beriman dan terlanjur konservatif juga
merasa perlu untuk menyembunyikan dari khasanah sejarah pemikiran. Pemikiran
radikal terbukti selalu lebih berbahaya ketimbang kudeta para jenderal yang
otaknya terletak pada laras senapan. Dengan demikian, para intelektual domestik
Dunia Ketiga akan selalu mengalami keterlambatan akses yang luar biasa, baik
karena alasan-alasan politis maupun ekonomis. Bisa dibayangkan, bila benar buku
Frederick Engels yang berjudul lengkap Anti-Duhring: Herr Eugen Duhring’s Revolution
in Science yang usai ditulis sekitar tahun 1878 itu, baru diterima oleh
tangan pertama seorang intelektual Indonesia pada tahun 2001. Terlepas
Indonesia mengalami masa brengsek maha gelap sekitar 30-an tahun dalam
kungkungan rezim totaliter Suharto yang anti-Marxisme, namun fakta bahwa
seorang intelektual Indonesia baru membaca Anti-Duhring pada tahun 2001
merupakan suatu keterlambatan ilmiah yang cukup berbahaya. Betapa tidak, ia
dipastikan mendapatkan ilmu pengetahuan karatan (out of date), yakni
ketinggalan dialektika suatu diskursus ilmiah dalam rentang waktu tertentu.
Taruh kata, bilamana ia mengalami ketertinggalan selama dua abad, maka
semestinya ia melahap semua buku yang terbit setelahnya sampai mata rantai
ilmiah yang terakhir. Ketertinggalan ini tentu berisiko dan sangat mempengaruhi
landasan epistemologis seseorang. Sebab ilmu pengetahuan selalu menuntut
aktualitas cara pandang, di mana metodologi tafsir selazimnya selalu
bersesuaian dengan konteks ruang dan waktu. Perkembangan ilmu pengetahuan
memang berjalan sangat cepat dan seringkali tanpa mempertimbangkan daya jangkau
konsumennya. Tentu saja, para kritikus Frederick Engels berikutnya tidak akan
menunda terbitnya buku baru sebagai counter atas Anti-Duhring
hanya dengan alasan bahwa mahasiswa-mahasiswa di negara terbelakang belum
sempat membaca buku Anti-Duhring.
DUA
Apakah engkau seorang Marxis? Pertanyaan
ini boleh jadi kalimat tanya yang sering tak terjawab, selain pergulatan antara
upaya untuk terus ‘menjadi’ atau ‘gagal menjadi’. Satu pertanyaan yang sama
kualitas dengan: apakah engkau Muslim? Apakah engkau Kristen? Apakah engkau
Nasionalis, Demokrat, Budhis, Filantropis, Fasis dan sebagainya.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengandung dimensi iman yang dalam substansi
tidak membutuhkan jawaban dari bibir verbal. Ia tak sebatas label jargonal
karena menuntut konsekwensi ganda: iman dan praksis. Demikian pula, orang tidak
melihat kadar Marxis seseorang dari kartu anggota partai komunis atau
organisasi sosialis. Namun dari A sampai Z; isi kepala, iman di dada sampai ke
mana kaki melangkah dan berpaut. Dan lagi-lagi, serangkaian pikiran dan
tindakan tersebut akan terukur kadarnya menurut sejauh mana pikiran dan
tindakan manifes dalam kenyataan.
Benar, engkau seorang Marxis? Ini tentu satu
pertanyaan yang asing, bukan. Tapi apa yang pertama engkau lakukan bila
disodorkan pertanyaan semacam ini? Engkau pasti bereaksi, mungkin defensif
mungkin ofensif, mungkin juga membangun alibi. Namun bila dicecap-cecap
pertanyaan ini terasa mengandung ejek yang lumayan sengit. Ejek ini bertambah
pelik bila ternyata mengandung kebenaran bahwa engkau adalah seorang pemuda
Indonesia yang sefaham dengan Marxisme dan kebetulan lahir setelah 1965. Hampir
bisa dipastikan, engkau pasti mencapai kesadaran Marxis dalam usia di atas
20-an tahun, lewat suatu ‘perkelahian’ yang tidak lazim, bukan? Masa-masa
pra-pencerahan yang menyebalkan, ah …. bisa ditebak dengan gampang bila masa
pendidikan engkau mirip di kamp-kamp konsentrasi. Dari SD sampai SMA, engkau
mengalami proyek pembodohan massal yang ternyata gagal. Di bangku ‘sekolah
wajib’ engkau diwajibkan berseragam, diwajibkan berdiri dalam barisan upacara,
diwajibkan hormat bendera, diwajibkan duduk manis sambil mendengarkan monolog,
diwajibkan membiarkan otak dijejali doktrin dan hapalan, serta diwajibkan patuh
pada cita-rasa para guru. Walhasil dari parade kewajiban di ‘sekolah wajib’
tersebut, jangan heran bila otak terasa gatal-gatal karena serasa berisi jerami
dengan sulur-sulur songket yang menyebalkan. Lebih menyebalkan lagi, semua yang
diajarkan dari butir-butir ideologi sampai budi pekerti merupakan ajaran tanpa
suri tauladan. Itulah kenapa semua bahan pendidikan menjadikan kita terasing
dengan kenyataan. Itulah kenapa semua bahan pendidikan hanya menjadi timbunan
sampah jerami dalam otak kita. Lebih jauh lagi, serangkaian kegiatan pendidikan
itu justru menghinakan akal sehat kita sebagai manusia. Sampai suatu ketika di
bangku pendidikan lebih lanjut, universitas hanyalah terminal berikutnya dengan
2 jurusan: pencerahan atau kegelapan. Bila engkau memilih dark-age, ini merupakan cara
paling murah dan aman karena hanya meneruskan pola pendidikan sebelumnya. Masa
depan juga sudah terpampang karena hanya menapaki anak-anak tangga yang
disediakan. Semua hanya membutuhkan ketaatan dan loyalitas yang sintetis. Untuk
menjadi sebiji sekrup memang bukan perkara rumit.
Namun apabila menghendaki ‘pencerahan’
maka engkau disyaratkan menambah jam-jam pergulatan paling panjang, paling
menegangkan dan celakanya semua itu terdapat di luar bangku kuliah. Sebab dosen
dan perpustakaan hanya menyediakan kemalasan dan ketertiban. Apabila engkau
mendambakan kebebasan berpikir di perguruan tinggi Indonesia, wah, niscaya
hanya akan merasakan sakit hati. Dalam hal ini barangkali Anda sepakat dengan
pernyataan saya, bahwa sebagian besar Indonesia masih wilayah pernaungan yang
rindang bagi kaum pertapa, mistikus, hamba klenik dan juga hamba sistem tua
yang lapuk dan karatan. Selebihnya adalah pabrik biji sekrup yang diproduksi
secara massal. Mencari kebenaran dengan instrumen akal budi dan hati nurani
masih menjadi barang langka.
Maka dari itu, pencerahan di masa-masa
kuliah adalah dengan mangkir kuliah. Engkau harus membangun perserikatan
sendiri, sebuah “perkumpulan tanpa bangku sekolah” sebagai tempat berserikatnya
bekas para pasien di kamp-kamp konsentrasi pendidikan Indonesia. Namun
celakanya, berserikat semata tidak cukup karena buku-buku bagus merupakan
barang langka. Repotnya lagi buku-buku bagus hanya bisa didapat dari pasar loakan
yang hanya bisa diakses dengan jaringan kepercayaan. “Buku-buku bagus” identik
dengan segmen konsumen yang juga khusus, jadi akan selalu datang “para konsumen
khusus” yang jauh hari sudah pesan untuk dicarikan “buku-buku khusus”. Dengan
cara demikian engkau baru bisa belajar untuk mengibarkan bendera akal budi
tinggi-tinggi. Sebab menunggu oleh-oleh kawan sepulang dari sekolah di Amerika
tentu memakan waktu yang lama. Apalagi harus membayar ongkos perasaan dengan
membaca pesan penuh sarkastis.
Jadi engkau hendak mengatakan bahwa
engkau dipertemukan dengan Marx-Engels oleh pedagang pasar buku loakan, pada
suatu petang di tengah hujan sangat deras, di saat mata-mata Orde Baru pulang
kantor dan asyik berteduh di rumahnya yang bagus? Tepat sekali! Pertemuan yang
sungguh menegangkan. Aku sangat gugup karena hampir tak percaya bakal bertemu
dengan mereka. Sewaktu kami berjabatan tangan, woow, sebongkah tangan kasar
yang menjabat sangat erat. Lebih tepatnya mencengkeram secara kaku dan dingin.
Kedua bola matanya penuh selidik, mengintai dengan wajah tegang di balik
rimbunan brewoknya yang memutih. Keduanya segera mengendus-endus seluruh
materialisme atas jasadku, menyapu dari atas sampai bawah; rambut pemuda yang
kusut-masai, air muka, pancaran mata, bau tubuh, ketebalan lemak dalam lapisan
daging, jaket kusam, jeans tanpa setrika, dan semua centang-perenang yang
menempel di permukaan dagingku. Keduanya sama-sama menyelidik dan tampak dengan
cara yang sangat tergesa-gesa. Keduanya saling melirik dan memberi kode rahasia
yang gagal aku pahami. Ah, barangkali memang demikian perilaku orang-orang
revolusioner. Kerut wajah tua tanpa ketenangan, tatapan mata nyalang,
ketegangan di balik jambang lebatnya, Oo, sungguh penampilan wakil dari
orang-orang yang belum punya surga. Seraut wajah resah yang jauh benar dengan
tampang Rabindranat Tagore atau imam masjid di kampungku yang merasa surga
sudah ada di kantongnya. Namun semua perbedaan itu harus dimaklumi.
Usai transaksi, tanpa banyak cakap
keduanya segera aku masukkan ke dalam tas kulit dan kabur dari pasar loakan.
Itu cara pertemuan yang paling pantas dan independen terjadi di Jogjakarta pada
awal tahun 1990-an. Tak ada tempat pertemuan lain. Kalaupun benar, pertemuan
itu pun sangat terlambat. Mendalami Marxisme dari dua bapaknya (Marx-Engels)
secara langsung merupakan suatu kemewahan ilmiah tiada tara. Mahasiswa radikal
di Indonesia tentu sudah jemu dengan diktat-diktat tentang Marxisme yang
dihasilkan oleh para pemikir liberal atau intelektual konservatif. Mereka
menulis dengan selera kelasnya dan banyak melakukan distorsi karena harus
sesuai dengan perspektif ideologi
negara. Bacaan jenis tersebut sering menjadi sampah yang menyesatkan. Adapun
membaca Marxisme secara sistematis jelas membutuhkan waktu dan energi tersendiri.
Namun yang terpenting adalah terjadi dialog vis a vis: aku dan dia
bermuka-muka sebagai manusia dengan pencernaan otak di kepala
masing-masing. Ini cara membaca yang
independen, terang dan objektif karena tidak lewat ‘makelar ilmiah’ seperti
seorang intelektual liberal atau petugas doktriner partai komunis. Para makelar
selalu mengutip ‘upeti barang’ sekian persen sebagai jasa yang harus dibayar.
Maka dari itu, untuk perkara maha penting kita harus berlaku independen.
Walaupun tentu dengan risiko pemahaman yang belang-bonteng karena sekenanya
buku yang ada.
Seiring terbitnya kesadaran baru, pertaruhan
praksis tentu menuntut pelibatan waktu tanpa batas. Sementara dinamika
masyarakat terus bergerak maju, terkadang damai, terkadang bergolak,
bersitegang, bakar-bakaran, pukul-pukulan, rujuk kembali, dan berkelahi lagi
tanpa memandang apa kita sudah membaca Manifesto Komunis. Namun waktu
yang ada selalu tidak pernah cukup untuk menyiapkan pergolakan-pergolakan yang
terukur dalam prediksi ilmiah karena realitas selalu datang dan pergi secara
tak terduga.
Apalagi dalam pergolakan 1998.
Mahasiswa-mahasiswa kiri Indonesia mengalami kelemahan fundamental, baik
ideologis maupun praksis, ketika menumbangkan rezim Suharto. Sebagai salah satu
pilar kekuatan massa, mahasiswa kiri telah gagal menyiapkan kepemimpinan
demokratik dari kelompok masyarakat yang biasa disebut sebagai kelas-kelas
tertindas. Sebab mereka adalah lokomotif zonder gerbong, gagasan tanpa
barisan pengikut massa rakyat yang terorganisir dengan baik. Apa daya yang bisa
dijangkau dari persiapan yang sangat terbatas; kaum radikal minoritas dengan
centang-perenang pemahaman ideologis, infantilisme, snobisme, faksionalisme,
jargonalisme, nihilisme dan ketika iman teoritik juga belum bertemu dengan
massa kelas-kelas tertindas yang sesungguhnya. Kesadaran itu sungguh masih
teramat dini dan mentah. Sekali lagi, Indonesia 1998 gagal disusun dalam
tatanan demokratik sebagaimana yang banyak digagas para pemuda radikal yang
sama sekali tak berakar itu. Kebanyakan pemuda radikal memang terlalu banyak
berdebat tentang gagasan, sehingga selalu terlambat untuk menyiapkan
aktor-aktor perubahan yang konkrit. Maka tak heran bila semua yang
diperjuangkan oleh rakyat dan mahasiswa dipetik buahnya oleh elite-elite yang
kemudian berkuasa. Mereka, kaum konservatif dan kubu reformasi, seperti yang
lazim terjadi di banyak negara; pada akhirnya melakukan kolaborasi politis yang
hanya memberi makna betapa demokrasi rakyat menjadi satu perkara yang ilusif.
Elite-elite datang dan pergi bagai badut-badut yang menyebalkan, dengan
dikitari bandit dan bajingan tengik yang rebutan harta dan kuasa. Merekalah
yang sering merampas distribusi keadilan sosial dan meningalkan kursi kekuasaan
dalam kondisi bangkrut; tumpukan hutang yang harus ditanggung rakyat, sementara
pundi-pundi mereka telah terisi penuh dengan hasil rampasan. Namun tak mengapa.
Inilah kenyataan yang harus dibikin perhitungan di hari depan. Tahun 1998 sudah
lewat dan pergolakan di dalamnya menjadi “sekolah pergerakan” yang paling
berharga bagi pengalaman kaum muda pergerakan zaman sekarang. Tentu saja bagi
mereka yang mau belajar untuk membangun gerakan rakyat lebih lanjut. Setidaknya
banyak pemuda radikal Indonesia menjadi paham bahwa reformasi memang proses
jahit-menjahit secara tambal-sulam di atas kain lama yang usang. Semua kain
usang pasti rombengan. Artinya, nasib rakyat negeri ini disulam di atas kain
usang yang rombengan. Maka jangan heran bila kondisi negeri kaya-raya namun
miskin-papa ini demikian bangkrut dan menyedihkan. Berpusar-pusar dalam
lingkaran setan.
TIGA
Dan apa sudah engkau fikir dengan matang untuk
menjadi Marxis, berikut risiko-risiko hidup yang pasti bakal ribut? Bila benar
lantas mau apa! Menghadapi pertanyaan semacam ini engkau memang boleh bersikap
defensif namun tidak bisa berbohong. Menjadi Marxis Indonesia di zaman sekarang
akan sangat kentara karena memang bukan manusia lazim. Dan kesadaran Marxis
yang manifes masih sulit dipercaya bagi kalangan awam Indonesia yang konon
sangat normatif dan pernah punya luka sejarah dengan semua yang berlambang
palu-arit. Maka jangan kaget bila suatu hari engkau disatroni segerombolan
orang berpedang dan mencoba menimang-nimang engkau punya nyawa. Engkau mungkin
menganggap ini lelucon, namun pedang dan atribut mereka merupakan satu bahasa
keyakinan sebagaimana engkau punya keyakinan. Jadi benar engkau Marxis? Bila
pertanyaan ini disodorkan pada engkau di awal Milenium Kedua ini, maka juga ada
dua latar sejarah yang sama-sama sulit untuk dipercaya.
Pertama, pada aras internasional; Perang
Dingin telah lewat, patung Lenin sudah ditumbangkan di negeri bekas moyangnya
komunis terbesar, pertahanan Cina sudah bobol dengan mencanangkan liberalisasi
dan mendaftarkan diri dalam jaringan WTO, serta rakyat Kuba tak lagi kenyang
dengan pidato Fidel Castro yang berapi-api itu, Vietnam juga bukan negeri
jaminan sejahtera. Bukankah ini semua kebenaran nyata betapa pilar-pilar yang
menopang gagasan Marxisme telah luluh-lantak semenjak partai-partai komunis
rontok dan kehilangan popularitas? Bukankah semua itu tinggal kertas buram
sejarah yang telah usang dan bangkrutnya sebuah impian yang seharusnya
ditinggalkan? Ah, jangan sok romantis, comrade. Semua dalil Marxisme
terbantahkan dengan tatanan dunia sekarang. Dan jangan engkau mencari hiburan
gratis dengan tumbangnya menara kembar WTC di Amerika, 11 September.
Pilar-pilar kapitalisme masih berdiri kokoh. Bahkan semakin teruji dan akan
tambah mentereng dengan sistem pertahanan baru. Dan bila benar penghancuran
menara kembar WTC itu pekerjaan kader-kader militan Osama Bin Laden, toh, ia
bukan Marxis. Ia hanya seorang borjuis yang kebetulan bersurban dan suka
memelihara jenggot—yang tentu saja berada dalam satu kelas dengan barisan
borjuis-borjuis Amerika yang sangat dibencinya itu. Nafas perlawanan borjuis
Arab itu tak akan panjang. Sebab perlawanan sesama borjuis — boleh dibilang —
bila kedapatan 1 borjuis yang nakal pasti akan dikeroyok ribuan borjuis yang
normatif. Payung milik 1 borjuis nakal pasti diserang dan dirontokkan ramai-ramai.
Dunia dipaksa membelakanginya. Dan semua terbukti sudah, ia dirontokkan. Lantas
apa yang hendak dirayakan oleh engkau dan segenap kaum Marxis? Di mana barisan
buruh-buruh kalian yang ratusan juta jumlahnya itu? Di mana pertarungan kelas
dan gelora revolusi proletar yang engkau pegang teguh sebagai godam sejarah
itu? Nonsense, bukan!
83 tahun yang lewat, Lenin dan
kawan-kawan Bolsheviknya boleh merayakan kemenangan ketika 61 hari telah
berlalu, sebagai tanda mereka berhasil memegang kekuasaan lebih lama ketimbang
Komune Paris. Tapi apa hendak kalian rayakan pada hari ini, ketika tak sebiji
kekuasaan pun ada di tangan? Sekali lagi, nonsense, bukan!
Kedua, di tengah kondisi kapitalisme
internasional yang kukuh kembali engkau memutuskan menjadi seorang Marxis di
Indonesia? Ketemu berapa perkara kegilaan engkau? Jangan bikin masalah! Ingat,
kalender menunjukkan tahun 2002, bukan tahun 1917, 1929 atau 1960 yang konon
dipenuhi pesona revolusi itu. Dari 1965 sampai 1998 Indonesia telah diblok
dengan warna hitam. Memori seluruh negeri telah dipatri dengan satu warna untuk
semua yang berbau komunisme: kebencian! Genangan warna hitam itu masih
mengental dan tetap terpelihara dengan baik, dirawat oleh negara dan
didaur-ulang oleh masyarakat. Terdapat berlapis-lapis jaring pertahanan sosial
untuk resisten terhadap gerakan kalian. Termasuk dalam keluarga kalian,
bapa-ibu, adik-kakak, kakek-nenek serta orang-orang yang kalian cintai. Atau
juga perempuan-perempuan pacar kalian yang jumlahnya lebih dari satu itu.
Keluarganya tak akan mengizinkan anak perempuannya dipersunting oleh kalian,
ekstremis-ektremis radikal tanpa masa depan. Bisa saja kalian pacaran
diam-diam, namun lambat laun pasti ketahuan. Kalian segera dilaporkan ke
hadapan aparat keamanan kemudian disapu lewat adegan penculikan penuh suspense
sebelum jasad kalian digelontor ke sungai atau rawa-rawa. Seperti pengalaman
yang sudah lewat, LSM-LSM pembela HAM di negeri ini hanya bisa berteriak namun
tak punya sistem untuk mencari jejak kalian atau menyeret si biang penculik ke
pengadilan HAM. Pendeknya, engkau ditumpas! Karena engkau Marxis maka engkau
berhak ditumpas! Ini dalil yang nyata. Sebab di manapun penentang sistem dari
luar sistem, yakni seseorang yang dengan sadar berbicara, berserikat dan
berbuat secara aktif untuk membongkar sistem, pastilah ditumpas. Negara dan
pemilik otoritas memiliki banyak dalil yuridis, politis atau sosial untuk
sekedar congkel engkau punya nyawa.
Dan tak ada ruang bagi kalian selain di
labirin-labirin malam, di kolong-kolong jembatan, laten di bawah tanah, bersama
tikus, kecoa, semut hitam dan orong-orong. Aha! Merayaplah sampai mampus.
Sembari mengendap-endap engkau menciptakan sel demi sel di setiap kubangan
kemiskinan; di desa-desa yang mana masih menyisakan tuan-tuan tanah dengan
buruh-buruh-tani miskin, di kota-kota tempat anak-anak para petani kapok pada
kemiskinan dan merayap ke dalam gerbong-gerbong proletariat menjual keringat
dengan harga paling murah di seluruh Asia. Gerombolan kere dengan corak
produksi Asiatik, ke mana-mana mereka mengusung nasib namun hanya memindahkan
lokasi nasib yang sama saja; bodoh, miskin dan terhina. Bagi mereka hidup di
dunia hanya untuk disekap di kamar kemelaratan sementara pembangunan nasib
menjadi teka-teki yang maha ruwet dan bikin sakit kepala. Pada mereka,
saudara-saudara manusia yang terhina itulah, hidup kalian habiskan dengan
kesadaran yang menulang-sungsum; tak peduli siang atau malam, ramai atau sepi,
tanpa libur dan selalu siap sedia 24 jam! Kalian berserah diri untuk agenda
pembebasan umat manusia. Kejayaan sosialisme pasti datang sebagai hukum
sejarah! Bukankah demikian dalil kebenaran sejarah yang kalian pegang, di mana
tak ada sebiji orang atau lembaga pun mampu menumpas kalian hingga akar yang
penghabisan. Semakin garang kalian ditebas semakin mengakar dan
berlipat-gandalah militansi kalian. Sebagaimana kaum status quo dan reaksioner
juga gagal dan pasti gagal 100% memerangi kemiskinan. Sebab kapitalisme yang
mereka bangun dari puing-puing kehancuran feodalisme dua abad lampau, dan
mereka hidupkan dengan segenap daya kekuasaan kelas, ternyata tak beda dari
sistem monistik untuk beternak kemiskinan. Dan sekarang, borjuis-borjuis kecil
yang dulu turut dalam penumbangan feodalisme secara revolusioner itu, kini
secara kualitas telah menjelma sebagai kelas paling konservatif dengan mendekap
erat sistem dan akumulasi harta pribadi di bawah lindungan kapitalisme.
Kalau boleh bertanya lagi, dari jenis
bahan iman macam apa yang memantapkan diri engkau menjadi Marxis, comrade?
Segala perkara yang menyangkut ketegangan
hidup memang menarik dan patut untuk dikaji. Dan ketegangan model begini, yang
mengandung maksud pencarian jati diri dengan mempertaruhkan segenap otentisitas
manusiawi, merupakan proses belajar menjadi manusia seutuhnya. Untuk satu
persoalan yang sangat penting ini, mari kita usut lebih lanjut.
EMPAT
Pada suatu paruh malam yang naif datang
seorang mahasiswa filsafat yang mengabarkan bahwa ia barusan menemukan cermin
idola yang coba dipatut-patutkan dan rupanya sesuai benar dengan selera pikiran
dan hatinya. Ia seorang pengembara intelektual yang gemar mencari kebenaran di
balik teks buku-buku. Dan barusan ia mengaku telah menamatkan semua buku
Marx-Engels. Semester-semester lalu ia getol melahap pemikiran Nietszche,
Camus, Sartre, Adorno, Althusser dan Raymond Williams, Walter Benjamin. Namun
semua tidak memuaskan hatinya. Sebagai pengimbang tradisi kesalehan, karena ia
muslim yang lahir dalam keluarga Islam puritan, ia merasa sangat perlu membaca
Ali Syariati, Haji Misbach dan Roger Garaudy. Pada ketiga tokoh ini ia mencari
do’a restu Islamisme untuk menganut Marxisme. Dan ia berhasil menemukannya.
Bahkan menurut nasehat Haji Misbach, seorang muslim sejati sudah semestinya
seorang komunis. Bilamana ia tidak komunis, maka kadar kemuslimannya hanya lamisan
alias lip service. Singkat kata, muslim-komunis adalah dua kaki kokoh
yang menopang berdirinya manusia sejati (khalifah Tuhan di muka bumi). Betapa
girang ia menemukan dalil tersebut. Teka-teki telah terjawab dan selesailah
pengembaraan panjangnya. Semua berakhir ke haribaan Marx-Engels. Dengan
terang-terangan ia membikin testimoni ilmiah yang berujung pada kesimpulan,
“Bahwa Aku seorang Marxis dan ingin mati sebagai Marxis.”
Lebih dari itu, ia juga menyertakan
embel-embel peristiwa di pedalaman hatinya. Ia mengaku telah menguji suara
hatinya dengan melakukan perbandingan untuk memilih mana yang memiliki daya
pikat antara membaca buku Karl Marx Economic And Philosophic Manuscripts of
1844 di akhir pekan atau mendatangi indekos pacarnya yang cantik karena
tatanan rias itu. Dan ia telah memilih jawaban No. 1. Terbukti sudah betapa
Marx-Engels lebih mempesona ketimbang pacar perempuannya. Ini proses pergulatan
batin yang luar biasa, akunya. Pergulatan yang melibatkan unsur-unsur lahir-batin,
kognisi-emosi, hipotesis-investigasi sebelum mencapai kesimpulan filosofis yang
paling mantap.
“Dan sekarang menjadi terang semuanya,
tak ada keraguan lagi bahwa saya memilih menjadi Marxis ketimbang sosok
romantis namun nihilis, sebagaimana saya juga menampik untuk menjadi moralis
tanpa ideologi,” demikian penjelasan si kawan mahasiswa filsafat secara panjang
lebar. Susunan kalimatnya runtut dan pasti, didukung sorot mata yang tajam dan
asli. Semua binar-binar itu menandakan betapa kelenjar darahnya tengah
bergolak-golak karena dihangati oleh keyakinan hebat yang melanda sekujur
jiwa-raga manusiawinya.
Sebagai suatu pergulatan personal, proses
pencarian seorang kawan mahasiswa filsafat tersebut cukup fenomenal dan khas
Indonesia. Proses yang lazim terjadi di suatu negara dengan in absentia
partai komunis atau partai sosialis dan ajaran Marxisme-Leninisme masih
dipenjara dalam pasal larangan (dan ayunan pedang). Walaupun di Indonesia
terdapat beberapa kelompok kiri, namun belum bisa dikatakan established
memuat program-program Marxistis secara terbuka. Sehingga lumrah bila pencarian
ideologi bersifat personal dan hanya merambahi aspek-aspek teoritik,
kontemplatif dan lebih pergulatan teks di dalam kamar ketimbang praksis di
medan politik yang konkrit. Namun mari terus kita buntuti sebagai proses
dialektis antara teori dan praktek yang belum rampung membentuk diri.
Suatu keterpesonaan, betapapun subjektif,
namun satu perkara otentisitas eksistensial manusia yang harus tetap kita
hargai. Sebagai proses ‘menjadi’ yang melibatkan ketegangan antara posisi,
kontra-posisi, kontemplasi dan melahirkan posisi yang baru. Barang siapa yang
sungguh-sungguh ‘mencari’ untuk ‘menjadi’ tentulah jenis manusia-manusia hidup
yang sadar, molek, dan orisinal-sejati. Penghormatan harus kita berikan karena
mereka bukan dari sejenis kaum snobis atau pesolek kardusan, yang tampak bagus
di tampang namun gerowong di dalam.
Dalam konteks yang berbeda, menarik untuk
mengkaji apa yang dialami dalam pergulatan religius Iwan Simatupang, seorang
penganut nouveau roman Indonesia yang eksis di tahun 1960-an. Ia mengaku
masuk agama Katholik karena kesimpulan-kesimpulan estetis dan filosofis. Dalam
suatu pengembaraannya di Eropa, di tengah krisis iman, ia mengalami perubahan
spiritual ketika menyaksikan patung Yesus: ia katakan, bersama patung itu,
“daging berdarah dipakukan ke tiang-tiang tua, kepala-Nya dimahkotai onak duri,
dan apakah Dia seorang dorspyek yang disergap godsdien-stwaansin
atau memang seorang saint, keberaniannya menghadap itu semua membuka
mataku ….” 1 Demikian pengakuan Iwan
Simatupang. Menjadi Katholik dengan cara seperti Iwan, sungguh benar suatu
proses tegang otentisitas eksistensial yang tak ada duanya. Patung Yesus,
daging berdarah, mahkota onak duri, kesimpulan estetis dan filosofis kemudian
menjadikannya Katholik. Bukankah ini suatu loncatan spiritual yang drastis.
Padahal semula ia mengaku sebagai anak muslim yang patuh dan pintar mengaji,
namun siapa sangka bila tiba-tiba ia terpikat dengan pesona problematik manusia-Nya
agama Katholik dan beralih agama Katholik. Siapa bisa menebak misteri di balik
organisasi darah-daging manusia; pusaran isi dadanya, subur-kering imannya,
lalu-lintas pikiran di otaknya, cerah-gelapnya, serta deburan emosi dari rasa
perih-nyeri dan bungah-girangnya? Tinjauan terhadap filsafat manusia selalu
bergulat dengan pertarungan eksistensial secara abadi. Adapun validitas ilmiah
senantiasa bertukar tangkap dengan lepas antara absolut dan relatif. Kebenaran
absolut yang dicapai pekan lalu bisa direlatifkan oleh temuan ilmiah pada tahun
mendatang. Demikian susul-menyusul. Sebab siapa yang mampu menelorkan rumus
eksakta untuk dapat melihat kandungan misteri manusia tersebut? Bukankah
manusia sendiri konon tidak akan pernah tamat dalam membaca diri mereka
sendiri.
Proses menjadi Marxis-nya kawan mahasiswa
filsafat tentu berbeda dengan menjadi Marxis-nya Che Guevara atau Tan Malaka,
demikian juga menjadi Katholik-nya Iwan Simatupang berbeda dengan menjadi
Katholik-nya Paus Paulus Yohanes. Setiap manusia pasti mengandung otentisitas
eksistensial. Masing-masing memiliki momen-momen eksistensial, proses mencari
paling total dan ekstensif sehingga mencapai kesimpulan filosofis tersendiri,
menemukan puncak kesadaran personal atas suatu identitas jati diri. Dan proses
penemuan ini pasti akan berdialektika dengan ketegangan-ketegangan baru dari
berbagai jurusan, yang memaksa seseorang petarung untuk stand by on fighting
sampai batas kesanggupan paling ujung, yakni kematian.
Lantas apa yang harus dilakukan bila engkau telah
menemukan diri dalam keyakinan ideologi Marxis? Yang utama engkau tidak bisa
lagi berbohong. Keyakinan yang jujur selalu menuntut manifestasi tindakan. Dan
kandungan kesadaran seseorang tentu sangat berperan dalam menentukan
pilihan-pilihan tindakan. Apakah ia berasyik-masyuk dengan buku-buku dan jalan
pikirannya sendiri di kamar yang mewah? Apakah ia memutuskan bergabung dengan
salah satu organisasi kiri yang banyak ragam alirannya itu? Atau menjalani
hidup selazimnya aktivis pergerakan revolusioner yang tak jemu-jemu menjadi
pembaharu; membangun sendi-sendi perserikatan baru dan melakukan otokritik
terhadap teori dan praktek masa lalu-masa kini yang centang-perenang itu dan
melahirkan energi baru yang musti segera disampaikan kepada konstituen
Marxisme: bubu-bubu sejarah kelam kaum proletar yang merana itu. Tindakan
konkrit atas keyakinanlah yang bakal menguji apa yang secara gampang kita bagi
dua: Marxis tulen atau Marxis salon.
Marxisme sebagai ideologi tentu belum karatan dengan
spirit pembebasan kelasnya. Stamina spirit Marxisme masih terjaga karena ia
menyusun teori yang monistik dan menjadi kacamata pandang paling terang untuk
melihat kontradiksi yang dikandung dalam sejarah tatanan masyarakat dunia. Ia
tangguh sebagai konsepsi karena mampu memberikan susun-bangun argumentasi
dengan landasan filsafat, penerangan ekonomi-politik, sosial, moralitas
universal yang berdasar kenyataan dan sekaligus memberi arah dalam panduan
praksis menuju perombakan ketimpangan struktural (kapitalisme) dengan jalan
revolusi kelas proletar. Bersama Marxisme, kaum yang lapar dan terhina secara
historis itu, tidak lagi diajak membina lamunan kosong untuk menjadi si raja
kenyang dengan dikitari dewi-dewi cantik di surga, atau berkhayal andai bisa
berunding dengan Tuhan untuk membicarakan nasib kemelaratan segenap
proletariat. Kemelaratan tidak bisa lagi ditenangkan dengan lamunan absurd.
Marxisme menyeru bahwa perubahan nasib suatu kaum terletak hanya di tangan kaum
itu sendiri. Tuhan tidak bakal mengirimkan bala tentara malaikatnya ke muka
bumi untuk mendirikan pabrik roti bagi si lapar-melarat atau mempreteli
pilar-pilar kapitalisme. Dengan demikian Marxisme membangun spirit penyelamatan
sosial bagi umat manusia, di dunia sini, di bumi manusia! Inilah inspirasi
paling menggetarkan, suara nurani kemelaratan yang paling terang; kekuatan yang
memaksa perombakan pilar-pilar gereja di Eropa, yang menjadi momok paling
menakutkan bagi ruling class yang loba sebagai penimbun harta dan selalu
membikin syaraf kelas buruh terus meremang.
Bilamana engkau telah memutuskan menjadi
Marxis, jadilah Marxis yang jujur. Adalah benar adanya bila kapitalisme akan
selalu berada di bibir jurang krisis karena bertarung dengan sistemnya sendiri
yang mengembang-biakkan kemiskinan secara struktural. Demikian juga agama, ia
mengalami krisis dengan pendangkalan makna serta peran karena gagal
mengantisipasi perkembangan zaman. Namun selaku Marxis jangan engkau abai bahwa
Marxisme pun tengah mengalami degenerasi yang hebat karena kerapuhan-kerapuhan
internal. Marxisme juga berperang dengan dirinya sendiri, karena tengah berada
di bibir jurang krisis ideologi dan praksis. Maka dari itu, selaku Marxis
engkau harus mengetahui kelemahan-kelemahan mendasar atas Marxisme, baik pada
tataran filsafat, ideologi maupun praktek perjuangan kaum Marxis sendiri. Pemahaman tanpa kritisisme, bah!
sama saja dengan tukang kunyah dogma. Segala macam dogma tanpa kontekstualisasi
adalah timbunan sampah belaka. Bukankah Marxisme tidak meletakkan dirinya
sebagai agama atau paket dogma dan bukan pula jawaban monistik terhadap problem
humanisme kontemporer yang maha kompleks ini. Maka bisa dipastikan bila
Marxisme mengandung paradoks dan banyak kelemahan karena karatan dan keropos
oleh waktu.
Kelemahan Marxisme paling terang adalah
gagasan Marxisme dari dulu sampai sekarang masih dalam proses janji dan dugaan.
Ia belum juga menang dalam pergulatan atas perombakan tatanan masyarakat dunia.
Bukankah realitas ini satu kebenaran paling aktual dan terang benderang, betapa
di banyak tempat para penganut Marxisme didera kekalahan dan mengalami
kebangkrutan? Bilamana Marxisme hanya berhenti sebagai gagasan, apakah ia lahir
hanya untuk salon pikiran? Segenap kaum Marxis tentu terusik, marah dan tak
akan menerima karena Karl Marx sendiri terang-terang menyatakan bahwa yang
terpenting dari gagasan adalah bukan hanya menambah khazanah penafsiran atas
dunia, namun untuk merombak tatanan masyarakat dunia itu sendiri. Inilah salah
satu wasiat berharga dari Marx. Namun walau kalah di mana-mana, Marxisme
sebagai ideologi belum gagal karena dialektika terus berlangsung dan sejarah
umat manusia belum berakhir.
Sampai kurun waktu sekarang, kaum Marxis
dihadapkan pada tumpukan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, baik teori
maupun praktek. Abad 19 di mana Marx-Engels hidup tentu berbeda dengan abad 20
di mana Lenin hidup, dan abad 20 juga berbeda dengan abad 21, di mana kita
hidup. Sebagaimana Marxisme menganut kebenaran dialektis, bahwa realitas
masyarakat tidak pernah mandek namun terus bergerak maju. Patah-tumbuh hilang
berganti, susul menyusul tiada henti. Beberapa paradoks Marxisme bisa
direntangkan sebagai berikut.
Satu dalil yang diyakini semua Marxis di
dunia adalah kebenaran teori tentang adanya pertentangan kelas dan perjuangan
kelas. Dalam pembukaan Manifesto Komunis yang termashur itu, Karl Marx
menulis: “Sejarah dari semua masyarakat yang ada hingga sekarang adalah sejarah
perjuangan kelas. Orang merdeka dan budak, patrisir dan plebejer, tuan
bangsawan dan hamba, tukang ahli dan tukang pembantu, pendeknya: penindas dan
yang ditindas, kadang dengan sembunyi, kadang dengan terang-terangan, suatu
perjuangan yang setiap kali berakhir dengan penyusunan kembali masyarakat
umumnya atau dengan sama-sama binasanya kelas-kelas yang bermusuhan…..
Masyarakat borjuis modern yang timbul dari runtuhan masyarakat feodal tidak
menghilangkan pertentangan kelas. Ia hanya menciptakan kelas-kelas baru,
syarat-syarat penindasan baru, bentuk-bentuk perjuangan baru sebagai ganti yang
lampau.”
Proposisi di atas tentu mengandung
kebenaran ilmiah. Namun kebenaran harus selalu diverifikasi dalam kenyataan,
apakah benar sejarah hanya berisi pertentangan kelas dan hanya bisa
diselesaikan dengan perjuangan kelas? Apakah dalil ini berlaku sebagai
kebenaran tunggal? Bagaimana dengan adanya kenyataan dalam masyarakat yang
melangsungkan perjuangannya dengan kerja sama antar kelas, antar bangsa, antar
agama? Apakah kenyataan ini bisa dengan gampang dinyatakan bahwa kolaborator
kelas adalah pengkhianat atas Marxisme ortodok, atau dengan tuduhan khas lain,
mereka kontra-revolusi, mereka mengalami kesadaran semu dan harus di-re-edukasi
agar menemukan kesadaran sejati? Apakah harus diperlakukan secara demikian?
Kenyataan hidup memang rumit dan
berseluk-beluk. Selain kelas ekonomi, masyarakat ternyata terpisah-pisah dalam
berbagai bangsa-bangsa, ras, etnik, agama bahkan keluarga (clan). Dalam
suatu kesempatan, konflik seringkali berlangsung bukan semata-mata peperangan
kelas ekonomi. Di Amerika Serikat, pernah suatu ketika buruh kulit putih
berkelahi dengan buruh berkulit hitam. Antar warna kulit mereka saling membenci
walaupun sama-sama menjadi buruh. Api kemarahan sangat gampang dikobarkan hanya
oleh perbedaan warna kulit. Di Irlandia Utara, buruh Protestan dan buruh Katholik
juga pernah terlibat konflik dalam suatu pemogokan di pelabuhan Belfast. Dan
yang lebih mengherankan, pada tahun 1912 dalam suatu pertemuan kaum Marxis
Eropa Barat di Basle, mereka mengeluarkan resolusi bahwa sekiranya pecah Perang
Dunia maka kaum buruh sedunia akan melakukan mogok total, di mana buruh Jerman
akan berjabat tangan dengan buruh Perancis, demikian juga buruh Inggris akan
berjalin tangan dengan buruh negara Eropa lainnya. Di benak pemahaman kaum
Marxis tentu hapal sekali dengan pernyataan Karl Marx, bahwa kaum buruh tak
punya tanah air. Mereka disatukan oleh penindasan dan akan bersatu untuk
melawan penindasannya. Dalam momentum revolusi sosial, kaum buruh sering
dikatakan bahwa mereka tidak akan kehilangan apapun kecuali rantai penderitaannya.
Namun apa yang terjadi ketika Perang Dunia I pecah? Kelas buruh menjadi kaum
yang paling massif dimobilisasi oleh elite-elite negara di front paling depan
dalam suatu perang antar bangsa. Dan negara-negara yang berperang itu adalah
negara-negara kapitalis paling maju dan tentu saja penghimpun kelas buruh
paling banyak. Maka tak ayal lagi, bisa dikatakan bahwa pasukan (kelas buruh)
Perancis berperang dengan pasukan (kelas buruh) Jerman yang fasih meneriakkan Hoch
der Kaiser dan lebih hapal Mein Kampf dan Horst Wessel Lied
ketimbang Manifesto Komunis. Sementara kelas buruh di Inggris juga
melakukan hal yang sama, berperang dengan satu heroisme untuk kejayaan
nasionalisme Inggris Raya. Bagaimana pendapat kaum Marxis dengan perkembangan
yang ternyata di luar perhitungan mereka?
Dalam banyak kenyataan, mengapa kelas
buruh tidak berkonflik dengan kelas borjuis, padahal kepentingan mereka
jelas-jelas sangat mendasar? Mengapa kelas proletar tenggelam oleh deru-debu
nasionalisme atau agama atau ras ketimbang kontradiksi kelas dan melakukan
pertarungan kelas? Mengapa slogan paling mentereng “Workers of all
countries, unite!” seperti mendesing di langit luas yang kosong? Realitas
ini tentu harus dibaca secara akurat, adakah yang salah dengan teori perjuangan
kelas Marxisme? Di sini teori bertemu dengan pengujian kenyataan. Sebab
buruh-buruh di negara-negara kapitalis Eropa, sebagai contoh, meleset dari apa
yang diprediksikan Karl Marx. Bagaimana penderitaan sosial akan bertemu dengan
kekuatan sosial yang akan membawa pada revolusi proletariat. Karena pada
pencapaiannya sekarang, buruh-buruh di negara maju Eropa memang mampu menyusun
dalam kekuatan politik, namun ia berhasil ditenangkan oleh buah manis
reformasi; dan bukan revolusi kelas ternyata. Bila kenyataan terpapar demikian,
apakah teori perjuangan kelas kurang mengakar dalam kesadaran kelas buruh atau
serta merta kaum Marxis menyalahkan kenyataan yang material tersebut? Sekali
lagi, realitas ini harus dikupas secara seksama untuk mengetahui kelemahan atau
kesalahan. Kebenaran kontradiksi kelas jelas kenyataan maha terang dan tak
terbantahkan, namun mengapa kenyataan politik sering berdialektika lain?
Problematika ini menjadi tantangan bagi segenap kaum Marxis untuk terus
menggali kebenaran sejarah.
Persoalan lain adalah ketegangan antara
gagasan ideologi dan peralatan perjuangan untuk menggapai gagasan tersebut.
Satu dalil lain yang juga diakui oleh semua kaum Marxis adalah satu paparan
yang menyatakan bahwa penyelamatan umat manusia — harapan emansipatif akan kemerdekaan,
kedamaian, kesejahteraan, persaudaraan — sangat tergantung pada kemenangan
kelas buruh sebagai (diktatur) kelas mayoritas. Kelas buruh dan hanya kelas
buruh yang akan menyelamatkan penderitaan manusia, di mana suatu kelas yang
mengambil kekuasaan dengan cara revolusioner dan tidak menginjak-injak kelas di
bawahnya karena mereka duduk dalam piramida kelas paling bawah. Sehingga dengan
demikian, untuk meniadakan penindasan kelas, maka adil kiranya bilamana kelas
buruh yang duduk sebagai pemimpin sejarah. Sebab dalam tatanan kapitalisme,
diktatur minoritas-lah yang berlangsung, tempat segelintir borjuis yang
mengatur segala hal. Sementara dalam realitas pertarungan politiknya,
kemenangan kelas buruh sangat bergantung pada kekuatan partai komunis, dan kekuatan
partai komunis seringkali tergantung pada kolektif, mungkin dalam sentral
committee dan politbiro, sementara politbiro sangat tergantung pada sekumpulan
anggotanya. Dari logika ini mari kita menengok pencapaian Uni Soviet dalam
kekuasaannya. Khususnya semenjak kematian Lenin, yang dipercaya banyak kalangan
juga sebagai kematian komunisme. Pasca Lenin, Stalin naik ke tampuk kekuasaan
setelah berhasil menyingkirkan rival paling tangguh, Trotsky. Kekuasaan Partai
Komunis Rusia yang mengatur segala kehidupan di Rusia, telah mengalami
kemerosotan demokrasi dan ekonomi sedemikian rupa ketika Stalin mencanangkan
Sosialisme dalam satu negara Rusia. Sosialisme dalam satu negara? Aha! Dalil
ini bahkan sangat ditentang oleh Karl Marx sendiri. Apa yang terjadi di Rusia
adalah ketergelinciran ideologis dalam perangkap nasionalisme Rusia. Apalagi
realitas politik internasional seiring dengan pecahnya perang Dunia Kedua
semakin menguatkan sentimen nasionalisme ketimbang komunisme. Maka seiring
Stalin yang berkuasa, komunisme pelan namun pasti menjelma bentuknya dalam
Rusianisme. Dalil nasionalisme atau kenegaraan yang tak pernah diakui oleh Mark
sendiri itu, mengejawantah dengan gamblang di Rusia. Menghadapi kenyataan ini
mungkin saja Karl Marx akan terkaget-kaget dan mengutuk segala aspek yang tolol
dan terkutuk itu dari dalam kuburnya. Komunisme telah merosot di bawah
kekuasaan Stalin dan para penerusnya. Gagasan Marxisme yang cemerlang itu
justru mengalami degenerasi pada putra sulungnya; kaum Marxis di Rusia.
Mengapa putra sulung Marxisme justru
lahir di Rusia? Ini mungkin lelucon sejarah dan mengandung kesalahan
geneologis. Karl Marx sendiri tentu akan geleng-geleng kepala, karena ia
berharap putra-putra terbaiknya akan lahir dan beranak-pinak di lahan paling subur;
negara-negara kapitalis paling maju. Mungkin di Inggris, Amerika Serikat,
Jerman atau Perancis. Namun mengapa justru Rusia? Lenin atau Trotsky mungkin
saja bisa berdalih, “Mari kita putus kapitalisme dari rantai yang paling
lemah.” Pertanyaannya adalah, mengapa memutus dari yang paling lemah? Mengapa
tidak dari yang paling kuat dan sentral? Bagaimana bisa mengobarkan revolusi
proletariat dari negara-negara kapitalis yang masih bocah dan lemah seperti
Kongo, Thailand, India, atau Indonesia? Memang benar, ukuran kapitalisme adalah
ukuran dunia, maka revolusi kelas pun harus mencakup ukuran dunia. Benar juga
apa yang disyairkan dalam lagu persaudaraan kaum Marxis, Internasionale.
Internasionale milik kaum proletar akan berlaku dan jaya di dunia. Penyair-buruh
Eugène Pottier yang menciptakan sajak "Internationale" tepat sebulan
sesudah terjadinya peristiwa berdarah bulan Mei 1871, di Perancis, adalah
corong internasional. Namun memulai revolusi kelas proletar bukan dari negara
subur kapitalis tentu satu hal yang luput diprediksikan oleh Marx sendiri.
Realitas ini menunjukkan ketegangan
paradoksal antara gagasan, bumi perjuangan dan alat perjuangan. Sebuah gagasan
boleh cemerlang, namun kalau dilaksanakan di luar wilayah paling potensial dan
dengan alat perjuangan politik yang keliru tentu mengalami falsifikasi. Dalil
ini pula yang menjadi tantangan segenap Marxis yang sadar dan senantiasa
menguji garis ideologi dengan dialektika kenyataan sejarah. Sebab mungkin saja
bilamana Marx hidup di abad ini, tak mustahil akan merubah beberapa pokok
pemikirannya. Karena pertaruhan Marxisme adalah sikap ilmiah yang terus diuji
di medan kenyataan. Sehingga sangat benar adanya bilamana suatu ideologi harus
tunduk dan bersimpuh di hadapan kenyataan dalam ruang-waktu di kurun sejarah.
Bilamana Marxisme-Leninisme eksis di tahun 1920-an di Rusia, kemudian
di-fotokopi di banyak negara waktu itu, belum tentu ia tangguh di abad mutakhir
kini. Ideologi harus tunduk pada kenyataan karena ideologi dilantik dari
kenyataan dan akan diturunkan juga dalam praktek penataan di dunia kenyataan.
Dan pertaruhan menjadi Marxis adalah iman manusia-manusia tegang yang harus stand
by on fighting antara garis ideologi dan pergerakan berlandaskan kenyataan;
sebagai agenda yang diperuntukan bagi penyelamatan sosial. Mungkin demikian
kandungan iman Marxis, sebagaimana seorang Muslim iman pada Allah SWT,
Katholikus iman pada Yesus Kristus dan para Budhis iman pada Budha Gautama.
Namun masih banyak doktrin keropos dalam
Marxisme dan masih banyak doktrin tegar yang belum terlaksana dalam Marxisme.
Keropos dan tegar merupakan dua ketegangan yang terus bergulat. Dan kupasan
yang mendalam tentu bukan pada tempatnya dalam esai pendek yang hanya untuk
mengusik ‘orang tidur’ ini.
LIMA
Wewenang yang dimiliki seorang Marxis
seringkali disadari sebagai pihak yang mampu membaca tatanan masyarakat dunia
sehingga mereka berwenang menentukan desain atas tatanan masyarakat dunia.
Namun menjadi Marxis di masa kini ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan.
Kerumitan akan segera tampil ke hadapan kita dengan banyaknya varian-varian
Marxisme baik dalam bentuk madzab pemikiran maupun aliran politik yang bermuara
pada faksionalisasi kelompok. Marxisme sekarang ini telah menjadi semacam
galeri besar tempat dipamerkannya berbagai macam gagasan, garis politik,
buku-buku, buletin, majalah, spanduk, T-shirt, poster, pin dan aneka asesoris.
Kesemua barang dan gagasan tersebut konon tetap merujuk pada satu klaim:
Marxisme! Mereka bisa kita deret dalam kelompok kepartaian: Komunis, Sosialis,
Sosial-demokrat, Madzab: Neo-Marxism, Fabianism, sayap-sayap tendensi: Leninis,
Maois, Stalinis, Trotskyis, Spartakis, atau berdasar teritorial:
Austro-Marxism, Euro-Communism dan sebagainya. Masing-masing kelompok mempunyai
tradisi dan memegang tesis kebenarannya sendiri lengkap dengan klaim curriculum
vitae pergerakan yang ampuh-ampuh. Dalam konstelasi Marxisme yang sarat
perpecahan dan konflik internal, kini telah berkembang dalam banyak jurusan di
mana masing-masing membangunan rivalitas sesamanya. Satu kelompok terkadang
memerangi satu kelompok lain dengan cara yang lebih seru ketimbang memerangi
kapitalisme. Inilah satu realitas yang ironis.
Bisa dibayangkan apa yang terjadi bila
cetak biru Marxisme atas desain perubahan dunia sendiri tidak tunggal, namun
mencapai puluhan bahkan ratusan? Dunia yang sudah morat-marit ini tentu semakin
runyam. Lebih runyam lagi dunia kontemporer yang telah berkembang maha kompleks
dengan jutaan warna-warni dan tendensi ini ternyata tidak bisa dijawab hanya
dengan desain tunggal. Dunia tidak bisa lagi dituntun dengan suatu pernyataan,
“Masyarakat harus kita susun hanya dengan jalan sejarah menurut jari telunjuk
kita.” Setiap kelompok boleh saja memegang garis keyakinan sejarahnya, namun
kelompok lain dengan garis yang lain tentu berhak hidup dan memperjuangkan
keyakinannya. Persoalannya hanyalah siapa yang paling tangguh dan menang dalam
pertarungan multi-dimensi untuk menyelenggarakan kekuasaan dengan
sebaik-baiknya. Multi-dimensi tentu bukan garis linier. Sebagaimana Karl Marx
nyatakan, bahwa kenyataan berkembang bukan secara mekanik, melainkan secara
dialektis. Risiko dialektika adalah perkembangan isi dan wajah dunia menjadi
aneka warna, apalagi dalam dunia global tanpa batas. Dan penderitaan umat
manusia kontemporer telah memasuki babak lebih lanjut dari pencapaian
modernisme; dipenuhi pengeringan spiritualitas, krisis identitas, anomali,
konflik manusia antar manusia, masyarakat antar masyarakat, negara melawan
masyarakat, kelas versus kelas, lokal versus global, agama satu
memerangi agama lainnya dan juga bangsa-bangsa.
Judul esai ini, yang merujuk pada kata
‘Marxis’, merupakan upaya untuk keluar dari konstelasi pertentangan dalam tubuh
gerakan kiri itu sendiri, betapapun hal ini mustahil. Tekanan ‘Marxis’ dalam
konteks esai ini adalah mencoba mengembalikan pada semangat pemikiran Marxisme
sebagai sumber ideologi utama yang menginspirasikan spirit pembebasan umat
manusia dari kondisi ketertindasannya.
Sekali lagi, esai ringkas ini hanya berupaya untuk mengembalikan spirit
Marxisme yang berkonteks dengan tatanan sejarah umat manusia yang terus
bergerak maju. Karena keuletan seorang Marxis adalah mereka yang tangguh dalam
mengejar dinamika masyarakat beserta kontradiksinya, mereka yang getol menguji
teori dan praktek secara baru dan konkrit. Bukan hanya mengusung
ideologi-ideologi lama, label-label lama, partai-partai lama atau orang-orang
lama ke pelataran masa kini. Kalau hanya berlaku demikian, saya dengan suka
cita menyebut mereka dengan istilah ‘Marxis primitif’. Segala yang primitif
tentu saja mengandung campur-baur antara sedikit takhayul, sedikit kegilaan,
sedikit kenaifan dan banyak sekali karatan. Kalau mereka tidak segera
menyesuaikan dengan realitas baru, hukum-hukum baru, syarat-syarat perjuangan
baru, niscaya mereka hidup di suatu wilayah terra incognita, yakni
realitas asing yang tak dikenali. Kesesatan revolusioner merupakan pengingkaran
terhadap kenyataan; satu tahap yang bila dikembangbiakkan hanya akan jatuh
dalam jurang nihilisme.
Akhir kata, kegelisahan terbesar seorang pembaharu
adalah mereka yang selalu sadar berdiri di atas lantai peradaban yang kotor dan
rusak; sehingga pesona perubahan yang membersihkan lantai dan merehabilitasi
kerusakan lantai peradaban menjadi pencarian yang paling dalam, intim dan
abadi. Untuk perbaikan dan keluhuran ras manusia, mari kita mencinta manusia
dengan pertaruhkan jiwa-raga. Sebagai yang terakhir, jawab dulu satu pertanyaan
ini. Jangan engkau berbohong! Apakah engkau seorang Marxis. . . . . .? []
Jogjakarta, 24 Desember 2001
(sebagai
hadiah ulang tahun untuk aku)
1
Dikutip dari Frans M. Parera dalam tulisan Seorang Cendekiawan Sebagai Saksi
Sejarah, sebuah kata pengantar dalam buku Surat-Surat Politik Iwan
Simatupang 1964-1966, Penerbit LP3ES, Jakarta, hal. xxix.

0 komentar:
Posting Komentar